Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pernikahan

Perahu Kertas

Alivya, Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan. Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih. Seperti kita maklumi, Adam akan kesepian tanpa Hawa, dan kisah hidup manusia tak mungkin dimulai, Alivya. Barangkali waktu jadi beku dan semesta hanyalah ruang hampa yang tak memiliki apa-apa; Hidup tak mencipta gerak, gerak tak menyusun peristiwa, dan peristiwa tak pernah membentangkan kisah macam apapun. Maka, Alivya, lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan. Kemudian, lipatlah kertas yan...

Our Wedding Song

Hidup 'Kan Baik-Baik Saja, lagu kedua dalam album Tempat Aku Pulang Perkenalkan! Adalah dia,  Fiersa Besari ,  seorang lelaki beruntung, petualang melankolis, penulis amatir, tukang foto sekaligus musisi yang menciptakan sebuah lagu romantis dengan lirik sederhana berjudul  Hidup 'Kan Baik-Baik Saja . Inilah salah satu lagu yang berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri ketika mendengarnya. Maka sejak Ramadhan lalu, saya membuat keputusan aneh. Saya akan menjadikan lagu ini sebagai  soundtrack pernikahan  kami kelak. Ya! Saya dan lelaki saya. Oh ya, bahkan sepasang kawan bersedia untuk menyanyikannya langsung di hadapan para tamu kami nantinya. Ah, betapa keren mereka! Akhir kata, terima kasih Fiersa untuk lirik dan nada yang kamu gubah ini. Semoga kamu tidak keberatan atas keputusan aneh saya itu. Untuk kalian, berikut saya hadiahkan liriknya. Silahkan mendengarnya  disini  sebelum undangan pernikahan kami yang entah kapan itu bere...

Will You?

Bunga di Tepi Danau Unhas (photo by clk7) Pada suatu hari yang lalu, aku pernah bertanya pada kalian, " apakah kalian akan menikah dengan orang yang kalian cintai? " Bukan pertanyaan serius menurutku. Aku lalu diam, sambil terus memainkan X2 putih di tanganku. Tapi, entah apa yang ada di pikiran kalian saat itu. Mungkin kalian menganggapku aneh, atau bagaimana. Ada jeda cukup lama. Kurasa kalian sibuk merangkai jawaban yang kelak harus kalian pertanggungjawabkan di kemudian hari. " Aku akan mencintai orang yang kunikahi, " kata salah seorang dari kalian, tiba-tiba. Masih kuingat, tak ada keraguan yang kutangkap dari kalimatnya saat itu.  Sementara sebagian yang lain berkata, " Aku, tentu akan menikah dengan orang yang kucintai. " Aku berhenti, memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. *cerita pagi, di depan ruangbiru

Pernikahan

Tuhan yang maha mengetahui rahasia waktu; Kami tak pernah sanggup meraba hari esok--bahkan apa yang akan terjadi satu atau dua jam lagi, kami tak tahu. Waktu serupa misteri--rahasia yang selalu memesona. Kami tahu, kami tak dibekali pengetahuan tentang apapun yang misteri, kecuali sedikit--yang bahkan kepala kami terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu. Kami sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi besok? Kami tak tahu. Kami tak pernah benar-benar tahu. Sungguh. Kaulah yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Kaulah yang maha mengetahui segala peristiwa, semua lipatan waktu. Kalau boleh kami meminta; izinkanlah esok memercikkan cahaya--yang sanggup menumbuhkan cinta di hati kami berdua, meski sedikit dari cahaya-Mu--bahkan bukankah seluruh semesta terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu? Tuhan yang maha mengatur segala sesuatu; Kami tak sanggup membaca peta waktumu, menduga miliaran kemungkinan dalam irama takdirmu. Bahkan menghapal peristiwa dari ratu...