Langsung ke konten utama

Jalan Pulang

sketch by clk7
sayangku, bantulah aku menemukan jalan pulang
agar aku segera menyisih dari percakapan riuh duniawi
seperti halnya cintaku padamu, telah kurencanakan
sejak mula aku memetik mawar matamu yang sunyi

tubuh-tubuh yang lelah berkilauan di angkasa
berputar-putar dan bernyanyi tanpa suara
sayangku, bantulah aku menafsir hakekat ketiadaan
sebagaimana kehidupan dan kematian erat berdampingan
[ Jalan Pulang - Muhary Wahyu Nurba ]

Komentar

  1. Semoga jalan pulang kita seperti saat lebaran. Pulang dengan kebahagiaan :)

    BalasHapus
  2. kita andalangku. sa suka sama penciptanya ini puisi. andalang, sama seperti kita., :D

    BalasHapus
  3. Ehem! Apa kabarmu gadis insomnia? :D

    BalasHapus
  4. ig bagusnya, kakak punya FB ga??

    BalasHapus
  5. sayangku, bantulah aku menafsir hakekat ketiadaan
    sebagaimana kehidupan dan kematian erat berdampingan

    Subhaanallooh... Kita sedang menelusuri jalan untuk pulang ke tempat keabadian...

    BalasHapus
  6. Muhary Wahyu Nurba12 Juni 2014 pukul 23.42

    Ah, Yuni, dirimu di sini rupanya. Tak terasa, kembali Juni.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***