Salah satu cara untuk bisa
melihat panorama Banda Neira secara keseluruhan adalah dengan berdiri di puncak
Gunung Api dan hal ini sudah seperti ‘kewajiban’ bagi setiap turis. Jika
kemarin saya hanya menatap gunung yang elok hijau menjulang ini dari belakang
penginapan, kini saatnya merasakan sensasi mendaki dan bermalam di gunung api
yang puncaknya berada pada ketinggian sekitar 666 meter di atas permukaan laut
tersebut. Dan angka tersebut bisa jadi dianggap remeh bagi sebagian orang, jika
dibandingkan dengan ketinggian gunung-gunung lainnya di Indonesia yang
rata-rata berada diatas angka 1000, 2000, bahkan 3000 meter.
Sekitar pukul tiga sore, saya dan
Miz , adik saya, sudah siap dengan segala barang bawaan dan bekal kami.
Makanan, minuman, kantong tidur, matras, tapi tanpa tenda. Cukup nekat memang.
Namun kami berharap cuaca akan bersahabat hingga kami turun gunung esok hari.
Setelah menyeberang dengan perahu ketinting sekitar 5 menit, kami sampai di
titik awal jalur pendakian gunung api yang terakhir meletus pada Mei 1988 silam.
![]() |
Menuju Pulau Gunung Api |
Ini menjadi pengalaman pertama
saya mendaki gunung api yang masih termasuk kategori aktif. Juga menjadi
pengalaman pertama memulai pendakian dari titik nol meter dari permukaan laut.
Treknya yang terus menanjak membuat nafas saya memburu tidak teratur. Belum
lagi kondisi jalurnya yang dipenuhi batuan lepas dan kerikil akibat letusan,
menyebabkan langkah saya sering terperosok turun. Beberapa kali bahkan saya sedikit
merayap agar bisa tetap stabil pada medan yang cukup curam itu. Untungnya ada
banyak ranting dan akar tanaman yang bisa menjadi pegangan. Ah, sepertinya akan
butuh waktu lama hingga kami sampai di puncak.
Benar saja, waktu dua jam lebih
kami tempuh sampai akhirnya bisa berada di ketinggian 666 meter di atas
permukaan laut ini. Di puncak, tidak ada satu pun pepohonan. Hanya tanah
berbatu dan dua cekungan kecil yang sesekali mengeluarkan uap belerang
menyambut kami. Di sebelah barat, jurang yang dalam akibat aliran lahar
menganga lebar. Angin dingin dan kabut tipis mulai menyergap, namun semburat
senja dari ufuk barat dan tanah yang saya pegang seakan memberi kehangatan
tersendiri.
![]() |
Selfie bareng Miz |
Hari mulai gelap. Tidak ada
pendaki di puncak kecuali kami. Segera kami menentukan lokasi yang cukup aman
untuk bermalam, menyusun bebatuan untuk sekadar menghalau angin, menjamak
shalat maghrib dan isya, kemudian beralih membuka bekal makanan sambil
mengobrol. Miz bilang, “jangan-jangan baru kita berdua yang pernah shalat
maghrib disini.” Saya tertawa. Entahlah, tapi mungkin saja. Tak ada yang bisa
kami lakukan lagi setelah itu. Kemudian saya membuka lebar satu kantong tidur
yang kami pakai sebagai selimut nantinya, memilih beristirahat dan berharap
malam itu tidak hujan serta masih bisa bertemu pagi esok hari.
Menjelang tengah malam, tiba-tiba
ada yang merintik basah pada kantong tidur kami. Ah, gerimis! Saya mulai cemas. Bahan kantong
tidur kami memang anti-air, tapi kalau hujan menderas tentulah kami akan kuyup.
Sambil terus memperbaiki posisi tidur agar tertutupi sempurna, saya dan Miz membuat
kesepakatan: jika cuaca memburuk, kami turun gunung malam itu juga. Deal! Sisa
malam itu saya habiskan dengan merapal doa penuh harap cemas, menunggu fajar
tiba.
![]() |
Puas itu kalo udah ngerasain yang beneran! |
Barangkali benar kata seorang
anonim: bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat,
lalu meneruskan perjalanan.
Mau dong selfie sama penulisnya :p
BalasHapus