Langsung ke konten utama

Dekat

wish you were here (photo by ary)

segala hal memang selalu berubah, Sora.

sekarang mungkin kau baru mengerti, mengapa dulu aku suka sekali menjabat tanganmu erat-erat dan menatap matamu lekat-lekat, mendekatkan diri padahal ruang sekitar kita tak sempit. haha...itu semua hanya trik, kawan. Agar aku bisa dekat denganmu tentu saja. 

sama seperti ketika menggambar lingkaran tanpa putus, maka aku tak akan rela jika ada jarak yang menghalangiku merasakan sentuh lututmu saat kita duduk berhadapan.  

tapi kini, mereka yang kau temui kemarin tak lagi ada disampingmu, Sora. aku tahu, keadaanmu sekarang pasti jauh berbeda seperti kita bersama dulu. ah..bersabarlah. bersama waktu, kau akan membuat segalanya membaik.

sekarang kau boleh mendengarkan nasehatku. jika nanti kau bertemu seseorang yang baru di sana, cobalah trik yang pernah kupraktekkan padamu dulu. jabat erat tangannya, lalu tatap lekat matanya. jika kalian duduk berhadapan, dekatkan lututmu padanya. jangan hanya sekali. lakukan berkali-kali, setiap kalian bertemu.

kelak sebelum kau sadar, Tuhan kita yang Maha Dekat itu telah mendekatkan hati kalian.

sudah ya. baik-baik di sana. aku merindukanmu, penuh!

ps: jika nanti kalian sudah dekat, sampaikan salamku untuknya ya ;)


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***