Langsung ke konten utama

Idenburg dan Kawanannya

Gramedia, 8 Desember 2011

Hai Rei, apa kabarmu? 

Kau tahu, aku baru saja membaca buku yang penuh gambar dan aku yakin kau pasti akan menyukainya. 

Pernah dengar tentang Mahitala, Idenburg, Fairy Tale dan kawanannya? Ya Tuhan, kau takkan percaya. Air mataku hampir saja menetes diatas lembaran buku itu! 

Aku melihat mereka, Rei. Tapi sayang, aku hanya bisa mencoba merasakan kebersamaan dengan mereka lewat sentuhan tanganku pada lembar bergambar itu. 

Lalu tiba-tiba muncul rasa rinduku yang teramat sangat pada mereka. Perasaan membuncah, tak terbendung. Ya, aku merindukan mereka! 

Entah kapan, tapi suatu saat aku yakin akan bisa menemui mereka. Aku tak sabar menunggu waktu itu, Rei. Oh ya, tentu saja aku akan mengenalkanmu pada mereka. Jangan kuatir. Nanti aku akan menunjukkan foto mereka padamu. 

Sudah ya, aku sedang di toko buku sekarang. Ingin melihat gambar mereka lagi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

#DIYproject: Replica of D90

Beberapa hari lalu, saya iseng googling tentang kamera kertas. Ceritanya lagi pengen bikin #DIYproject gitu. Lalu terdamparlah saya di  sini . Keren! Jadi pengen bikin juga. Keesokan paginya, saya mulai sibuk nyari kardus bekas yang agak tebal. Alhamdulillah, dikasih gratis sama penjaga toko di depan kompleks. Kamera yang saya mau coba bikin replikanya adalah Nikon D90 punya teman. Bimsalabim jadi apa, prok prok prok! Alat yang dipakai untuk project ini sih standar aja: gunting, lem dan cutter. Selain itu, juga harus punya stok kesabaran dan ketelitian yang lebih, karena ada beberapa bagian yang lumayan bikin "mikir". Dan setelah mendekam dalam kamar sambil menahan lapar, akhirnya jadi juga deh. Voila! ~ Bunch of thanks, to you and Fath :)
Bila sampai waktunya, aku ingin tak ada nestapa. Sementara aku akan menangisi perpisahan, tanpa airmata duka, tanpa isak lara. Bila sampai waktunya, aku akan telah kuat melepas pergimu, duhai Lelakiku.