7 Juni 2014

Lima Juni di Pulau Osi

Lima Juni ke-duapuluhenam.

Hari menjelang siang, namun awan kelabu masih betah menggelayut di langit Waimital. Rintik gerimisnya sukses membuat saya galau semenjak pagi. Ah ya, untuk alasan pekerjaan sekarang saya berada di desa ini, tepatnya di kabupaten Seram Bagian Barat. Mess kantor sepi, hanya saya dan bapak penjaga mess. Sementara rekan yang lainnya sudah bertolak ke Ambon sejak kemarin. Untuk menyenangkan diri, saya berniat menjelajahi daratan Pulau Seram yang masih baru bagi saya ini.

Pulau Osi merupakan sebuah dusun di bagian barat Pulau Seram. Sudah diputuskan, saya akan kesana, sendiri! Untuk yang berangkat dari Pulau Ambon, kalian harus menyeberang laut menggunakan kapal Ferry dari pelabuhan Hunimua (desa Liang) untuk bisa sampai di pelabuhan Waipirit (Seram Bagian Barat). Harga tiket cukup terjangkau, Rp.13.500,-/orang. Sementara saya yang berangkat dari mess, yang letaknya cukup dekat dari Pelabuhan Waipirit, tinggal melanjutkan perjalanan darat sejauh 70 kilometer ke arah barat.

Perjalanan menuju Pulau Osi sangatlah menyenangkan. Pesona alam Pulau Seram yang masih alami berhasil membuat saya ‘norak-norak bergembira’ sepanjang jalan. Nyengir tak jelas, malah tak jarang saya berteriak di atas motor karena kegirangan. Seperti orang jatuh cinta! (ups..) Untungnya jalur Lintas Seram ini masih jauh dari kata ramai, jadi saya tak perlu khawatir disebut gila. Melewati beberapa perkebunan kelapa, pemukiman warga, jalan berliku khas pegunungan, mata saya terus dimanja pemandangan indah. Cuaca pun bersahabat. Masya Allah…keren! Tiba-tiba teringat bukit-bukit hijau di film anak Teletubbies, membuat saya ingin berucap: “Berpelukaaaann!” Ah, tapi kemudian saya sadar, saya sendiri.
Masya Allah!
Ada takjub di balik tikungan
Tiba-tiba pengen bilang: "Berpelukaaaann..."
Jalur Lintas Seram yang sepi
Sukses bikin saya norak diatas motor
Selfie sambil tancap gas :D
Berhenti di dusun Pelita Jaya, Pulau Osi sudah cukup dekat. Melewati jalanan sirtu (pasir-batu) sekitar 3 kilometer, sampailah saya di gerbang Pulau Osi. “Alhamdulillah, gak nyasar,” batin saya sambil tersenyum penuh kemenangan. Dari gerbang, ternyata masih ada jarak sekitar 3 kilometer lagi untuk sampai di dusun Pulau Osi. Satu-satunya akses adalah jembatan kayu yang merupakan hasil swadaya masyarakat yang kemudian diberi nama jembatan Karel Albert Ralahalu, sesuai nama Gubernur Maluku yang meresmikannya beberapa tahun lalu. Untuk kendaraan, hanya motor yang diizinkan melintas.  Oleh karena itu, bagi yang tidak ingin berjalan, sudah tersedia jasa ojek di depan gerbang.
Welcome to Pulau Osi
Disambut hutan mangrove
Memasuki gerbang, saya disambut populasi hutan mangrove (bakau) di sisi kanan-kiri jembatan. Pulaunya dikelilingi karang dan pasir putih, dengan perairan yang cukup dangkal ditumbuhi lamun.  Terdapat pula jejeran pohon kelapa, lengkap dengan tiupan angin pantai yang membuat saya betah berlama-lama menikmatinya. Jika ada yang ingin bermalam, terdapat pula fasilitas penginapan milik penduduk setempat. Harganya mulai dari Rp.100.000,-/malam.
Salah satu fasilitas resort di Pulau Osi
Ketika sedang asyik masyuk berfoto selfie, tiba-tiba seorang bapak bermotor berhenti di ujung jembatan. Beliau menawarkan diri untuk memotret saya dengan latar belakang pulau. Merasa tidak enak hati, saya menolak dengan halus. Tapi (sepertinya) si bapak tahu isi hati saya yang sebenarnya, maka beliau terus mendesak sampai akhirnya saya ‘terpaksa’ menerima tawarannya. Sekali jepret, cukup.

'Terpaksa', tapi girang -_-
Namun, dari situlah obrolan panjang kami bermula. Kami pun berkenalan. Pak Sainuddin namanya. “Pakai S ya, bukan Z”, katanya ketika saya hendak menyimpan nomor ponsel beliau. Beliau kemudian bercerita panjang lebar mengenai pulau, kondisi masyarakat, hingga menanyakan beberapa hal tentang saya. “Kamu sendirian kesini? Pacarnya mana, koq gak diajak?” Glek! Saya tercekat. Tidak perlulah kalian tahu apa jawaban saya atas pertanyaan beliau itu. Yang jelas, sebelum saya pamit pulang, saya berjanji akan datang kembali nanti, bersama pacar saya.

Sebagai kalimat penutup, jangan pernah takut melakukan perjalanan sendiri di tanah yang masih asing sekalipun. Karena sesungguhnya masih banyak orang baik yang bersedia membalas senyum ramahmu dan menjawab pertanyaan: “kalau mau ke tempat ini, lewat mana ya?”