31 Maret 2012

21 Maret 2012

Kita yang Mencintainya

di antara gerimis malam ini akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkannya, setelah tujuh tahun bersama. ada apa? apa kau tak lagi mencintainya? aku tahu, ada beberapa hal yang terjadi di antara kalian belakangan ini tersebab kehadiran seseorang yang 'lain'. tapi, apa harus begini akhir kisah kalian?  

aku sebagai seseorang yang juga mencintainya, sebenarnya jauh lebih tidak paham tentang akar masalah ini. aku hanya orang baru, sementara kalian sudah terlalu lama bersama. dan aku yakin sebesar apapun aku mencintainya, rasamu padanya pasti jauh lebih besar dan lebih dalam. namun keputusanmu ini, masih terlampau jauh dari akalku. 

tentang rasa itu pun, aku tidak bisa pungkiri. selama empat tahun terakhir, setiap hari kudapati diriku semakin mencintainya. maka akan menjadi lebih sulit dibayangkan, seberapa dalam rasa yang kau miliki terhadapnya? di waktu yang dulu kau pernah berkata, 'orang yang cinta akan menjaga'. aku pun bertanya-tanya, beginikah bentuk penjagaanmu? sungguh, aku bingung. kuharap kau bersedia menjelaskan hal ini padaku, secara perlahan, suatu hari nanti.

nyatanya, sekeras apapun usahaku, aku tetap gagal meyakinkanmu untuk bertahan. kau, dengan segala ke'aku'anmu, akhirnya mengambil keputusan untuk  pergi darinya. hal yang mungkin akan kau sesali suatu hari kelak, atau justru yang aku sesali karena tak mengambil langkah yang sama denganmu. entah, soal ini hanya Tuhan yang tahu.

tapi satu hal, kumohon tetap yakinkan aku untuk terus membersamainya. karena aku mencintainya, sama sepertimu.

banyak cerita masa lalu yang akan terukir hari ini. itu kata terakhirmu. 

lewat tengah malam di ruang biru
--- aku cinta dia, juga kau

16 Maret 2012

(..........)

tiba-tiba datang lagi
diawali pesan kosong
kemudian berkata 'seperti hatiku'

selamat merindu

15 Maret 2012

Mereka yang Menolak

Jelang 1 April, semakin banyak manusia yang bermonolog di jalan-jalan kota. Berpeluh keringat dan asap timbal menempel di kulit, mereka menyuarakan tuntutan. Walau mereka tak sepenuhnya yakin, tapi mereka hanya ingin didengar. Oleh orang lalu-lalang yang sibuk mengomel dari atas kendaraan mereka. Oleh media yang diharapkan menyajikan realita bahwa mereka akan semakin menderita. Oleh jutaan penduduk negeri ini yang berusaha mereka wakili aspirasinya lewat aksi demonstrasi. Terkhusus oleh Tuan Bangsa yang tengah menutup mata telinga akan fakta tentang rakyat yang semakin sengsara tiap harinya.

Kepada kalian, tolong dengar suara mereka!



(foto: CLk7)

14 Maret 2012

Puisi untuk Azalea

Azalea, jika aku datang padamu hanya sebagai bait-bait kata dalam surat yang gelisah dan membosankan, yang membuatmu terpaksa harus mengenang lagi masa lalu cinta kita yang indah, dan kepergianku yang menyisakan lubang nyeri di hatimu, maafkan aku- sebab sejauh itulah keberanianku.

Tak perlu kau mengubah apapun lagi tentang perasaanmu. Biarlah semuanya berjalan, tanpa rekayasa. Di depan, kita akan dialirkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan.

Maafkan aku yang telah menyalakan kembali cahaya lampau, hingga laron-laron menyebalkan datang mengusik ketenanganmu. Aku hanya ingin bercerita, Azalea, seperti biasa. Melunasi hutangku pada waktu, mengubah senja menjadi lebih lapang.

Azalea, jika aku datang padamu sebagai angin, menceritakan perjalanan panjang mengarungi musim, aku hanyalah angin yang datang dan akan kembali pergi. Seperti gerimis yang sebentar, menyapamu dari jendela kaca, bercerita tentang labirin kenangan, lalu aku akan kembali menghapus jejak pulang, menyamarkan alamat-alamat dalam surat.

Azalea, jika suatu saat aku datang lagi, aku berjanji akan menjadi orang lain yang bersembunyi mengakrabi alis matamu, dari jauh menikmati sepasang matamu menjelma dua hulu sungai di hatiku.

Azalea, aku masih mengenang senyummu melalui gambar gadis manis yang tersenyum, dalam kalender di kamar tidurku, itu cukup. Sebab sebatas itulah keberanianku.

Azalea, aku menyesal dan minta maaf. Sebab kepergian, lambaian tangan atau salam perpisahan memang selalu seperti tak punya perasaan. Apalagi bagiku, yang melakukannya tanpa pesan.

Lalu waktu, semua akan berlalu. Yang tersisa tinggal kenangan.

Setidaknya, aku masih memiliki dua hal: perjalanan dan kenangan. Itu cukup, Azalea, melebihi apapun.

(sumber: disini)

>> untuk seseorang yang (mungkin saja) membacanya.

Seribu Malam untuk Muhammad


“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.


“Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat—aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya.

Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau—tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” katanya seperti mengulang pertanyaan pertamanya.

“Aku tak tahu,” aku menjawabnya dengan kata-kata yang sama.

Lalu ia memberiku minuman. Ia seolah tahu bahwa tenggerokonku terasa menyempit, haus yang hampir membakar rongga mulutku. Ia menyodorkan sebuah cawan berisi air yang dingin dan jernih… “Minumlah,” katanya, “kau sangat membutuhkannya.” Lagi-lagi, ia tersenyum.

Aku pun segera meminumnya. Ada dingin yang mengalir di tenggorokanku, mengalir menjadi damai di hatiku, membebaskan sel-sel hidupku yang sempit. Aku merasakan air itu mulai menghidupkan lagi sel-sel yang mulai mati di tubuhku—aku merasakan kesegaran yang membebaskan, sesuatu yang membuat matahati dan pikiranku begitu terbuka. Lalu langit meredup-teduh, awan diarak pelan-pelan, angin menerbangkan helai-helai daun yang kering, rumput-rumput bersemi, bunga-bunga mekar—wewangian yang membebaskan segala bentuk penderitaan.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.“

Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melemparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.

Apakah yang lebih besar daripada iman? Bisik hatiku. Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman? Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh… terus menjauh. Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kataku dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya.

Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi… aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh… menjelma sunyi, meninggalkanku.



Seribu Malam untuk Muhammad, Fahd Djibran, halaman 7

11 Maret 2012

Dari Mata

kita sama tahu
semua kisah ini bisa ada
karena pada hari yang lalu,
kita pernah dengan sengaja mempertemukan masing mata kita

#mulai sekarang, jangan tatap saya seperti itu lagi

10 Maret 2012

u.m.a.k

tunggu dulu!
ada apa dengan ingatanku?
kenapa bagian tentangmu selalu ter-playback melulu...