Langsung ke konten utama

Mereka yang Menolak

Jelang 1 April, semakin banyak manusia yang bermonolog di jalan-jalan kota. Berpeluh keringat dan asap timbal menempel di kulit, mereka menyuarakan tuntutan. Walau mereka tak sepenuhnya yakin, tapi mereka hanya ingin didengar. Oleh orang lalu-lalang yang sibuk mengomel dari atas kendaraan mereka. Oleh media yang diharapkan menyajikan realita bahwa mereka akan semakin menderita. Oleh jutaan penduduk negeri ini yang berusaha mereka wakili aspirasinya lewat aksi demonstrasi. Terkhusus oleh Tuan Bangsa yang tengah menutup mata telinga akan fakta tentang rakyat yang semakin sengsara tiap harinya.

Kepada kalian, tolong dengar suara mereka!



(foto: CLk7)

Komentar

  1. semoga kenaikan bbm itu tidak jadi

    BalasHapus
  2. Semoga setiap suara didengar dan menjadi lahan pengambil kebijakan.

    BW Malem

    BalasHapus
  3. Suaranya mau diperdengarkan kepada siapaa??? Bukannya mereka-mereka yang seharusnya mendengarkan, udah pada budeg semua....??? :D

    BalasHapus
  4. pintu 1 UNHAS,..2 hari yang lalu...saya harus nahan vertigo, mana ujan..perjlanan yang seharusnya 15-20 menit ke rumah, molor hampir 2 jam, macet???yaaa...gara2 demo...ckckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh...sukses bikin macet, aksi dirikan tendanya...
      salam buat para ANTEKK... Eeeh??yg di atas Antek jugaa...hoho

      Hapus
    2. ohooho..itu bukan tendanya ANTEK tauukk >,<

      Hapus
  5. well..saya dukung sih kl demonya mereka damai ^^v

    kalo yang bikin macet, bikin polusi, apalagi sampe bakar2an.
    gak banget deeehh =___='

    BalasHapus
  6. semoga semuanya terjadi untuk yang terbaik menurutNya, InsyaAllah

    BalasHapus
  7. bbm naik itu masalahnya bahan pokok itu naik,,
    kl bhan pokok gx naik pasti aman aman aja bbm naik juga,,apalagi kyak sekarang bbm di tunda naiknya tapi kok malah naik bahan pokok,,,aneh,,,

    BalasHapus
  8. terimakasih gan artikelnya
    salam kenal aja gan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***