Langsung ke konten utama

Pada Juni


pada Juni, ada bahagia yang memancar dari wajah yang menanti sepanjang tahun
pada Juni, ada air mata yang mengalir di antara sujud panjang
pada Juni, ada kenangan yang berlari jauh dari ingatan, semakin memburam
pada Juni, ada amarah yang memerah, membiru lalu menghitam
pada Juni, ada harapan yang terselip pada rapal kata sederhana dari mereka yang istimewa
pada Juni, ada rindu yang terpendam untuk sebuah tanah di bumi

dan pada Juni, tentu saja ada cinta

...yang untuk kesekian kalinya, masih milikmu!

Komentar

  1. pada Juni, ada harapan yang terselip pada rapal kata sederhana dari mereka yang istimewa

    pada juni, aku menanti :)

    BalasHapus
  2. Pada Juni tgl 21, saya blog walking dan mendapati banyak postingan yang sajaknya indah, bisakah tularkan kepada saya?

    hehe

    event ngeblog: menulis di blog dapet android, ikutan yuk!

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas artikelnya.
    o iya selama saya jelajah mencari ilmu dengan blogwalking, menurut saya

    anda memiliki kelebihan tersendiri dari situs-situs lain dan jujur potensi

    anda juga sangat bagus, banyak juga ilmu yang saya pelajari disini jika ada

    waktu saya akan berkunjung lagi.

    ditunggu kunjungan baliknya :D


    #Semoga sehat selalu :D

    BalasHapus
  4. pada Juni, semoga gulir bulan berikutnya penuh dengan bahagia....

    BalasHapus
  5. Pada Yuni, ada harapan dari orang tua di pulau seberang. "kamu kapan pulang nak?."

    BalasHapus
  6. Juni,. spesial,. sespesial Ramadhan buatku.. :)

    BalasHapus
  7. pada juni, ada tindakan, ucapan bahkan bisikan hati yang itu semua akan diminta pertanggungjawabannya diakhirat kelak

    BalasHapus
  8. entah kenapa juni merupakan bulan yang penuh bahagia bagi saya...

    BalasHapus
  9. ada rindu yang terpendam untuk sebuah tanah di bumi..sungguh rangkaian kata yang sarat makna :)

    BalasHapus
  10. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    BalasHapus
  11. pada Juni, usia kandungan istriku memasuki usia 5 bulan hehehe
    #ngomong opo toh..

    dan kini Juni telah berganti Juli... hadapilah dengan tatapan mata yang tajam...

    BalasHapus
  12. pada Juni, ada waktu yang membelah memori. setengahnya mengulurkan kenangan, sebelahnya menawarkan harapan.

    puisi yg bagus. I feel it. :)

    BalasHapus
  13. sekarang pada juli, aku masih menunggumu:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***