Langsung ke konten utama

Yang kita perlu sekarang cuma .......


.............................

Keenam sahabat masih mendongak mengagumi Mahameru.

"Ta..."

"Iya, Yan."

"Nanti kita akan ke sana? Berdiri di puncak itu? Berdiri di sana?"

"Iya..."

"Tinggi banget, Ta..."

"Iya."

"Bisa apa kita, Ta?"

Genta terdiam, matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam.

"Yakin kita bisa?" tiba-tiba Genta menoleh ke teman-temannya dan menatap tajam satu per satu.

"Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini." Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya.

Genta tersenyum.

"Kalo begitu...yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja."

"Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya," sambung Zafran.

"Serta mulut yang akan selalu berdoa," Dinda tersenyum manis.


[5cm, hal 216]

Komentar

  1. kereeennn....serius..!!! ini novel bacaan SMA aku yg paliiing kereeenn...
    Donny dirgantara bisa banget ngebikin aku ngebayangin mahameru...hiks....love it....
    quotenya juga keren2...sukaaaaa......
    apalagi cover bukunya yg item gituuu...hahahaha :D
    #alay karena sukaaaa bgt..hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget nick!
      waktu baca jg aku ud ngebayangin ngelewatin tanjakan cinta, nge-camp di ranukumbolo, ngeliat savana, plus ngerasain sedihnya waktu Ian dikira mati..uugh, pokoknya imajinasiku terbang ksana kmari dah XD

      Hapus
  2. gara2 baca postingan ini, aku kembali obrak abrik rak bukuku...eeh ternyata ketahuan, dah lama buku 5 cmku dipinjem teman...blum dibalikin..
    Kak Yuniiiii kapan kita climbing lagiiii, hehehe
    dulu...saat baca buku ini, seperti ada sulut api semangat yang menggebu #kenangan5cm

    BalasHapus
    Balasan
    1. woow..hayuuk, sy mah siap kapan aj.apalagi kl diajak kesana, haha :D

      Hapus
  3. Kemaren sempat lihat bukunya dari seorang teman, tapi belum punya dan baca.. hadeeh jadi kebelet baca nih.. haha

    blogwalking malemmalem

    BalasHapus
  4. hahha..bener2 pngn menjejakkan kaki disana...

    BalasHapus
  5. wauw sensasi impiannya sangat kuat membias...

    BalasHapus
  6. jadi pengen mandaki mahameru..klo bca buku 5 cm
    #kakilangsunggatal2..

    BalasHapus
  7. asik juga tu ngedaki, tapi kok keliatannya serem juga ya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***