Langsung ke konten utama

Sajak untuk KAMMI

Kau bilang aksimu kuat
Tapi dengan jumlah kader yang melimpah dan katanya militan itu,
bahkan kau tak lagi mampu mengerahkan mereka di setiap aksi jalananmu.
Kau tak lagi mampu membuat mereka bergerak,
untuk menuntaskan cita-cita besarmu yang bernama ’perubahan’.
Lalu, kau sebut itu KUAT kawan??

Kau bilang ibadahmu taat
Saking taatnya, kader-kadermu justru lebih sering berada dalam mihrabnya,
daripada mengubah kedzaliman di luar sana dengan tangannya.
Mereka malah sibuk dengan keshalihan pribadinya,
dan melupakan masyarakat yang akidahnya sedang runtuh.
Apa itu yang kau katakan TAAT??

Kau bilang prestasimu hebat
Ya, sangat hebat hingga hanya bersedia menjadi pemain belakang
Memilih menjadi ’follower’, bukannya ’leader’
Itu yang kau bilang HEBAT??

Padahal kupikir kau cukup intelek
Potensi punya, prestasi pun ada
Lalu hilang kemana jargon-jargon itu kawan??
Hanya sebatas kata kah??
Apa yang kau banggakan kawan??
Euforia masa lalu karena berhasil menumbangkan rezim??
Itu kah??

Kalau memang itu,
Maka hidup saja untuk masa lalumu !!


***
dari ruang dosen hingga al-hamas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***