Langsung ke konten utama

Postingan

Tiada

Maka setiap pagi aku akan melakukan ritual yang sama. Diam menatap jendela, mengumpulkan sisa-sisa ingatan tentang mimpi semalam atau kejadian kemarin. Lalu saat sinar matahari mulai masuk lewat sela-sela jendela, aku harus rela satu per satu memori itu menguap, menjadi tiada.

Lelaki Kedua

Di antara gerimis sisa. November. Terima kasih. Tidak lama lagi. Desember akan membawamu pergi. Lelaki kedua.

Pulau Kodingareng Keke

Bermula dari rasa rindu menatap laut lepas dan galau pengen menginjak pasir pantai, saya nekat merencanakan perjalanan lintas pulau bareng teman-teman. Kali ini cewek semua: kak Pipi, Abel, Awa, Lara, Athifah, Mitha, kak Nunu, Ayi, Nur, Uthy dan saya sendiri. Pokoknya bukan pulau yang jauh, jadi gak perlu menginap. Juga bukan pulau yang rame, biar bebas berekspresi. Dan dari hasil wawancara dan browsing sana-sini, akhirnya pulau Kodingareng Keke-lah yang ditetapkan menjadi destinasi perjalanan 'nekat' ini. Jam tujuh pagi, kami bersebelas janjian ngumpul di dermaga penyeberangan Kayu Bangkoa, sekitar pantai Losari. Untuk bisa sampai kempulau Kodinagreng Keke, kami harus menyewa kapal dari sini. Harga sewa kapal tergantung kesepakatan dengan pemiliknya. Kemampuan harus total kita keluarkan biar bisa dikasih harga murah. Untuk urusan ini, saya serahkan ke kak Pipi dan Mitha. Saya hanya membantu seperlunya. Oke, setelah proses tawar-menawar yang panjang karena pake adegan ...

Saudara itu ...

  Saudara itu dekat, saat yang lain jauh... Aku tidak pernah menyangka kita akan sedekat ini sekarang. Tidak sama sekali. Bahkan ketika awal perjumpaan kita di masjid itu. Kemudian berlanjut dimana-mana. Pinggir pantai, padang ilalang, tepian sungai, tempat makan, layar lebar, hotel mewah, rumah sederhana, tenda pleton, perahu karet, pelataran benteng. Kecuali satu yang entah kapan: puncak gunung.  Saudara itu menguatkan, saat yang lain lemah... " Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu! " Kata-kata andalan kita. Karena kita sama tahu bahwa apapun yang pernah datang dalam kehidupan dan membuat kita jatuh, Allah hanya akan membersamai orang-orang yang sabar. Bukan orang yang putus asa, atau bahkan lari. Saudara itu mengingatkan, saat yang lain lupa... Saat itu menjelang petang. Kau mengingatkanku. Bukan hanya hari itu, tapi juga pada banyak hari sebelum dan sesudahnya.  "Untuk kalian yang pergi dengan meninggalkan ruang kosong di hati. Terima kasih. Tanpa sad...

Ada apa dengan hatimu, wahai sahabat Anshar?

"Sepertinya Rasulullah SAW sudah kembali menemukan kaumnya..." Ini cerita tentang suasana jiwa, sebuah situasi perasaan yang sedang dilanda ujian cinta dan harta pada sebagian sahabat senior, yaitu sahabat anshar di akhir episode perang Hunain & bani hawazin tahun 8 Hijriah. Tidak ada ghanimah yang tersisa disisi Rasulullah SAW kecuali semuanya habis dibagikan kepada hampir 2000 para muallaf dari penduduk Makkah yang ikut dalam perang tersebut, yang usia keislamannya baru seumur jagung. 240.000 ekor unta dibagikan kepada mereka semuanya, bahkan Abu sufyan mendapatkan 100 unta,dan ketika dia meminta jatah juga untuk anaknya muawiyyah, maka Nabipun memberikan 100 unta . Semuanya berebut, Sampai-sampai mereka mengerumuni Nabi dan beliau terdesak sampai menyandar diuntanya, dan beliau mengucapkan tidak akan ada yang aku sisakan kecuali akan kuberikan kepada kalian semua. Mulailah 'penyakit hati' itu datang, pelan, cepat dan berhembus sa...

Kosong

Triangulasi Bawakaraeng kau lihat langit dengan awan kapas di atas sana? sampai detik ini aku masih tak tahu, apa aku benar-benar menyukai dia seutuhnya? aku mungkin mengagumi cerahnya, tapi kadang enggan melihat kelabunya. ** enambelaskosongsembilan,lainkalibawahati.

Will You?

Bunga di Tepi Danau Unhas (photo by clk7) Pada suatu hari yang lalu, aku pernah bertanya pada kalian, " apakah kalian akan menikah dengan orang yang kalian cintai? " Bukan pertanyaan serius menurutku. Aku lalu diam, sambil terus memainkan X2 putih di tanganku. Tapi, entah apa yang ada di pikiran kalian saat itu. Mungkin kalian menganggapku aneh, atau bagaimana. Ada jeda cukup lama. Kurasa kalian sibuk merangkai jawaban yang kelak harus kalian pertanggungjawabkan di kemudian hari. " Aku akan mencintai orang yang kunikahi, " kata salah seorang dari kalian, tiba-tiba. Masih kuingat, tak ada keraguan yang kutangkap dari kalimatnya saat itu.  Sementara sebagian yang lain berkata, " Aku, tentu akan menikah dengan orang yang kucintai. " Aku berhenti, memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. *cerita pagi, di depan ruangbiru