12 Agustus 2017

Menyembuhkan Resah



Dari sunyi aku belajar bagaimana menyembuhkan resah, mengobati luka tanpa harus menyalahkan siapa-siapa.

Di antara keheningan, aku berusaha menenun kata-kata, untuk kujadikan pelindung saat angin musim gugur menerpa.

Lalu, kutegakkan kepala dan hati bersama kata dan sepi. Agar kaki bisa menapak. Di antara sepi dan resah. Hawa angin musim gugur yang menerpa tak lagi menjadi beban.

Aku membawa langkah pelan-pelan. Menyusur jalan kerapuhan, masuk ke lorong lorong sunyi. Kulewati setapak kenangan dan pusara  penyesalan. Kemudian langkahku terhenti.

Bulan baru saja setengah lingkaran. Ku hirup pelan-pelan aroma tanah yang basah. Sinar sendu cahaya bulan tertumpuk di pelupuk mata, membuat genangan di antara gelap. Kadang, aku menolak semua takdir yang di gariskan untukku, tapi ada satu keyakinan yang membuatku agar tetap tegar dalam melangkah. Meski harus berputar di antara jalan dan lorong sunyi. Aku tahu, bahwa Tuhan akan memberiku pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkat di setiap cobaan, lagu indah di saat sunyi dan jawaban di tiap doa.
***
Sebuah kolaborasi, 4 Mei 2017