26 April 2014

Menunggu Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri -aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. tapi hujan menghapus keraguan itu -sayangnya- bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya -jadi lupakan saja.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih padanya, sebab -sekali lagi,- hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan -yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya. 

*sebuah interpretasi Puisi Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono, 1989), dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala

24 April 2014

Hari Bumi, Ngapain?

Aksi bersih gunung.

Itu yang pertama terlintas di pikiran saya ketika diajak untuk nanjak ke Puncak Kayu Satu  oleh kawan-kawan grup FACT alias Female Action Community. Sebenarnya agenda utamanya ya cuma nanjak, gak ngapa-ngapain, sekadar melepas galau (halaah...), karena rupanya pas tanggal 21 April itu, para kartini muda ini lagi mumet mikir nasib diri dan bangsanya. Hahaa...

Nah, saya pikir daripada balik dari Puncak kita gak bawa apa-apa selain kenangan, lebih baik kita bawa turun sampah yang ada di sana. Setidaknya sampah itu terlihat lebih nyata. Lagipula momennya juga pas dengan Hari Bumi. Walaupun saya yakin, kita semua gak butuh momen untuk bikin Bumi ini lebih bersih dan nyaman.

Selasa sore kami berangkat. Berbekal secukupnya, karena memang kami tidak berniat untuk menginap disana. Anggota berjumlah 7 orang dengan latar belakang yang  berbeda. Ada yang masih sibuk kuliah, sementara susun skripsi, sudah kerja, sok sibuk juga pengangguran. Tapi itulah, walau berbeda, kami tetap cinta Bumi *looh*


Puncak Kayu Satu terletak di sekitar kawasan Kampus IAIN Ambon. Lalu mengapa disebut Puncak Kayu Satu? Karena jika dilihat dari kejauhan, gunung ini memiliki satu pohon mati tepat di puncaknya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 40-60 menit, membuat tempat ini kerap dikunjungi oleh warga sekitar. Pada sore hari, kita bisa menyaksikan pemandangan kota Ambon sambil menunggu senja datang. Tapi sayang, tampaknya mereka tak cukup peduli pada kondisi lingkungan. Kebanyakan dari mereka pergi dengan meninggalkan luka yang mendalam bagi Bumi. Ya, apalagi kalau bukan sampah! :(



Selama hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami berhasil mengumpulkan empat kantong sampah. Sebagian besar isinya adalah sampah plastik, berupa botol minuman dan bungkus makanan. Padahal seperti kita ketahui bersama, sampah plastik membutuhkan waktu yang lama untuk bisa diurai oleh tanah. 


Karena kita dan Bumi saling membutuhkan. Agaknya itu bisa menjadi pengingat bagi kita agar bisa menjaga Bumi ini. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, kita bisa berperan serta untuk menyelamatkan planet ini.

Sebab kalau cinta, pasti menjaga. Iya kan?! ^_^

17 April 2014

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon
(photo by clk7)

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut.

Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram. Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru.

Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama, dapat dilihat pada senjata tradisional Maluku yaitu parang dan salawaku. Salawaku merupakan alat yang terbuat dari kayu yang dilapisi oleh pernak-pernik khusus diberi ornamen untuk menghiasinya. Namun ternyata, tidak sembarangan ornamen yang digunakan. Ornamen yang dipakai pada salawaku harus mempunyai makna atau nilai religius yang melambangkan keberanian. Oleh karena itu, yang digunakan pada salawaku adalah ornamen matahari.

Ornamen Matahari pada salawaku diyakini dapat membuat penggunanya memiliki keberanian dalam berperang melawan musuh. Selain salawaku, ornamen matahari digunakan pada tiang rumah adat, dan rumah tempat tinggal warga di pedesaan, di setiap tiang yang memakai ornamen matahari disebut Tiang Raja.

Beragam corak dan bentuk Ornamen Matahari masa kini
(photo by clk7)
Berikut ini unsur-unsur bentuk Ornamen Matahari yang terdapat pada salawaku:

1) Unsur Titik

Unsur titik melambangkan makna filosofis matahari dengan pengertian matahari sumber panas dan cahaya kekuasaan, agresif, kesuburan, kehancuran artinya pandanglah matahari sebagai citra trinitas orbit, cahaya dan panas tidak dapat dipisahkan (Sebagaimana satu Allah/sang Pencipta) dengan kata lain hubungan manusia dengan yang mahakuasa tidak dapat dipisahkan. Warna merah melambangkan kepercayaan, kewibawaan, penghormatan, kekuasan, kehidupan dan kematian.

2) Unsur Lingkaran


Unsur lingkaran mengandung makna filosofis religius yang sangat dalam bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah memelihara seluruh makluk hidup, yang berdiam di dalamnya. Lingkaran ini memberi syarat terhadap tanah leluhur dengan seluruh kekayaan alam yang diikat oleh budaya yang tidak bisa dipisahkan. Warna Merah melambangkan makna keberanian yang dimiliki oleh seluruh masyarakat Maluku dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

3) Unsur Garis


Unsur garis mengandung makna filosofis kesuburan dan kehidupan yang menuju kepada kesejahteraan sosial budaya masyarakat maupun terhadap alamnya, kesucian dan keluhuran kebesaran jiwa, makna kekuatan adat-istiadat sebagai bagian dari budaya masyarakat Maluku yang tumbuh dan berkembang dalam pandangan yang selalu mengarah kepada masa depan tetap terbuka dan tidak pernah berhenti pada suatu titik tertentu. Warna merah melambangkan kecintaan seluruh masyarakat Maluku baik dalam relasi kehidupan bermasyarakat yang berbeda latar belakang kehidupan sosial tetapi tidak bisa dipisahkan dari karakteristik dalam kehidupan setiap hari.

4) Unsur Burung Talang

Unsur burung talang mengandung makna filosofis sebagai tokoh binatang yang artinya, ketika matahari terbit di permukaan bumi burung-burung talang terbang diatas permukaan laut dengan alam predator yang agresif burung-burung talang tersebut memangsa ikan-ikan yang muncul di permukaan laut. Lewat burung-burung ini maka ada keberuntungan bagi masyarakat untuk pergi menangkap ikan-ikan yang ada di permukaan air laut tersebut. Warna merah melambangkan keagungan kelimpahan alam semesta.

5) Unsur Kait

Unsur kait mengandung makna filosofis keberanian dalam berperan dengan pengertian panggilan sumpah dan janji bagi seluruh masyarakat Maluku untuk tidak melupakan jati dirinya sebagai putra-putri Nusa Ina, dan memiliki komitmen moral untuk menjaga kelestarian budaya kepada generasi penerus dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warna merah melambangkan keberanian dalam berperan lewat kepercayaan adat-istiadat serta prinsip penguasa, dan keberanian.

6). Gambar Unsur Cengkeh

Unsur cengkeh mengandung makna filosofis hasil utama daerah Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah yang melambangkan kekayaan di masa lampau dan kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang lebih melimpah lagi. Warna putih melembangkan makna kemakmuran, kelimpahan dari sang pencipta.

7) Gambar Unsur perahu

Unsur perahu mengandung makna filosofis pemerintahan yang didasarkan atas Persatuan dan Kekeluargaan pela dan gandong untuk manggurebe maju menuju Kemakmuran. Warna putih yang melambangkan perjuangan hidup yang suci.

8) Gambar Unsur Kait Inai Laiki Siana 

Unsur Kait Inai Laiki Siana, tumbuhan yang mengandung makna filosofis sebagai ibu di pagi hari dengan pengertian setiap matahari terbit tumbuh-tumbuhan bergerak mencari cahaya yang dinamakan laiki siana terhadap fajar artinya mencari cahaya matahari dicelah-celah pepohonan. Warna kuning melambangkan kesetiaan adat-istiadat sebagai bagian dari budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kebersamaan masyarakat Maluku sosial budaya maupun terhadap alamnya.

sumber: disini, dengan beberapa perubahan