Langsung ke konten utama

Kopdarnas BLOOF #3 : (bukan) 5 km

Keluar dari de Ranch, kami bingung mau kemana lagi. Tiba-tiba di ujung jalan, ada penunjuk jalan menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang lokasinya lumayan dekat dari de Ranch. Oke, tujuan sudah ditetapkan. Destinasi baru buat 4 orang pejalan nekat. Maka dengan menumpang angkot, akhirnya kami sampai di tempat ini.
Tiket masuk Taman Hutan Raya (Tahura) seharga 7500 per orang. Dari informasi di pintu masuk, diketahui bahwa dalam kawasan hutan lindung ini terdapat air terjun (curug dalam bahasa Sunda), goa Jepang juga goa Belanda. Dan dimulailah petualangan kami siang itu.

Dengan berjalan kaki kami melewati jalan setapak, lalu membelok, kemudian menuruni tangga, dan sampailah kami di persimpangan. Tertulis bahwa untuk sampai ke Goa Jepang dan Goa Belanda, kami harus menempuh jarak 5 kilometer! Kalau tetap jalan kaki, bakal kesorean pulang nanti. Aaak..benar-benar tak terduga. Alhamdulillah, gak jauh dari persimpangan itu ada pangkalan ojek yang ternyata memang jadi sarana transportasi di kawasan Tahura. Setelah negosiasi sama pemilik ojek, akhirnya kami menyewa dua motor dengan tarif tiga puluh ribu per orang. Saya boncengan sama kak Pipi pake motor matic, sedangkan Mae bareng Ajiw pake motor tua yang entah keluaran tahun berapa.


Dan jarak 5 kilometer di dalam Tahura itu berasa jauuuuh banget walau udah pake motor, karena ternyata medannya benar-benar cetaarr membahana. Jalanan paving block yang kami kira bakalan mulus-mulus aja sepanjang lima kilo, kemudian berubah menjadi berlubang dan becek. Belum lagi jalanannya yang berbelok dan naik-turun. Tapi yah, akhirnya sampai juga di Gua Belanda.

Gua yang dibuat pada masa penjajahan Belanda ini, tidak terlalu panjang dan hanya berbentuk segaris lurus. Dari mulut gua, kami sudah bisa melihat pintu keluar di ujung lainnya. Kondisi dalam gua sendiri cukup gelap karena tidak ada sumber cahaya sama sekali dan di sisi kanan-kiri bagian dalam terdapat beberapa ruang yang cukup luas, entah digunakan sebagai apa. Di sepanjang gua juga terdapat rel kereta.
Sore itu, kami tidak melanjutkan perjalanan ke Gua Jepang karena kami harus segera pulang. Maka kami berbalik arah, melewati jalanan lima kilometer yang berlubang dan becek lagi, sambil basah-basahan karena mulai gerimis. Setelah mengembalikan motor sewaan yang sangat berjasa itu, kami melanjutkan ke Curug Omas yang jaraknya cukup dekat, sekitar 300 meter. Terlanjur basah, ya sudah. 
Puas foto-foto di Curug Omas, kami memutuskan untuk (benar-benar) pulang. Melewati jalan setapak yang berbeda, kami tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Tak ada lagi jalan. Akhirnya dengan agak nekat, kami menerobos semak-semak, kemudian melompati pagar pembatas yang lumayan tinggi demi kembali ke jalan yang lurus. Ah ya, untung semua jago manjat. Hahaa..

But that's not the end of this story. Ternyata kalau sudah sore, jarang angkot yang lewat daerah itu. Setelah menunggu cukup lama dengan perasaan agak khawatir pulang tidak tepat waktu, muncul ide iseng untuk menumpang mobil pick up yang lewat. Maka dengan modal 'jempol', aksi kami berbuah hasil. Sebuah mobil pick up berhenti, dan saya mulai bernegosiasi dengan sang supir. Beliau bersedia mengantar kami. Bukan ke terminal terdekat, tapi bahkan sampai ke jalan masuk kosannya Aisa! Aih, terima kasih pak supir. Sepanjang jalan, kami berempat yang sempat dikira santriwati Daarut Tauhid ini cuek aja hujan-hujanan di atas pick up karena gak ada yang kenal kami di kota ini!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***