Langsung ke konten utama

Our Wedding Song

Hidup 'Kan Baik-Baik Saja, lagu kedua dalam album Tempat Aku Pulang
Perkenalkan! Adalah dia, Fiersa Besariseorang lelaki beruntung, petualang melankolis, penulis amatir, tukang foto sekaligus musisi yang menciptakan sebuah lagu romantis dengan lirik sederhana berjudul Hidup 'Kan Baik-Baik Saja.

Inilah salah satu lagu yang berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri ketika mendengarnya. Maka sejak Ramadhan lalu, saya membuat keputusan aneh. Saya akan menjadikan lagu ini sebagai soundtrack pernikahan kami kelak. Ya! Saya dan lelaki saya. Oh ya, bahkan sepasang kawan bersedia untuk menyanyikannya langsung di hadapan para tamu kami nantinya. Ah, betapa keren mereka!

Akhir kata, terima kasih Fiersa untuk lirik dan nada yang kamu gubah ini. Semoga kamu tidak keberatan atas keputusan aneh saya itu. Untuk kalian, berikut saya hadiahkan liriknya. Silahkan mendengarnya disini sebelum undangan pernikahan kami yang entah kapan itu beredar.


Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga

Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini 
Hidup kan baik-baik saja

Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini 
Hidup kan baik-baik saja

Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua

Komentar

  1. www.reverbnation.com/fiersa
    Fiersa Besari Music, Lyrics, Songs, and Videos - ReverbNation

    musik latar blognya masih yg lama..? :D

    BalasHapus
  2. Penasaran sama lagunya. Download ah... :p

    BalasHapus
  3. Numpang lewat buat senyam senyum aja yah kak Yun ;)
    Ditunggu loh undangnnya :D

    BalasHapus
  4. keputusan yang sensasional kak :-)

    BalasHapus
  5. kata - katanya penuh dengan makna yang dalam

    BalasHapus
  6. wuow yun.. yun.. #pilot #pilot #pilot

    BalasHapus
  7. Aku udh donlot sealbum lagu2nya Fiersa Besari, sukaaa...
    Yg 'Nona Senja' juga keren beud kaka ~_~

    BalasHapus
  8. sukaaa banget sama lagu ini :')

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***