Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Buku

Menunggu Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri -aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. tapi hujan menghapus keraguan itu -sayangnya- bersama...

Perahu Kertas

Alivya, Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan. Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih. Seperti kita maklumi, Adam akan kesepian tanpa Hawa, dan kisah hidup manusia tak mungkin dimulai, Alivya. Barangkali waktu jadi beku dan semesta hanyalah ruang hampa yang tak memiliki apa-apa; Hidup tak mencipta gerak, gerak tak menyusun peristiwa, dan peristiwa tak pernah membentangkan kisah macam apapun. Maka, Alivya, lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan. Kemudian, lipatlah kertas yan...

Pernikahan

Tuhan yang maha mengetahui rahasia waktu; Kami tak pernah sanggup meraba hari esok--bahkan apa yang akan terjadi satu atau dua jam lagi, kami tak tahu. Waktu serupa misteri--rahasia yang selalu memesona. Kami tahu, kami tak dibekali pengetahuan tentang apapun yang misteri, kecuali sedikit--yang bahkan kepala kami terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu. Kami sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi besok? Kami tak tahu. Kami tak pernah benar-benar tahu. Sungguh. Kaulah yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Kaulah yang maha mengetahui segala peristiwa, semua lipatan waktu. Kalau boleh kami meminta; izinkanlah esok memercikkan cahaya--yang sanggup menumbuhkan cinta di hati kami berdua, meski sedikit dari cahaya-Mu--bahkan bukankah seluruh semesta terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu? Tuhan yang maha mengatur segala sesuatu; Kami tak sanggup membaca peta waktumu, menduga miliaran kemungkinan dalam irama takdirmu. Bahkan menghapal peristiwa dari ratu...

Galaksi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah Itu Mati ?

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta : Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila. Berhati-hatilah .. Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat. Menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua orang berpikir hidupmu telah sempurna. Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah .. Engkau akan mu...

Puisi untuk Azalea

Azalea, jika aku datang padamu hanya sebagai bait-bait kata dalam surat yang gelisah dan membosankan, yang membuatmu terpaksa harus mengenang lagi masa lalu cinta kita yang indah, dan kepergianku yang menyisakan lubang nyeri di hatimu, maafkan aku- sebab sejauh itulah keberanianku. Tak perlu kau mengubah apapun lagi tentang perasaanmu. Biarlah semuanya berjalan, tanpa rekayasa. Di depan, kita akan dialirkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan. Maafkan aku yang telah menyalakan kembali cahaya lampau, hingga laron-laron menyebalkan datang mengusik ketenanganmu. Aku hanya ingin bercerita, Azalea, seperti biasa. Melunasi hutangku pada waktu, mengubah senja menjadi lebih lapang. Azalea, jika aku datang padamu sebagai angin, menceritakan perjalanan panjang mengarungi musim, aku hanyalah angin yang datang dan akan kembali pergi. Seperti gerimis yang sebentar, menyapamu dari jendela kaca, bercerita tentang labirin kenangan, lalu aku akan kembali menghapus jejak pulang, menyamarka...

Seribu Malam untuk Muhammad

“Apakah yang lebih besar daripada iman?”  kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih. “Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat—aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya. Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau—tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan. Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku.  “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?”  katanya seperti mengulan...

Yang kita perlu sekarang cuma .......

............................. Keenam sahabat masih mendongak mengagumi Mahameru. "Ta..." "Iya, Yan." "Nanti kita akan ke sana? Berdiri di puncak itu? Berdiri di sana?" "Iya..." "Tinggi banget, Ta..." "Iya." "Bisa apa kita, Ta?" Genta terdiam, matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam. "Yakin kita bisa?" tiba-tiba Genta menoleh ke teman-temannya dan menatap tajam satu per satu. "Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini." Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya. Genta tersenyum. "Kalo begitu...yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih kera...

Writing is AMAZING!

Bayangkan kalau tradisi menulis nggak pernah ada, kalau tradisi merekam peristiwa, gagasan dan perasaan nggak pernah ada, a pa kita bakal mengenal siapa nenek moyang kita? Bayangkan kalau Anda tidak menulis, tak berusaha merekam gagasan dan pikiran-pikiran Anda, apa cucumu nanti akan mengenal siapa kamu? Seandainya kakek saya, semasa hidupnya menulis sesuatu, mungkin sekarang saya mengenal siapa dia. Tetapi itu tak pernah terjadi. Tak selembar pun tulisan yang diwariskan kakek pada saya. Saya tak pernah tahu isi kepala kakek, selain bahwa dia adalah seorang lelaki tua leluhur saya. Maka jangan salahkan saya, jika saya lebih mengenal Karl Marx, Jostein Gaarder atau Pramoedya Ananta Toer, yang bukan siapa-siapa saya, daripada kakek saya sendiri. "Dendam" itulah menjadi energi besar yang mendorong saya untuk terus menulis. Saya tak mau dilupakan sejarah. Saya mau jadi orang yang berkesadaran sejarah. Maka saya memutuskan untuk menulis. Agar ...

Purezento

here it is..my birthday present: kerudung biru dari arez , ' writing is amazing '-nya Fahd Djibran itu dari kak sidratulmuntaha , kalo ' ranah 3 warna '-nya A. Fuadi, itu dari nitemare ,  last but not least, ' Muhammad, Para Pengeja Hujan '-nya Tasaro, itu dari  abang rizal . --bunch thanks for you all--

Carpediem!

............................. Keenam sahabat masih mendongak mengagumi Mahameru. "Ta..." "Iya, Yan." "Nanti kita akan ke sana? Berdiri di puncak itu? Berdiri di sana?" "Iya..." "Tinggi banget, Ta..." "Iya." "Bisa apa kita, Ta?" Genta terdiam, matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam. "Yakin kita bisa?" tiba-tiba Genta menoleh ke teman-temannya dan menatap tajam satu per satu. "Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini." Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya. Genta tersenyum. "Kalo begitu...yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. " "Dan hati yang ak...

Kalau Ingin Perubahan, Tegakkanlah Malam dan Bangunlah Lebih Awal

Seharusnyalah, tidak ada yang begitu mengenaskan bagi kita -aktivis dakwah- kecuali kalau kita dalam tidak sempat menegakkan malam (qiyamullail) dan mengisi awal pagi dengan kegiatan yang membawa perubahan. *** KAMMI adalah pembawa obor perubahan. Malam itu, tengah tahun 2001, KAMMI mengadakan muhasabah dan qiyamullail. Beratus orang -ikhwan dan akhwat- hadir, diam, menangis dan khusyu'. Ya, ruh kami berkata bahwa reformasi Indonesia harus kami selamatkan. Indonesia berantakan dan fatwa telah jelas tersampaikan. Strategi pun terancang, semuanya terkomunikasikan. Siang besoknya itu, sang presiden akan datang dan mengunjungi kampus kami. Kami tahu dia akan berbicara omong kosong, sementara ia enggan bertanggung jawab. Maka kami melawan, kami enggan ia datang. Pagi itu kami bergerak, berbondong dan berduyun, menutup lima jalan masuk ke kampus. Kami tak tahu dari mana ia masuk. Sebagian barisan kami tebal dua tiga lapis, sebagian barisan kami cuma satu baris memanjang, tapi kam...

Kau Mencintaiku

ini dia salah satu puisi indah yang saya suka. kena banget di hati, biar dibaca berkali-kali tetap gak membosankan. ini puisi indah dari Ayatul Husna yg judulnya “Kau Mencintaiku” buat kakak tercintanya, Azzam di film KCB. hmm...like diz very much ^__^ sempet membuat mata berkaca-kaca pas nontonnya.hahha...dasar mellow.tapi gak papalah,emang bener puisinya bagus koq.gak percaya??sok atuh dibaca.... *** Kau mencintaiku Seperti bumi Mencintai titah Tuhannya. Tak pernah lelah Menanggung beban derita Tak pernah lelah Menghisap luka Kau mencintaiku Seperti matahari Mencintai titah Tuhannya Tak pernah lelah Membagi cerah cahaya Tak pernah lelah Menghangatkan jiwa Kau mencintaiku Seperti air Mencintai titah Tuhannya Tak pernah lelah Membersihkan lara Tak pernah lelah Menyejukkan dahaga Kau mencintaiku Seperti bunga Mencintai titah Tuhannya Tak pernah lelah Menebar mekar aroma bahagia Tak pernah lelah Meneduhkan gelisah nyala (eh, trus di balas sama Azzam….) aku mencintaimu seperti bumi mencin...

Jejaring Muhammad

Jejaring Muhammad ::Proses Kreatif Tasaro GK dalam Menulis Novel Muhammad:: “I said: TIDUR!” Itu SMS yang saya terima pukul 00:55, semalam. Seseorang mulai sebal karena saya masih asyik dengan Facebook. Saya mengiyakan omelannya, tapi sedikit berbohong. Sebab, sekian jam setelahnya saya baru tertidur. Itu pun dengan ketakutan. Kepala saya seperti digerayangi kengerian. Merinding. Seperti ada yang memerhatikan saya. Sumpah, ini bukan soal Jin Tomang, Kuntilanak, Sundel Bolong, Suster Ngesot, dan pasukannya. Ini lebih… spiritual. Saya seperti merasakan kehadiran Tuhan. Apa pun itu. Media apa pun itu. Ini benar-benar sangat spiritual. Mengerikan namun juga menenangkan. Semua bermula dari kementokan. Saya tidak sanggup bergerak setelah novel itu sampai di halaman folio 252 spasi satu. Ada yang salah. Saya tahu ada yang salah. Menuliskan kisah Muhammad Saw. bukan sekadar mengumpulkan sudut pandang Haikal, Martin Lings, Tariq Ramadhan, Karen Armstrong, Ibnu Hisyam dan para p...