Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jelajah

Menikmati Banda Neira dari Ketinggian (Part 2)

Target! Salah satu cara untuk bisa melihat panorama Banda Neira secara keseluruhan adalah dengan berdiri di puncak Gunung Api dan hal ini sudah seperti ‘kewajiban’ bagi setiap turis. Jika kemarin saya hanya menatap gunung yang elok hijau menjulang ini dari belakang penginapan, kini saatnya merasakan sensasi mendaki dan bermalam di gunung api yang puncaknya berada pada ketinggian sekitar 666 meter di atas permukaan laut tersebut. Dan angka tersebut bisa jadi dianggap remeh bagi sebagian orang, jika dibandingkan dengan ketinggian gunung-gunung lainnya di Indonesia yang rata-rata berada diatas angka 1000, 2000, bahkan 3000 meter. Sekitar pukul tiga sore, saya dan Miz , adik saya, sudah siap dengan segala barang bawaan dan bekal kami. Makanan, minuman, kantong tidur, matras, tapi tanpa tenda. Cukup nekat memang. Namun kami berharap cuaca akan bersahabat hingga kami turun gunung esok hari. Setelah menyeberang dengan perahu ketinting sekitar 5 menit, kami sampai di titik awal jal...

Berjalan Lebih Jauh ke Banda Neira (Part 1)

Petang sebelum keberangkatan. Satu pesan masuk. “Kamu mau ke Banda Neira?” Saya tersenyum, lalu segera mengetik jawaban. “Ya, tentu saja mau.” Saya tahu pasti bukan jawaban macam itu yang dia inginkan, tapi saya tetap mengirimnya. Tak lama berselang, dia membalas “Kapan mau ke sana?” “Kapan kamu mau mengajak saya?” Saya balik bertanya sambil mengamati riuh ramai di hadapan saya. Pelabuhan Ambon malam ini sibuk sekali. ** Selamat pagi, Banda Neira! Perjalanan ke pulau ini sebenarnya telah saya impikan cukup lama. Semua bermula ketika sahabat saya bercerita tentang keeksotisan pulau yang dijuluki Nutmeg Island ini. Dan sejak itu pula kami berencana untuk menjelajahinya nanti, entah kapan. Tapi hidup memang seringkali dikelilingi hal-hal tak terduga. Saat kesempatan itu ada di depan mata, hanya dua pilihannya: take it or lose it. Saya memilih yang pertama. So now, here i am. Berdua, tapi bukan dengan sahabat saya itu. Menyapa subuh di pelabuhan Banda Neira yang masih d...

Lima Juni di Pulau Osi

Lima Juni ke-duapuluhenam. Hari menjelang siang, namun awan kelabu masih betah menggelayut di langit Waimital. Rintik gerimisnya sukses membuat saya galau semenjak pagi. Ah ya, untuk alasan pekerjaan sekarang saya berada di desa ini, tepatnya di kabupaten Seram Bagian Barat. Mess kantor sepi, hanya saya dan bapak penjaga mess. Sementara rekan yang lainnya sudah bertolak ke Ambon sejak kemarin. Untuk menyenangkan diri, saya berniat menjelajahi daratan Pulau Seram yang masih baru bagi saya ini. Pulau Osi merupakan sebuah dusun di bagian barat Pulau Seram. Sudah diputuskan, saya akan kesana, sendiri! Untuk yang berangkat dari Pulau Ambon, kalian harus menyeberang laut menggunakan kapal Ferry dari pelabuhan Hunimua (desa Liang) untuk bisa sampai di pelabuhan Waipirit (Seram Bagian Barat). Harga tiket cukup terjangkau, Rp.13.500,-/orang. Sementara saya yang berangkat dari mess, yang letaknya cukup dekat dari Pelabuhan Waipirit, tinggal melanjutkan perjalanan darat sejauh 70 kilomet...

Hari Bumi, Ngapain?

Aksi bersih gunung. Itu yang pertama terlintas di pikiran saya ketika diajak untuk nanjak ke Puncak Kayu Satu  oleh kawan-kawan grup FACT alias Female Action Community. Sebenarnya agenda utamanya ya cuma nanjak, gak ngapa-ngapain, sekadar melepas galau (halaah...), karena rupanya pas tanggal 21 April itu, para kartini muda ini lagi mumet mikir nasib diri dan bangsanya. Hahaa... Nah, saya pikir daripada balik dari Puncak kita gak bawa apa-apa selain kenangan, lebih baik kita bawa turun sampah yang ada di sana. Setidaknya sampah itu terlihat lebih nyata. Lagipula momennya juga pas dengan Hari Bumi. Walaupun saya yakin, kita semua gak butuh momen untuk bikin Bumi ini lebih bersih dan nyaman. Selasa sore kami berangkat. Berbekal secukupnya, karena memang kami tidak berniat untuk menginap disana. Anggota berjumlah 7 orang dengan latar belakang yang  berbeda. Ada yang masih sibuk kuliah, sementara susun skripsi, sudah kerja, sok sibuk juga pengangguran. Tapi itulah, wal...

Kopdarnas BLOOF #5: Sebelum Pulang

Setelah penutupan kopdar, malamnya Adi berbaik hati (lagi) mengantar para tamu jauh keliling kota Bandung. Dari Gedung Sate, Dago, Titik Nol, sampai makan tahu gejrot di Gedung Merdeka. Domo arigatou, Opa! ^_^ Satu hari sebelum kepulangan, kami bersiap menuju Kawah Putih dan Situ Patengan. Kali ini Jeng Minten yang bersedia menjadi  tour guide.  Inilah kami, para tamu y ang masih bertahan: kak Pipi, kak Uni, Mae, Supe, Arman dan saya. Well, sampai jumpa lagi, Bandung! ;)

Kopdarnas BLOOF #4 : Lebih dari Sekedar Persahabatan

Kemarin malam, setahun yang lalu. Akhirnya Villa Istana Bunga jadi saksi pertemuan saya dengan mereka yang biasanya hanya tersapa lewat dunia maya. Aih, bahagianya tak terkira! Baru pertama jumpa tetapi bak saudara. Walau hanya anggota dari beberapa daerah yang datang, namun sudah seperti se-Nusantara. Dan Tangkuban Parahu pagi itu jadi tempat ajang berekspresi segala macam rupa. Banyak fotografer, banyak kamera, banyak yang mau jadi model dadakan, jadi banyak foto juga. Saya kehabisan kata menceritakan keseruan hari itu, jadi -kalau pake istilahnya orang Ambon- kas tinggal foto bastori. Semoga semua foto diatas cukup untuk menggambarkan bahwa BLOOF itu "Lebih dari Sekedar Persahabatan".

Kopdarnas BLOOF #3 : (bukan) 5 km

Keluar dari de Ranch, kami bingung mau kemana lagi. Tiba-tiba di ujung jalan, ada penunjuk jalan menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang lokasinya lumayan dekat dari de Ranch. Oke, tujuan sudah ditetapkan. Destinasi baru buat 4 orang pejalan nekat. Maka dengan menumpang angkot, akhirnya kami sampai di tempat ini. Tiket masuk Taman Hutan Raya (Tahura) seharga 7500 per orang. Dari informasi di pintu masuk, diketahui bahwa dalam kawasan hutan lindung ini terdapat air terjun (curug dalam bahasa Sunda), goa Jepang juga goa Belanda. Dan dimulailah petualangan kami siang itu. Dengan berjalan kaki kami melewati jalan setapak, lalu membelok, kemudian menuruni tangga, dan sampailah kami di persimpangan. Tertulis bahwa untuk sampai ke Goa Jepang dan Goa Belanda, kami harus menempuh jarak 5 kilometer! Kalau tetap jalan kaki, bakal kesorean pulang nanti. Aaak..benar-benar tak terduga. Alhamdulillah, gak jauh dari persimpangan itu ada pangkalan ojek yang ternyata memang jadi sarana tran...

Kopdarnas BLOOF #2 : de Ranch

Pagi itu, setahun yang lalu, saya dan kak Pipi udah siap mau jalan-jalan lagi. Abis sarapan, kami packing terus mengungsi ke kosannya Aisa (orang ketiga yang saya kenal setelah Adi dan Qefy kemarin) yang jaraknya ternyata gak terlalu jauh dari lokasi penginapan. Dan berhubung acara Kopdarnas BLOOF baru dimulai pas sore, artinya kami masih punya waktu beberapa jam. Sambil menunggu kedatangan Mae, akhirnya kami memutuskan pergi ke De Ranch aja yang lumayan deket jaraknya. Kami juga udah janjian sama Ajiw untuk ketemuan langsung di tekape. Aisa gak ikutan karena harus ke kampus pagi itu. Untuk masuk ke dalam lokasi De Ranch, kami harus bayar 5000 per orang. Tiket masuk bisa ditukar dengan teh atau susu sapi olahan De Ranch. Yah lumayan, dapat minuman gratis. De Ranch sendiri semacam kawasan wisata keluarga yang bernuansa koboy di daerah Lembang. Banyak wahana yang bisa dimainkan, misalnya naik kuda, flying fox, panahan, balon air, dan memancing. Tapi untuk menikmati wahana-wahana t...

Kopdarnas BLOOF #1 : Kedatangan

Inilah yang terjadi setahun yang lalu. Welcome to Jakarta! Sepagi ini saya dan kak Pipi celingak-celinguk di Bandara Soetta. Menunggu seseorang yang tadinya cuma mau ketemuan doang, eh jadinya malah berbaik hati traktir sarapan trus nganterin sampai ke Bandung. Hahaa..terima kasih kepada Rakhmat Adi Prasetyo atas kebaikanmu setahun yang lalu itu, kami takkan melupakannya :D Sekitar jam 10 pagi nyampe Bandung. Langsung diantar ke penginapan yang sudah di- booking  sama Qefy. Nah, nambah lagi satu tokoh baik hati di cerita saya ini. Seperti yang kamu bisa lihat di gambar, penginapannya nyaman banget. Tadinya mau langsung tepar, eh malah diajak cerita-cerita. Wes laah... Lepas zhuhur, kami diajak makan di kawasan Punclut. Yang paling diingat adalah sambelnya yang pedes gilaaa... Untung daerahnya adem, jadi makannya gak pake acara mandi keringet. Abis makan, langsung balik ke penginapan. Istirahaaaatt...