Langsung ke konten utama

Menjaga, Ara


: untuk Ara

Barangkali beginilah cara kerja sebuah ujian. Selalu datang dari apa-apa yang paling kita anggap berharga dalam diri, paling kita besarkan oleh hati dan dijunjung tinggi dalam hidup. Belakangan, aku baru sadar akan hal ini.

Kamu pasti ingat kisah tentang Ibrahim yang dikenal dengan rasa cintanya yang besar pada keluarga dan anaknya. Lalu datanglah ujian itu, antara mengabaikan perintah Tuhan atau mengorbankan yang tercinta. Juga cerita Maryam yang tak pernah terjamah lelaki, namun diuji dengan kelahiran seorang anak dari rahimnya yang suci. Kemudian ada pula Muhammad yang dipercaya penjuru negeri tersebab kejujurannya, justru ketika membawa kebenaran dari langit, ia dituduh berdusta.

Jika kamu pernah mendengar seseorang berkata "menjauh berarti menjaga", maka anggap saja dia benar. Bisa jadi kita memang harus menjaga diri dari segala yang belum waktunya  masuk dalam lingkaran hidup kita. Membiarkan semesta menjalankan titah Tuhan.

Maka mari saling menjaga, Ara. Tuhan tahu kita ini makhluk yang sulit menjaga, penuh rasa tidak tega, sehingga Dia memberi ujian semacam ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah melulusinya. Kita bisa kan?! ;)

Komentar

  1. insyaAlloh bisa :) setidaknya bisa berusaha...

    BalasHapus
  2. Dalem banget, mbak :"). Ini fiksi, kah? Keren :)
    Salam hangat sesama Bloofers { }

    BalasHapus
  3. Menjaga Ara.y Hingga Sang Wali Berucap sah Non Yah... Hehehe Nice Post :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Gunung Bulusaraung

“Bukan PENIKMAT, tapi PECINTA alam, karena orang yang CINTA akan menjaga, karena orang  yang CINTA akan melestarikan.” (BS, 5 Juni 2011) Ini kali ketiga saya pergi mendaki. Setelah lembah Ramma dan Bawakaraeng, kali ini giliran Bulusaraung. Jika waktu ke Ramma saya hanya sampai puncak Tallung dan ketika ke Bawakaraeng perjalanan terhenti di pos 7, maka pada ekspedisi kali ini Puncak Bulusaraung benar-benar dapat saya taklukkan. Saya berhasil menjejakkan kaki 1353 meter jauh diatas permukaan laut. Dan yang membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan, karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Menuju Perut Besar (Gunung Lompobattang)

"Tuhan tidak mempercepat kematian dengan mendaki gunung, dan tidak memperlambat kematian dengan tidak mendaki gunung, Tuhan akan bersama orang-orang yang pemberani" [terpahat di suatu tugu memoriam menuju puncak Lompobattang] *** suatu jum'at bertanggal tiga belas. cerita bermula dari sakau mendaki yang menjadi-jadi, kejutan dari tamu tak diundang, hingga menunggu yang sangat membosankan. waktu terus berdetak dan menjelang gulita segalanya mulai berbalik menyenangkan. konsolidasi antara langit, bintang dan dingin malam itu sukses. saya bahagia! ya, esok hari saya akan kembali mengejar ujung-ujung langit. menuju satu titik lewat pijak payah dan lelah. berdiri sejajar awan, melihat bintang lebih dekat, bebas menghirup dalam-dalam udara tanpa polusi. sensasi luar biasa yang hanya bisa dirasakan ketika menapaki pasak-pasak bumi. ***