Langsung ke konten utama

Sepotong Senja

Senja di Losari (photo : CLk7)

Aku masih menjaga rindu yang menahun padamu.
Sampai penuh. Terlampau jauh.

Ah...Langit senja sore ini mendadak seperti tak berujung dalam penglihatanku.

Kau. Serupa waktu yang akan berhenti di episode entah.

Komentar

  1. Senang menemukan blog ini, mengingatkan sy juga akan teman yang jauh jika sedang melihat senja. tulisan2nya keren Mbak, :) Inspiratif juga, sy jadi 'teracuni' untuk menulis. hehehe, Salam.

    BalasHapus
  2. Kakaaaaak...

    Subhanallah...
    Losari makin keren aja.
    Jepretannya bagus kak
    :)

    Suatu hari ingin menikmati senja bersamamu di Pantai Losari kak...

    BalasHapus
  3. senja selalu melukiskan makna yang kadang tak mampu terdefinisikan dalam batin :')
    senja senja... kau slalu indah..

    BalasHapus
  4. Senja dan senja. Kalau pribadi saya ya, senja membuat aku galau haha

    BalasHapus
  5. senja... ahh, kau sangat dekat, begitu dekat dihati.. #skripsi :')

    BalasHapus
  6. disini aku tdk benar2 menikmati senja, aroma pekat debu asap jalanan meracuninya sehari-hari #jkt

    losari, senjamu berseri

    BalasHapus
  7. *speechless*

    losari memang tempat paling teduh senjanya, ( untuk sekarang )

    BalasHapus
  8. Tabe Di! Jalan-jalan cari Pantai Losari, ketemuna di sini....

    BalasHapus
  9. masih ada keindahan di kehidupan kita,janganlah takut masih ada secerca harapan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***