12 Agustus 2017

Menyembuhkan Resah



Dari sunyi aku belajar bagaimana menyembuhkan resah, mengobati luka tanpa harus menyalahkan siapa-siapa.

Di antara keheningan, aku berusaha menenun kata-kata, untuk kujadikan pelindung saat angin musim gugur menerpa.

Lalu, kutegakkan kepala dan hati bersama kata dan sepi. Agar kaki bisa menapak. Di antara sepi dan resah. Hawa angin musim gugur yang menerpa tak lagi menjadi beban.

Aku membawa langkah pelan-pelan. Menyusur jalan kerapuhan, masuk ke lorong lorong sunyi. Kulewati setapak kenangan dan pusara  penyesalan. Kemudian langkahku terhenti.

Bulan baru saja setengah lingkaran. Ku hirup pelan-pelan aroma tanah yang basah. Sinar sendu cahaya bulan tertumpuk di pelupuk mata, membuat genangan di antara gelap. Kadang, aku menolak semua takdir yang di gariskan untukku, tapi ada satu keyakinan yang membuatku agar tetap tegar dalam melangkah. Meski harus berputar di antara jalan dan lorong sunyi. Aku tahu, bahwa Tuhan akan memberiku pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkat di setiap cobaan, lagu indah di saat sunyi dan jawaban di tiap doa.
***
Sebuah kolaborasi, 4 Mei 2017

25 Juli 2017

Di Antara Pilihan



Mari sini, Sayang. Duduk dekat denganku, dan bacalah tulisan ini pelan-pelan. Aku menuliskannya untukmu. Di waktu yang sempit, pada malam yang sendu dan dingin, karena kurasa tak ada waktu yang lebih baik dari saat ini.

Suatu waktu, mungkin kamu merasa jarak adalah penghalang. Lalu kamu mencoba melipatnya, terus menerus, agar tak ada jeda. Namun kamu lupa dan terlambat sadar bahwa aku dan kamu tak lagi leluasa bicara. Saat itulah kamu berpikir, apa pilihan itu salah?

Mungkin pernah pula  kamu merasa bahwa waktu akan mengatasi segala hal, menyembuhkan semua luka, memperbaiki semesta perasaan yang patah, tanpa perlu melakukan apa-apa. Padahal itu semua hanya sengaja kamu lewati, bukan kamu selesaikan dengan cara yang baik. Lalu, apa pilihan semacam ini boleh dianggap benar?

Hidup ini memang sekumpulan pilihan. Untuk jatuh terpuruk atau kembali bangkit. Untuk diam atau tetap bergerak. Untuk memutuskan yakin atau terus meragu. Untuk tetap memilihnya atau seseorang yang lain. Ah, pilihan yang rumit...

***

Ambon, 24 Juli 2017
Waktu hatimu (masih) berkabut

20 Juli 2017

Bertemu Denganmu, Sekali Lagi


I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too
I think that possibly, maybe I'm falling for you

Malam itu, beberapa saat sebelum kepergianku, tampak cuaca agak kurang baik. Angin dan hujan menyelimuti kota sepanjang hari. Keadaan itu cukup untuk membuat perasaanku didera gelisah. Dari atas dek, ku lihat perlahan kau menuruni anak tangga yang basah, hingga hanya punggungmu yang bergerak menjauh dari ujung dermaga. Kapal yang kutumpangi mulai berlayar. Tiba-tiba aku berpikir, bagaimana jika tadi adalah kali terakhir aku mengakrabi matamu dan tak ada lagi temu untuk kita? Pikiran bodoh semacam itu kadang mampir di kepalaku. Pikiran yang, sungguh, aku sendiri tidak ma(mp)u membayangkan, apalagi menjawabnya. Lamat-lamat mataku terpejam, lelap di antara gelombang.

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew

Setelah berjarak sekian lama, sebenarnya apa yang kita harapkan dari sebuah pertemuan? Sapaan hangat, pelukan erat, atau apa. Alih-alih itu semua, justru kita lebih memilih bercerita tentang mereka yang kita temui di perjalanan, tentang senja yang pernah sekali waktu kehilangan jingganya, tentang cuaca yang kerap berubah-ubah, atau cerita lainnya yang sengaja kita buat-buat agar rindu yang kita simpan selama ini tidak tampak lewat pancaran mata. Karena jika benar kata orang bahwa mata adalah jendela hati, maka kita perlu waspada sebab seseorang bisa saja mengintip hatimu dari sana kan?

I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too
Because oh because
I've fallen quite hard over you

Dan perasaan bukanlah sesuatu yang menetap. Ia berubah, sesuai ruang yang ditempatinya, seiring waktu yang memaksanya. Dan pertemuan, barangkali adalah satu penyebabnya. Lantaran itu, sebenarnya aku khawatir jika kita harus sering bertemu. 

If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

Karena saat kita bertemu, aku hanya ingin duduk dan menatapmu. Samudera itu terbentang di matamu dan perasaanku naik turun seperti gelombang yang kurasakan di atas kapal saat perpisahan pertama kita.

Karena saat kita bertemu, aku tak hendak mengucap sepatah kata pun. Suaramu adalah penggugah, layaknya angin pantai yang berdesir di antara ombak yang pecah. Mendengarkanmu rasanya jauh lebih men(y)enangkan.

All of the while, all of the while...
It was you*

Namun kurasa matamu itu mengandung zat adiktif yang telah membuatku candu. Sebab, di atas semua kekhawatiran tadi, malam ini justru aku berencana untuk bertemu denganmu, sekali lagi. Jangan katakan pada siapapun. Ini rahasia.

|•••|
Namrole, 20 Juli 2017
Tahun ketiga bersamamu


*Landon Pigg, Falling In Love At The Coffee Shop

28 Februari 2017

Teman Seperjalanan

In Frame: Rum

"
Jika kusebut tentang 'teman seperjalanan' apa yang ada dalam benakmu?" 

Kubaca ulang chat darimu. Ah, seperti apa harus kujawab pertanyaan ini. Kuketik beberapa kalimat, kemudian kuhapus lagi. Walaupun jarakmu beratus kilometer dari kota ini, tapi rasanya  terlalu memalukan jika harus jujur. Kususun lagi kalimat yang cukup aman bagiku. 

"Ngg..tentang orang-orang yang berada dalam perjalanan yang sama...." 

Aku berhenti mengetik. Kutatap benang hujan yang perlahan merintik di luar jendela. 

---

Kamu mungkin tak tahu, betapa inginnya diriku seperjalanan denganmu, selalu. Namun aku tetaplah ganjil, hingga kamu genapkan. Dan kamu, masihlah teka-teki yang belum bisa aku pecahkan.

Mereka bilang, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan. Tapi kemudian aku bertanya: apa tujuan kita sama? Aku, kamu, mulai berangkat dari titik masing-masing dan di persimpangan jalan yang mana akan bertemu, kita tak pernah tahu. Yang kita tahu, kita hanya perlu terus berjalan atau kita akan kehilangan kesempatan. 

Membersamaimu adalah satu  dari pengabulan Tuhan yang selalu aku rapalkan, aku eja di antara lidahku yang tak pernah fasih bicara cinta. Dan ketika aku merasa tersesat dalam menentukan arah pulang, justru kompas hatiku selalu mengarahkanku padamu: utaraku. 

Aku sadar, ada hari-hari panjang yang tentunya tidak akan selalu baik-baik saja, nanti. Akan ada kesibukan yang mungkin akan memakan sebagian hidup kita berdua. Tapi yakinlah, untuk segala perubahan atau apapun yang akan hilang dariku, serta tiap langkah lelah yang nanti kita ambil, selalu akan kuusahakan ketenangan bagi perasaan kita.

Semoga kelak kita bisa menjadi salah satu alasan bertahan untuk masing-masing. Kamu sebagai alasanku, pun sebaliknya.

---

Ku kuatkan hatiku lagi. 
Buru-buru kuhapus kalimatku sebelumnya dan mulai mengetik baru.

Kamu. Yang ada dalam benakku adalah kamu. Aku selalu membayangkan kamu yang akan menjadi teman seperjalananku. Bagaimana jika aku melamarmu?

Kutekan tulisan send pada layar HP.

Dua tanda centang berubah menjadi biru.

*****

Namrole, 27 Februari 2017
Tulisan ini untuk Rum, teman seperjalanan yang entah kapan.