25 Juli 2017

Di Antara Pilihan



Mari sini, Sayang. Duduk dekat denganku, dan bacalah tulisan ini pelan-pelan. Aku menuliskannya untukmu. Di waktu yang sempit, pada malam yang sendu dan dingin, karena kurasa tak ada waktu yang lebih baik dari saat ini.

Suatu waktu, mungkin kamu merasa jarak adalah penghalang. Lalu kamu mencoba melipatnya, terus menerus, agar tak ada jeda. Namun kamu lupa dan terlambat sadar bahwa aku dan kamu tak lagi leluasa bicara. Saat itulah kamu berpikir, apa pilihan itu salah?

Mungkin pernah pula  kamu merasa bahwa waktu akan mengatasi segala hal, menyembuhkan semua luka, memperbaiki semesta perasaan yang patah, tanpa perlu melakukan apa-apa. Padahal itu semua hanya sengaja kamu lewati, bukan kamu selesaikan dengan cara yang baik. Lalu, apa pilihan semacam ini boleh dianggap benar?

Hidup ini memang sekumpulan pilihan. Untuk jatuh terpuruk atau kembali bangkit. Untuk diam atau tetap bergerak. Untuk memutuskan yakin atau terus meragu. Untuk tetap memilihnya atau seseorang yang lain. Ah, pilihan yang rumit...

***

Ambon, 24 Juli 2017
Waktu hatimu (masih) berkabut

20 Juli 2017

Bertemu Denganmu, Sekali Lagi


I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too
I think that possibly, maybe I'm falling for you

Malam itu, beberapa saat sebelum kepergianku, tampak cuaca agak kurang baik. Angin dan hujan menyelimuti kota sepanjang hari. Keadaan itu cukup untuk membuat perasaanku didera gelisah. Dari atas dek, ku lihat perlahan kau menuruni anak tangga yang basah, hingga hanya punggungmu yang bergerak menjauh dari ujung dermaga. Kapal yang kutumpangi mulai berlayar. Tiba-tiba aku berpikir, bagaimana jika tadi adalah kali terakhir aku mengakrabi matamu dan tak ada lagi temu untuk kita? Pikiran bodoh semacam itu kadang mampir di kepalaku. Pikiran yang, sungguh, aku sendiri tidak ma(mp)u membayangkan, apalagi menjawabnya. Lamat-lamat mataku terpejam, lelap di antara gelombang.

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew

Setelah berjarak sekian lama, sebenarnya apa yang kita harapkan dari sebuah pertemuan? Sapaan hangat, pelukan erat, atau apa. Alih-alih itu semua, justru kita lebih memilih bercerita tentang mereka yang kita temui di perjalanan, tentang senja yang pernah sekali waktu kehilangan jingganya, tentang cuaca yang kerap berubah-ubah, atau cerita lainnya yang sengaja kita buat-buat agar rindu yang kita simpan selama ini tidak tampak lewat pancaran mata. Karena jika benar kata orang bahwa mata adalah jendela hati, maka kita perlu waspada sebab seseorang bisa saja mengintip hatimu dari sana kan?

I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too
Because oh because
I've fallen quite hard over you

Dan perasaan bukanlah sesuatu yang menetap. Ia berubah, sesuai ruang yang ditempatinya, seiring waktu yang memaksanya. Dan pertemuan, barangkali adalah satu penyebabnya. Lantaran itu, sebenarnya aku khawatir jika kita harus sering bertemu. 

If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

Karena saat kita bertemu, aku hanya ingin duduk dan menatapmu. Samudera itu terbentang di matamu dan perasaanku naik turun seperti gelombang yang kurasakan di atas kapal saat perpisahan pertama kita.

Karena saat kita bertemu, aku tak hendak mengucap sepatah kata pun. Suaramu adalah penggugah, layaknya angin pantai yang berdesir di antara ombak yang pecah. Mendengarkanmu rasanya jauh lebih men(y)enangkan.

All of the while, all of the while...
It was you*

Namun kurasa matamu itu mengandung zat adiktif yang telah membuatku candu. Sebab, di atas semua kekhawatiran tadi, malam ini justru aku berencana untuk bertemu denganmu, sekali lagi. Jangan katakan pada siapapun. Ini rahasia.

|•••|
Namrole, 20 Juli 2017
Tahun ketiga bersamamu


*Landon Pigg, Falling In Love At The Coffee Shop