Langsung ke konten utama

Kopdarnas BLOOF #1 : Kedatangan

Inilah yang terjadi setahun yang lalu.


Welcome to Jakarta! Sepagi ini saya dan kak Pipi celingak-celinguk di Bandara Soetta. Menunggu seseorang yang tadinya cuma mau ketemuan doang, eh jadinya malah berbaik hati traktir sarapan trus nganterin sampai ke Bandung. Hahaa..terima kasih kepada Rakhmat Adi Prasetyo atas kebaikanmu setahun yang lalu itu, kami takkan melupakannya :D


Sekitar jam 10 pagi nyampe Bandung. Langsung diantar ke penginapan yang sudah di-booking sama Qefy. Nah, nambah lagi satu tokoh baik hati di cerita saya ini. Seperti yang kamu bisa lihat di gambar, penginapannya nyaman banget. Tadinya mau langsung tepar, eh malah diajak cerita-cerita. Wes laah...


Lepas zhuhur, kami diajak makan di kawasan Punclut. Yang paling diingat adalah sambelnya yang pedes gilaaa... Untung daerahnya adem, jadi makannya gak pake acara mandi keringet. Abis makan, langsung balik ke penginapan. Istirahaaaatt...

Komentar

  1. waktu itu ga ikutan.. aku lagi magang deh kayaknya. huhu
    kapan yaa bloof kopdarnas lagi? :)

    BalasHapus
  2. Berarti besok tentang 5KM kita haha

    BalasHapus
  3. KEnapa tak diulangi lagi tahun ini :D

    BalasHapus
  4. heeehh bayaaarrr >.< :p

    seru ya setahun yang llu.. dan kebetulan hari ini gw juga ke bandara..
    hahah dan kebetulan juga gw harus balik ke bandung hari ini

    see you in bandung :)

    BalasHapus
  5. Adeuuuuh, serius dah jadi kangen kaliaaaan.... *peluksatu-satu*

    BalasHapus
  6. sok atuh kapan kopdarnas lagi.....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***