17 Desember 2012

Tiada


Maka setiap pagi aku akan melakukan ritual yang sama. Diam menatap jendela, mengumpulkan sisa-sisa ingatan tentang mimpi semalam atau kejadian kemarin. Lalu saat sinar matahari mulai masuk lewat sela-sela jendela, aku harus rela satu per satu memori itu menguap, menjadi tiada.

3 November 2012

Lelaki Kedua


Di antara gerimis sisa.
November.
Terima kasih.
Tidak lama lagi.
Desember akan membawamu pergi.

Lelaki kedua.


16 Oktober 2012

Pulau Kodingareng Keke

Bermula dari rasa rindu menatap laut lepas dan galau pengen menginjak pasir pantai, saya nekat merencanakan perjalanan lintas pulau bareng teman-teman. Kali ini cewek semua: kak Pipi, Abel, Awa, Lara, Athifah, Mitha, kak Nunu, Ayi, Nur, Uthy dan saya sendiri. Pokoknya bukan pulau yang jauh, jadi gak perlu menginap. Juga bukan pulau yang rame, biar bebas berekspresi. Dan dari hasil wawancara dan browsing sana-sini, akhirnya pulau Kodingareng Keke-lah yang ditetapkan menjadi destinasi perjalanan 'nekat' ini.

Jam tujuh pagi, kami bersebelas janjian ngumpul di dermaga penyeberangan Kayu Bangkoa, sekitar pantai Losari. Untuk bisa sampai kempulau Kodinagreng Keke, kami harus menyewa kapal dari sini. Harga sewa kapal tergantung kesepakatan dengan pemiliknya. Kemampuan harus total kita keluarkan biar bisa dikasih harga murah. Untuk urusan ini, saya serahkan ke kak Pipi dan Mitha. Saya hanya membantu seperlunya.

Oke, setelah proses tawar-menawar yang panjang karena pake adegan memelas ala mahasiswa, akhirnya si pemilik kapal bersedia mengantar kami pulang pergi ke pulau tersebut dengan bayaran Rp.400.000 per kapal. Nah, sebenarnya kapasitas kapalnya sendiri bisa memuat 10-12 orang. Namun karena cuaca pagi itu kurang bersahabat alias agak berombak, rombongan terpaksa kami bagi dua sehingga kami harus menyewa 2 kapal.

Sekitar jam 9 pagi, akhirnya kami siap berlayar. Perjalanan ke pulau memakan waktu sekitar 45 menit. Selama itu pula kami disuguhi panorama perairan Makassar yang tidak biasa kami lihat. Juga beberapa pulau yang bisa kami lihat dari atas kapal, di antaranya pulau Lae-lae, Baranglompo, Samalona juga Kodingareng Lompo yang letaknya cukup dekat dari pulau tujuan kami ini.
Dari kejauhan, saya memicingkan mata. Tampak pulau Kodingareng Keke dengan gundukan pasir putih memanjang dan ditumbuhi beberapa pohon saja. Juga dermaga kayu kecil yang menjorok ke arah laut. Sepi. Benar-benar sepi. Pulau Kodingareng Keke seperti tak berpenghuni.


Beberapa saat kemudian, kapal kami pun bersandar di bibir pantai. Alhamdulillah...Rasa capek karena terlalu lama menunggu juga lapar karena belum sarapan, langsung pergi entah kemana ketika kaki kami mulai bersinggungan dengan pasir pantai yang putih. Mata kami melihat sekeliling, hanya ada kami di pulau ini. Tampak beberapa nelayan sedang mencari ikan di sekitar pulau. Lewat cerita dari mulut pemilik kapal, kami akhirnya tahu bahwa dahulu pulau ini sempat berpenghuni. Namun sekarang sudah tidak lagi. Maka jadilah kami seperti pemilik pulau kosong ini.
Turun dari kapal, kami mulai mencari tempat untuk berteduh dan menyimpan barang bawaan. Setelah mengisi perut kosong, kami pun siap menjelajahi tiap jengkal pulau ini dan mengabadikannya dalam gambar. 

1 Oktober 2012

Saudara itu ...

 Saudara itu dekat, saat yang lain jauh...
Aku tidak pernah menyangka kita akan sedekat ini sekarang. Tidak sama sekali. Bahkan ketika awal perjumpaan kita di masjid itu. Kemudian berlanjut dimana-mana. Pinggir pantai, padang ilalang, tepian sungai, tempat makan, layar lebar, hotel mewah, rumah sederhana, tenda pleton, perahu karet, pelataran benteng. Kecuali satu yang entah kapan: puncak gunung. 

Saudara itu menguatkan, saat yang lain lemah...
"Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu!" Kata-kata andalan kita. Karena kita sama tahu bahwa apapun yang pernah datang dalam kehidupan dan membuat kita jatuh, Allah hanya akan membersamai orang-orang yang sabar. Bukan orang yang putus asa, atau bahkan lari.

Saudara itu mengingatkan, saat yang lain lupa...
Saat itu menjelang petang. Kau mengingatkanku. Bukan hanya hari itu, tapi juga pada banyak hari sebelum dan sesudahnya. "Untuk kalian yang pergi dengan meninggalkan ruang kosong di hati. Terima kasih. Tanpa sadar, kalian telah mengajari kami tentang ketulusan." Ya, kau mengingatkanku untuk berterima kasih. Pada mereka.

Saudara itu menenangkan, saat yang lain gelisah...
"Semoga semua perasaan baik-baik saja." Walau aku sendiri tak tahu, tapi setidaknya jawaban "Pasti!!!"-mu dulu itu cukup membuatku tenang. Mungkin kau perlu membaca deretan kata-kata ini : "Karena perasaan itu tidak konstan, bahkan batu sekalipun. Waktu akan memaksanya berubah sesuai ruang yang ditempatinya. Dan itu karena satu hal kak, pertemuan." Seorang adik lelaki pernah meyakinkanku begitu, dan kurasa aku sepakat dengannya.

Saudara itu selalu mengharap kebaikan untuk saudaranya yang lain...

Hari miladku, sepenggal doamu tertulis. "Semoga menjadi lebih baik dan tetaplah menjadi cahaya pendar di setiap keberadaanmu." Aku sedang berusaha mewujudkan kalimat doamu itu agar menjadi nyata.

Hari ini, hari miladmu. Banyak harapan yang kuterbangkan ke langit. Semoga kelak surga Allah menjadi milik kita, juga saudara-saudara kita dengan segala kekhasan yang kita punya dan perjuangan yang kita lakukan.

)|(

Sakiya Musta'inah. Gadis suci yang senantiasa meminta pertolongan (pada Allah). Barusan saja aku iseng mencari makna namamu. Entah, apa ini sama dengan maksud pemberian orang tuamu. Semoga saja. Barakallah kakak :)

26 September 2012

Ada apa dengan hatimu, wahai sahabat Anshar?

"Sepertinya Rasulullah SAW sudah kembali menemukan kaumnya..."

Ini cerita tentang suasana jiwa, sebuah situasi perasaan yang sedang dilanda ujian cinta dan harta pada sebagian sahabat senior, yaitu sahabat anshar di akhir episode perang Hunain & bani hawazin tahun 8 Hijriah.

Tidak ada ghanimah yang tersisa disisi Rasulullah SAW kecuali semuanya habis dibagikan kepada hampir 2000 para muallaf dari penduduk Makkah yang ikut dalam perang tersebut, yang usia keislamannya baru seumur jagung.

240.000 ekor unta dibagikan kepada mereka semuanya, bahkan Abu sufyan mendapatkan 100 unta,dan ketika dia meminta jatah juga untuk anaknya muawiyyah, maka Nabipun memberikan 100 unta . Semuanya berebut, Sampai-sampai mereka mengerumuni Nabi dan beliau terdesak sampai menyandar diuntanya, dan beliau mengucapkan tidak akan ada yang aku sisakan kecuali akan kuberikan kepada kalian semua.

Mulailah 'penyakit hati' itu datang, pelan, cepat dan berhembus sangat dahsyat menghinggapi relung jiwa sahabat Anshar. Mereka merasa Nabi telah melupakan "jasa" mereka selama ini, sepertinya Nabi telah condong kepada kaumnya Quraisy di Makkah, hingga tak satupun harta ganimah itu dibagikan kepada sahabat Anshar. Tak satupun.

Kasak kusukpun terjadi, para sahabat Ansar berkumpul dikemah mereka, membicarakan pemandangan yang membuat hati mereka teriris sembilu. Kabar itupun sampai ke telinga Rasulullah SAW, dan beliau mendatangi tokoh sahabat Anshar Sa'ad bin Mua'dz. Terjadillah dialog pertanyaan antara beliau dgn Sa'ad.

"Wahai Sa'ad aku mendengar perihal diriku oleh kaummu tentang begini dan begini. Apa betul itu wahai Sa'ad?"
"Betul, Ya Rasulullah."
"Lantas, bagaimana menurut pendapatmu?"
Terdiam Sa'ad dan kembali menjawab,"Aku tidak mungkin menyalahi kaumku,aku sependapat dengan mereka".
Bagi Nabi jawaban Sa'ad sudahlah cukup mewakili yang lain. Betapa sedihnya Nabi mendengar jawaban Sa'ad. Kemudian beliau bersabda,"Wahai Sa'ad setelah sholat Isya kumpulkanlah semua sahabat Anshar di belakang kandang kambing ini".

Wajah mereka semuanya dingin ditambah tiupan angin malam yang menepis tipis wajah dan badan mereka ditengah kegelapan malam. Kemudian nabi muncul ditengah mereka, beliau menatap semua sahabat Anshar yang ada saat itu. Mereka diam seribu bahasa tidak ada yang mau mulai bicara. Kemudian Rasulullah SAW berkata dengan suaranya yang khas:
"Dengarkanlah semua wahai sahabat Anshar, jika kalian bisa mengatakan sekarang kepadaku, maka kalian bisa saja mengatakan seperti ini kepadaku, "wahai Muhammad disaat engkau diusir dari Makkah, kamilah yang menerimamu, disaat engkau diingkari oleh kaummu, maka kamilah yang mengimanimu, disaat engkau dimusuhi kaummu maka kamilah yang menolongmu !"

Subhanallah, Allah Akbar. Betapa beliau memulai dengan bahasa komunikasi yang seolah-olah orang Anshar yang bicara, mulai air mata sahabat Anshar bercucuran.

"Wahai Sahabat Anshar!!! aku telah ridho atas keimanan kalian, aku tidak pernah ragu kepada kalian, apakah kalian rela melihat mereka pulang ke Makkah membawa unta dan harta, padahal dengan harta itu aku ingin menjinakkan mereka, sedangkan kalian pulang ke Madinah membawa Allah dan Rasul-Nya!!"

Suara tangisan semakin keras, sahabat Muhajirin dari kejauhan hanya mendengar seperti suara lebah yang bergemuruh.

"Ya Allah muliakanlah orang Anshar. Sekiranya ada satu golongan yang berjalan melewati sebuah bukit dan satu golongan Anshar melewati bukit yang lain, maka demi Allah, aku akan mengikuti jalannya orang Anshar."

Sa'ad bin Mu'adz menangis air matanya mengalir deras membasahi janggutnya, betapa mereka telah berburuk sangka dengan Rasulullah SAW. Betapa tertipunya mereka dengan harta disaat da'wah sudah memperlihatkan buahnya.


Balikpapan, tempat praktek
gelisah,"karena mungkin senior memiliki penyakit senioritas"
--drg. Sukhri Wahid

21 September 2012

Kosong

Triangulasi Bawakaraeng

kau lihat langit dengan awan kapas di atas sana?
sampai detik ini aku masih tak tahu, apa aku benar-benar menyukai dia seutuhnya?

aku mungkin mengagumi cerahnya,
tapi kadang enggan melihat kelabunya.
**

enambelaskosongsembilan,lainkalibawahati.

8 September 2012

Will You?

Bunga di Tepi Danau Unhas (photo by clk7)

Pada suatu hari yang lalu, aku pernah bertanya pada kalian, "apakah kalian akan menikah dengan orang yang kalian cintai?" Bukan pertanyaan serius menurutku. Aku lalu diam, sambil terus memainkan X2 putih di tanganku.

Tapi, entah apa yang ada di pikiran kalian saat itu. Mungkin kalian menganggapku aneh, atau bagaimana. Ada jeda cukup lama. Kurasa kalian sibuk merangkai jawaban yang kelak harus kalian pertanggungjawabkan di kemudian hari.

"Aku akan mencintai orang yang kunikahi," kata salah seorang dari kalian, tiba-tiba. Masih kuingat, tak ada keraguan yang kutangkap dari kalimatnya saat itu. 

Sementara sebagian yang lain berkata, "Aku, tentu akan menikah dengan orang yang kucintai."

Aku berhenti, memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri.

*cerita pagi, di depan ruangbiru

6 September 2012

Pernikahan


Tuhan yang maha mengetahui rahasia waktu;

Kami tak pernah sanggup meraba hari esok--bahkan apa yang akan terjadi satu atau dua jam lagi, kami tak tahu. Waktu serupa misteri--rahasia yang selalu memesona. Kami tahu, kami tak dibekali pengetahuan tentang apapun yang misteri, kecuali sedikit--yang bahkan kepala kami terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu. Kami sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi besok? Kami tak tahu. Kami tak pernah benar-benar tahu. Sungguh. Kaulah yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Kaulah yang maha mengetahui segala peristiwa, semua lipatan waktu. Kalau boleh kami meminta; izinkanlah esok memercikkan cahaya--yang sanggup menumbuhkan cinta di hati kami berdua, meski sedikit dari cahaya-Mu--bahkan bukankah seluruh semesta terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu?

Tuhan yang maha mengatur segala sesuatu;

Kami tak sanggup membaca peta waktumu, menduga miliaran kemungkinan dalam irama takdirmu. Bahkan menghapal peristiwa dari ratusan tanggal dalam kalender pun kami tak mampu. Milik-Mu-lah segala perhitungan, rahasia yang selalu mempesona. Kami tahu, kami tak diberi kuasa untuk memilih dan menentukan masa depan, kecuali memutuskan apa yang ingin kami perbuat hari ini--yang seringkali kami lakukan secara sembarangan dan keliru-keliru. Maka bimbinglah, percikkanlah cahaya-Mu pada mata kesadaran kami yang buta. Bentangkanlah jalan rahmat dan kasih bagi langkah-langkah yang akan kami pilih. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala kemungkinan takdir-Mu. Kalau boleh kami meminta, tumbuhkanlah sayap di punggung kami berdua--lalu berilah kami kemampuan untuk terbang melampaui segala hal yang menyulitkan, segala hal yang memberatkan.

2 September 2012

Buzzer Beat!


Malam.
Purnama.
Lapangan.

Lari.
Lompat.
Liar.
Lempar.
Seterusnya.

Hingga detik ini, belum lagi kudengar kabarmu.
Tetap menunggu?
Atau bagaimana?

Bola masuk.

Cukup! Aku lelah.

31 Agustus 2012

Ujung Jalan Setapak Kesembilan

Pulau Lakkang (photo by emi)

sudah di ujung jalan setapak ke-sembilan.
langkah bersama akan hilang tak terdengar, berganti tapak sendiri.
tidak lama, kau dan aku pasti terbiasa.

"selamat tinggal!", seruku.
oh tidak, kurasa kau yang lebih berhak mengatakannya.

17 Agustus 2012

Ramadhan #2 : Menangkap Senyuman

Alhamdulillah...
Seperti Ramadhan sebelumnya, kemarin saya bareng teman-teman dari Blog of Friendship mengadakan acara ifthor jama'i. Bukan lagi dengan anak jalanan seperti tahun lalu, tetapi dengan anak panti asuhan, yang letaknya cukup jauh yaitu di daerah Sudiang.

Mengenai persiapan acara ini sebenarnya sudah direncanakan sejak awal Ramadhan. Melalui diskusi panjang di facebook, akhirnya kami menyepakati teknis pelaksanaan acara. Mulai dari konsep acara, dana, konsumsi sampai ke pengisi acara. Oiya, sebelumnya saya sempat pesimis mengenai jumlah Bloofers (sebutan untuk anggota Bloof) yang bisa berpartisipasi di acara ini, karena sekarang ini sudah mulai musim liburan dan rata-rata mereka sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Namun pada kenyataannya, tidak begitu saudara-saudara.

Siang itu, satu per satu kami datang ke panti asuhan. Sementara disana, sekitar 50 anak telah menanti kedatangan kami. Yap, agenda pertama diawali perkenalan Bloof dan anggotanya. Setelah itu, Emi berbagi ilmu tentang cara membuat kamera sendiri tanpa harus mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah. Namanya kamera lubang jarum. Dilanjutkan oleh Atun yang mengenalkan adik-adik dengan dunia tulis menulis. Di sela-sela acara, ada juga hadiah yang dibagikan untuk mereka yang memiliki hasil karya terbaik. Kemudian diakhiri dengan ceramah singkat oleh ustadz dadakan Ilham, sampai menjelang waktu berbuka puasa.

Emi lagi menjelaskan cara membuat Kamera Lubang Jarum
Serius mendengarkan materi

Namanya Abdullah, menderita hydrocephalus. Harus pake tabung oxy kemana-mana :(

Shalat maghrib berjama'ah

Buka puasaaa... ^^

Uthy-Ulfa-Khaulah-Azizah-Amma

Azizah berpesan, "tingkatkan Blog of Friendship-nya, jangan ikut dampak negatif arus globalisasi"

Menangkap senyuman Ulfa dan Khaulah :)
Foto bareng (versi cowok)
Foto bareng (versi cewek)
Silaturahim ke panti asuhan kemarin, pastinya mengajarkan kita semua tentang banyak hal. Arti bersyukur, berbagi juga belajar peka terhadap orang-orang di sekitar. Hal-hal yang dianggap mudah dalam teori, namun teramat sulit dalam aplikasi.

Dan kebersamaan, tentu saja selalu membawa kebahagiaan pada masing diri kita. Yang mampu memaksa kita untuk tersenyum lebar, walau sesulit apapun kehidupan yang kita jalani. Yang membuat kita untuk terus memberi, karena memberi sejatinya adalah menambah bukan mengurangi.

Akhir kata, terima kasih buat teman-teman dan para donatur yang sudah mau ikut berbagi dalam kegiatan ini. Juga yang memberikan dukungan dan semangat lewat grup maupun sms. Semoga Allah memberkahi dan membalas kebaikan kalian dengan balasan yang lebih baik lagi. 

Terima kasih juga buat ketua panitia (Uchank), MC (Aisyah), pemateri (Emi dan Atun), yang komunikasi dengan pihak panti (Uthy dan Awa), yang sibuk mendata peserta (kak Pipi), yang sibuk mikir konsep acara (Arya), yang pergi beli hadiah (Epe), yang pesan makanan (Mirna dan kak Nunu), yang jadi penceramah dadakan (Ilham), yang motret-motret (Chaerul), yang oper-oper es buah (kak Arman, Fadhli dan Gafur), yang standby difoto (Amel dan Amma, haha...), Athifah, Wahyudin, Adi, dan tidak ketinggalan tamu jauh dari Kalimantan, Lathifah. Acara kemarin seru dengan kehadiran kalian.
***

:: tertanda, saya mewakili mereka
Bloofers Makassar

5 Agustus 2012

*abaikan postingan ini


eng ing eng !!
ini dia masterpiece dua tahun lalu. akhirnya nemu lagi karya ini diantara tumpukan editan foto 'gak jelas'. gambar ini dibikin pas saya lagi mengidap jenuh akut tingkat tinggi gegara kuliah yang parah.

well, masuk kampus itu sama sekali gak susah.
yang susah itu, bagaimana caranya untuk keluar. hahaha... XD

3 Agustus 2012

Merah-Putih


menangguhkan puncak yang satu
demi puncak yang lain
maafkan aku, merah-putih
[06.30 - ruangbiru]

25 Juli 2012

Ramadhan #1 : Puasa dan Doa

"Tiga kelompok manusia yang tidak ditolak doa mereka : orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang terzhalimi."
[Rasulullah - HR. Tirmidzi]

Lihatlah kedekatan dua ibadah ini dalam sabda Rasulullah diatas. Maka apalagi hal yang membuat kita ragu untuk berdoa, sementara sudah ada jaminan bahwa doa kita tidak akan tertolak.

Adalah Umar bin Khattab ra. tidak pernah memikirkan apakah doanya dikabulkan oleh Allah atau tidak. Karena baginya ia sudah menjalankan syarat sebuah permintaan dikabulkan yaitu berdoa itu sendiri. Kata Umar bin Khattab, "Saya tidak berpikir tentang pengabulan doa. Saya hanya berpikir untuk terus berdoa."

Maka mintalah apa saja dari Allah, karena doa bukan sekadar ibadah. Tapi lebih dari itu, doa adalah kebutuhan. Karena kita sebagai manusia biasa, tak mungkin hidup tanpa penopang dan tanpa Allah.


Mintalah agar Allah memberkahi kehidupan kita.
Mintalah agar Allah memudahkan kita meraih ridha dan petunjuk-Nya.
Mintalah agar Allah memudahkan kita saat menjelang kematian.
Mintalah pada Allah untuk memasukkan kita sebagai ahli surga dan menjauhkan kita dari siksaan neraka.
Mintalah agar Allah memudahkan setiap urusan kita.
Mintalah pada Allah agar pada Ramadhan berikutnya, kita dapat berdoa di hadapan Baitullah.
Mintalah apa saja yang kita inginkan dari Allah.

Karena sesuai firman-Nya, "Ud'uuni astajib lakum".
Mintalah kepada-Ku, Aku pasti akan menjawab permintaanmu.

Mari perbanyak doa!


21 Juli 2012

Bulan Rindu

Sebelas bulan yang lalu...
Menjelang detik-detik perpisahan denganmu, mungkin agak aneh jika kusebut ini gelisah.

Lalu pada suatu hari...
Terkadang, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba aku teringat padamu. Saat melihat langit, saat mendengar suara-suara, saat merasakan hembusan angin, juga saat mencium bau bunga sedap malam di depan jalan. Apa Tuhan masih akan berbaik hati untuk mempertemukan kita lagi? 

Baru saja...
Aku mendengar suara langkah kaki di ujung jalan sana. Kaukah itu?

Tunggu, ada yang ingin kutunjukkan padamu. Ini rindu yang sejak lama kusimpan pada apapun yang pernah dan akan membuatku jatuh cinta padamu, sekali lagi. Kuharap cukup untuk membuatmu bertahan menemaniku disini, setidaknya sampai bulan baru muncul lagi.


***

Terima kasih telah selalu menyediakan siang terik bermiliar pahala. Terima kasih telah selalu membentangkan malam doa yang meluas angkasa. Terima kasih telah selalu menjadi bulan seribu bulan—yang membuatmu tak pernah selesai kami hitung untuk menentukan malam permulaan dan penghabisan. Terima kasih telah selalu datang dan pergi dengan senang hati, tanpa mempedulikan kemunafikan, kemaksiatan, dan kebebalan kami.

[Ramadhan - Fahd Djibran]

:: akhirnya kita bertemu lagi, Ramadhan

21 Juni 2012

Pada Juni


pada Juni, ada bahagia yang memancar dari wajah yang menanti sepanjang tahun
pada Juni, ada air mata yang mengalir di antara sujud panjang
pada Juni, ada kenangan yang berlari jauh dari ingatan, semakin memburam
pada Juni, ada amarah yang memerah, membiru lalu menghitam
pada Juni, ada harapan yang terselip pada rapal kata sederhana dari mereka yang istimewa
pada Juni, ada rindu yang terpendam untuk sebuah tanah di bumi

dan pada Juni, tentu saja ada cinta

...yang untuk kesekian kalinya, masih milikmu!

21 Mei 2012

Galaksi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah Itu Mati ?



Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta :
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.
Berhati-hatilah ..
Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat. Menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua orang berpikir hidupmu telah sempurna.
Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah .. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.
***

"Jangan kau ajari cara melupakanmu. Aku lebih tahu itu. Hari-hariku lebih fasih mengeja rasa itu. Sekuat apapun ku mencoba, tetap saja...aku rindu."
[Kinanthi]
***
"Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, kamu lihat aja ke langit sana, Thi. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat. Namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ."
[Ajuj]
***
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan saat perasaanmu begitu terikat kepada seseorang?"
"Bukan karena kamu tidak bisa menyatu dengan dia maka kamu akan merasa hidupmu begitu nestapa. Sesuatu yang lebih meluluhlantakkan hatimu adalah ketika seseorang yang menyandera kemampuanmu untuk memiliki itu tak melibatkan lagi namamu dalam hidupnya, tidak mengingat tanggal lahirmu, tidak mengucapkan apa pun ketika datang tahun baru, bahkan tidak mengirimkan pesan basa-basi pada hari perayaan agamamu. Kamu tidak terlibat sama sekali dalam hidupnya. Bahkan, sekadar untuk diingat."
[Kinanthi]
***
"Sebab, tidak ada yang membuatmu begitu penasaran selain perasaan seseorang yang engkau menyimpan sayang kepadanya."
[Ajuj]
***
"... sejauh mana sebuah cinta harus diperjuangkan, atau justru perjuangan itu harus dilakukan dalam diam."
[Kinanthi]
***
"Tersenyumlah... Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu."
[Ajuj]

--- a novel by Tasaro GK ---

17 Mei 2012

Dare to Hajj



saya niat mengunjungi Baitullah pada Dzulhijjah 1440H!

mohon doa saudara2 sekalian :)



#daretohajj
[status facebook, 17 mei 2012 / 25 jumadil akhir 1433 H]

***

karena ibadah harus selalu diawali dengan niat, maka saya meniatkan hal ini, mulai detik ini.
karena kelak haji inilah yang akan menggenapkan 'islam' saya.
karena saya merasa 'mampu', maka Allah pasti akan memudahkan langkah saya padaNya.
karena bagaimanapun keadaannya, kerinduan pada tanah itu HARUS SELALU ADA.

terhitung 7 tahun sejak saat ini, saya akan menjejak disana!
(semoga bisa mengajak serta mama dan papa, aamiin..)

labbaik allahumma labbaik
labbaik 'alaa syarika laka labbaik
innal hamda wanni'mata laka walmulk..laa syarika lak

15 Mei 2012

Memória


Hari ini, kudapati diriku terjebak dalam rasa melankolik. Tidak, bukan hanya hari ini sebenarnya, tapi sejak hari-hari yang lalu. Ada yang hilang, jelas. Dan kita sama sadar bahwa kesalahan masa lalu lah yang membuat keadaan menjadi seperti ini.

Maafkan aku, tapi entah mengapa aku hanya ingin mengenang tentangmu saja hari ini. Seseorang yang pernah kubuat bahagia juga kecewa dalam interval waktu yang tak cukup lama. Setahuku dulu kau terlampau sering mengakrabi hidupku dalam lembar-lembar mayaku. Namun, kali ini aku tak begitu yakin kau akan membaca tulisan panjang ini. Tentu saja, ini bukanlah hal penting lagi bagimu.

Walau begitu, aku tetap akan mencoba memanggil sebagian kenanganku bersamamu. Tak lagi pantas menyebutnya sebagai kenangan kita, karena bagimu kata 'kita' sudah tak bermakna apa-apa lagi. Maka biarkan aku saja yang menggali ingatanku tentangmu. Itu saja cukup, bagiku.

Masih ingat pada suatu malam kau memintaku datang lalu kita duduk di atas tanggul dan mulai bercerita banyak tentang banyak hal. Mulai dari kau, aku, keluarga, kampus dan kehidupan kita. Malam itu, kita duduk berkawan bulan yang tampakannya tak lagi utuh. Langit semakin kelam namun lucu rasanya, karena kita memutuskan baru akan selesai bercerita ketika bulan tenggelam di kaki langit.

Setelah itu, kita kembali ke rumah masing-masing. Semua kembali semula, layaknya tak ada yang pernah terjadi. Lama, kita berdua tak pernah mengungkitnya lagi. 

14 Mei 2012

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)


"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung,
dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung,
Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani"
[terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang]
***
suatu jum'at bertanggal tiga belas.

cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia!

ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi.
***

13 April 2012

langit
bintang
malam
dingin
rasanya seperti bertemu yang terkasih

bahagia!

-otw malakaji

9 April 2012

Menjaga, Lebih Utama


Karena zina seringkali datang dari cinta, dan cinta selalu membuat kita iba, dan syaithan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintaiNya.
#Imam Syafi'i

Ketika datang ujian perasaan, hati, cinta, dan kedekatan dengan lawan jenis, maka pilihannya adalah menjaga, menjaga, dan menjaga. Karena ada tanggung jawab pada setiap perasaan yang menyelinap dalam hatimu.

Kamu lebih berhak memilih tentang pilihan yang ada padamu. Namun ingatlah bahwa menjaga jauh lebih utama.
#Aditya

Menurutku, lebih baik menjaga saja ^__^
#CLk7

31 Maret 2012

21 Maret 2012

Kita yang Mencintainya

di antara gerimis malam ini akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkannya, setelah tujuh tahun bersama. ada apa? apa kau tak lagi mencintainya? aku tahu, ada beberapa hal yang terjadi di antara kalian belakangan ini tersebab kehadiran seseorang yang 'lain'. tapi, apa harus begini akhir kisah kalian?  

aku sebagai seseorang yang juga mencintainya, sebenarnya jauh lebih tidak paham tentang akar masalah ini. aku hanya orang baru, sementara kalian sudah terlalu lama bersama. dan aku yakin sebesar apapun aku mencintainya, rasamu padanya pasti jauh lebih besar dan lebih dalam. namun keputusanmu ini, masih terlampau jauh dari akalku. 

tentang rasa itu pun, aku tidak bisa pungkiri. selama empat tahun terakhir, setiap hari kudapati diriku semakin mencintainya. maka akan menjadi lebih sulit dibayangkan, seberapa dalam rasa yang kau miliki terhadapnya? di waktu yang dulu kau pernah berkata, 'orang yang cinta akan menjaga'. aku pun bertanya-tanya, beginikah bentuk penjagaanmu? sungguh, aku bingung. kuharap kau bersedia menjelaskan hal ini padaku, secara perlahan, suatu hari nanti.

nyatanya, sekeras apapun usahaku, aku tetap gagal meyakinkanmu untuk bertahan. kau, dengan segala ke'aku'anmu, akhirnya mengambil keputusan untuk  pergi darinya. hal yang mungkin akan kau sesali suatu hari kelak, atau justru yang aku sesali karena tak mengambil langkah yang sama denganmu. entah, soal ini hanya Tuhan yang tahu.

tapi satu hal, kumohon tetap yakinkan aku untuk terus membersamainya. karena aku mencintainya, sama sepertimu.

banyak cerita masa lalu yang akan terukir hari ini. itu kata terakhirmu. 

lewat tengah malam di ruang biru
--- aku cinta dia, juga kau

16 Maret 2012

(..........)

tiba-tiba datang lagi
diawali pesan kosong
kemudian berkata 'seperti hatiku'

selamat merindu

15 Maret 2012

Mereka yang Menolak

Jelang 1 April, semakin banyak manusia yang bermonolog di jalan-jalan kota. Berpeluh keringat dan asap timbal menempel di kulit, mereka menyuarakan tuntutan. Walau mereka tak sepenuhnya yakin, tapi mereka hanya ingin didengar. Oleh orang lalu-lalang yang sibuk mengomel dari atas kendaraan mereka. Oleh media yang diharapkan menyajikan realita bahwa mereka akan semakin menderita. Oleh jutaan penduduk negeri ini yang berusaha mereka wakili aspirasinya lewat aksi demonstrasi. Terkhusus oleh Tuan Bangsa yang tengah menutup mata telinga akan fakta tentang rakyat yang semakin sengsara tiap harinya.

Kepada kalian, tolong dengar suara mereka!



(foto: CLk7)

14 Maret 2012

Puisi untuk Azalea

Azalea, jika aku datang padamu hanya sebagai bait-bait kata dalam surat yang gelisah dan membosankan, yang membuatmu terpaksa harus mengenang lagi masa lalu cinta kita yang indah, dan kepergianku yang menyisakan lubang nyeri di hatimu, maafkan aku- sebab sejauh itulah keberanianku.

Tak perlu kau mengubah apapun lagi tentang perasaanmu. Biarlah semuanya berjalan, tanpa rekayasa. Di depan, kita akan dialirkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan.

Maafkan aku yang telah menyalakan kembali cahaya lampau, hingga laron-laron menyebalkan datang mengusik ketenanganmu. Aku hanya ingin bercerita, Azalea, seperti biasa. Melunasi hutangku pada waktu, mengubah senja menjadi lebih lapang.

Azalea, jika aku datang padamu sebagai angin, menceritakan perjalanan panjang mengarungi musim, aku hanyalah angin yang datang dan akan kembali pergi. Seperti gerimis yang sebentar, menyapamu dari jendela kaca, bercerita tentang labirin kenangan, lalu aku akan kembali menghapus jejak pulang, menyamarkan alamat-alamat dalam surat.

Azalea, jika suatu saat aku datang lagi, aku berjanji akan menjadi orang lain yang bersembunyi mengakrabi alis matamu, dari jauh menikmati sepasang matamu menjelma dua hulu sungai di hatiku.

Azalea, aku masih mengenang senyummu melalui gambar gadis manis yang tersenyum, dalam kalender di kamar tidurku, itu cukup. Sebab sebatas itulah keberanianku.

Azalea, aku menyesal dan minta maaf. Sebab kepergian, lambaian tangan atau salam perpisahan memang selalu seperti tak punya perasaan. Apalagi bagiku, yang melakukannya tanpa pesan.

Lalu waktu, semua akan berlalu. Yang tersisa tinggal kenangan.

Setidaknya, aku masih memiliki dua hal: perjalanan dan kenangan. Itu cukup, Azalea, melebihi apapun.

(sumber: disini)

>> untuk seseorang yang (mungkin saja) membacanya.

Seribu Malam untuk Muhammad


“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.


“Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat—aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya.

Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau—tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” katanya seperti mengulang pertanyaan pertamanya.

“Aku tak tahu,” aku menjawabnya dengan kata-kata yang sama.

Lalu ia memberiku minuman. Ia seolah tahu bahwa tenggerokonku terasa menyempit, haus yang hampir membakar rongga mulutku. Ia menyodorkan sebuah cawan berisi air yang dingin dan jernih… “Minumlah,” katanya, “kau sangat membutuhkannya.” Lagi-lagi, ia tersenyum.

Aku pun segera meminumnya. Ada dingin yang mengalir di tenggorokanku, mengalir menjadi damai di hatiku, membebaskan sel-sel hidupku yang sempit. Aku merasakan air itu mulai menghidupkan lagi sel-sel yang mulai mati di tubuhku—aku merasakan kesegaran yang membebaskan, sesuatu yang membuat matahati dan pikiranku begitu terbuka. Lalu langit meredup-teduh, awan diarak pelan-pelan, angin menerbangkan helai-helai daun yang kering, rumput-rumput bersemi, bunga-bunga mekar—wewangian yang membebaskan segala bentuk penderitaan.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.“

Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melemparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.

Apakah yang lebih besar daripada iman? Bisik hatiku. Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman? Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh… terus menjauh. Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kataku dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya.

Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi… aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh… menjelma sunyi, meninggalkanku.



Seribu Malam untuk Muhammad, Fahd Djibran, halaman 7

11 Maret 2012

Dari Mata

kita sama tahu
semua kisah ini bisa ada
karena pada hari yang lalu,
kita pernah dengan sengaja mempertemukan masing mata kita

#mulai sekarang, jangan tatap saya seperti itu lagi

10 Maret 2012

u.m.a.k

tunggu dulu!
ada apa dengan ingatanku?
kenapa bagian tentangmu selalu ter-playback melulu...

17 Februari 2012

Egg's Expression

ternyata bukan cuma manusia yang rasis, telur juga.

nape lo liat-liat?
eh item, ngapain lo disini?
aduh maap, kayanya gue salah tempat 

ngeliat ekspresi mereka, berasa empati banget T.T

hueeekk ... >,<
hidup gue gak lama lagi..
maap, kami gak bisa berbuat apa2 :(

16 Februari 2012

Hak yang Terlupakan

dalam hidup, kadang kita lupa bahwa pada diri kita ada hak orang lain yang terdapat di dalamnya. terlebih lagi jika kita adalah seorang muslim, maka tentu saja ada hak saudara kita yang wajib kita penuhi. apa saja hak-hak mereka yang kadang terlupakan itu?


dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: 

"Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundang/memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberimu rahmat); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)".
[HR. Muslim]


1. bila engkau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam
tak ada salam yang lebih baik dan lebih indah selain "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". didalamnya terdapat doa yang akan menumbuhkan kecintaan. dimana yang mendahului salam akan diberi pahala sunah, sedang yang menjawabnya dengan yang serupa atau bahkan dengan yang lebih baik akan diganjar pahala wajib. salam yang dengannya Allah menggugurkan dosa keduanya sejak mereka bertemu sampai kemudian mereka berpisah. 

2. bila ia mengundang/memanggilmu, penuhilah
hendaknya kita menghadiri setiap undangan yang ditujukan kepada kita. karena dengan kedatangan kita, maka akan menyenangkan hati tuan rumah. adapun jika kita merasa berhalangan dalam menghadirinya, hendaklah disampaikan agar tidak menimbulkan kekecewaan. satu hal yang kadang tidak diperhatikan, bahwa menghadiri undangan dimana kita tidak diundang didalamnya, maka Rasulullah mengibaratkannya seperti pencuri.

3. bila dia meminta nasehat kepadamu, nasehatilah
memberi nasehat bukanlah berarti kita lebih tahu atau lebih baik dari orang lain. memberi nasehat tidaklah sama dengan menggurui. memberi nasehat sama halnya saling mengingatkan. sebagaimana tangan yang menunjuk, satu jari mengarah pada orang lain sementara empat jari lainnya mengarah pada diri sendiri. maka jika ada yang meminta nasehat, maka nasehatilah.

4. bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, bacalah yarhamukallah
jika seseorang bersin kemudian memuji Allah dengan mengucap 'alhamdulillah - segala puji bagi Allah', maka hendaknya kita mendoakannya dengan mengucap 'yarhamukallah - semoga Allah memberimu rahmat". saat mendapatkan doa rahmat, hendaknya orang yang bersin tadi mendoakan kembali dengan mengucap "yahdiikumullah wa yushlihubaalakum - semoga Allah memberi kita petunjuk dan memperbaiki keadaanmu".

5. bila dia sakit, jenguklah
Rasulullah mengajarkan untuk menjenguk orang sakit, walaupun hanya sakit ringan, seperti beliau saw yang menjenguk sahabat yang sedang sakit mata. dengan menjenguk saudara yang sakit, kita dapat meringankan beban derita sekaligus menghiburnya. keutamaan lainnya, orang yang menjenguk akan didoakan oleh 70.000 malaikat dari pagi sampai sore ataupun dari sore sampai pagi kembali. subhanallah! ketika menjenguk, hendaklah kita berdoa "Yaa Rabban naas, adzhibil ba'sa, isyfi anta syaafi', laa syifaa-an illa syifaauka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman" yang berarti "Wahai Tuhan manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembuhkanlah ia, (hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi."

6. bila dia meninggal dunia, hantarkanlah (jenazahnya)
hubungan silaturahmi hendaknya dibina bukan hanya pada saat kita masih sama-sama hidup, tetapi juga ketika salah satu saudara kita meninggal dunia. maka dengan mengikuti prosesi penyelenggaraan jenazah dan berta'ziyah kepada keluarga yang ditinggalkan akan memberikan dukungan moril sekaligus menghibur. adapun keutamaannya seperti yang disabdakan Rasulullah "barang siapa yang menghadiri jenazah, menyalatkan dan mendoakannya, akan mendapat pahala 1 qirath. barang siapa menyalatkan dan mengiringi sampai pemakaman akan memperoleh 2 qirath. ada yang bertanya apa itu 2 qirath? Rasulullah menjawab, seperti 2 buah gunung yang besar." 

maka mari kita saling menjaga hak saudara agar jangan sampai di hari akhir kelak, saudara kita mengadukan kita kepada Allah karena merasa haknya diabaikan oleh diri kita. na'udzubillah min dzalik.

wallahu 'alam bish shawab...

.: gambar dari berbagai sumber