16 Oktober 2012

Pulau Kodingareng Keke

Bermula dari rasa rindu menatap laut lepas dan galau pengen menginjak pasir pantai, saya nekat merencanakan perjalanan lintas pulau bareng teman-teman. Kali ini cewek semua: kak Pipi, Abel, Awa, Lara, Athifah, Mitha, kak Nunu, Ayi, Nur, Uthy dan saya sendiri. Pokoknya bukan pulau yang jauh, jadi gak perlu menginap. Juga bukan pulau yang rame, biar bebas berekspresi. Dan dari hasil wawancara dan browsing sana-sini, akhirnya pulau Kodingareng Keke-lah yang ditetapkan menjadi destinasi perjalanan 'nekat' ini.

Jam tujuh pagi, kami bersebelas janjian ngumpul di dermaga penyeberangan Kayu Bangkoa, sekitar pantai Losari. Untuk bisa sampai kempulau Kodinagreng Keke, kami harus menyewa kapal dari sini. Harga sewa kapal tergantung kesepakatan dengan pemiliknya. Kemampuan harus total kita keluarkan biar bisa dikasih harga murah. Untuk urusan ini, saya serahkan ke kak Pipi dan Mitha. Saya hanya membantu seperlunya.

Oke, setelah proses tawar-menawar yang panjang karena pake adegan memelas ala mahasiswa, akhirnya si pemilik kapal bersedia mengantar kami pulang pergi ke pulau tersebut dengan bayaran Rp.400.000 per kapal. Nah, sebenarnya kapasitas kapalnya sendiri bisa memuat 10-12 orang. Namun karena cuaca pagi itu kurang bersahabat alias agak berombak, rombongan terpaksa kami bagi dua sehingga kami harus menyewa 2 kapal.

Sekitar jam 9 pagi, akhirnya kami siap berlayar. Perjalanan ke pulau memakan waktu sekitar 45 menit. Selama itu pula kami disuguhi panorama perairan Makassar yang tidak biasa kami lihat. Juga beberapa pulau yang bisa kami lihat dari atas kapal, di antaranya pulau Lae-lae, Baranglompo, Samalona juga Kodingareng Lompo yang letaknya cukup dekat dari pulau tujuan kami ini.
Dari kejauhan, saya memicingkan mata. Tampak pulau Kodingareng Keke dengan gundukan pasir putih memanjang dan ditumbuhi beberapa pohon saja. Juga dermaga kayu kecil yang menjorok ke arah laut. Sepi. Benar-benar sepi. Pulau Kodingareng Keke seperti tak berpenghuni.


Beberapa saat kemudian, kapal kami pun bersandar di bibir pantai. Alhamdulillah...Rasa capek karena terlalu lama menunggu juga lapar karena belum sarapan, langsung pergi entah kemana ketika kaki kami mulai bersinggungan dengan pasir pantai yang putih. Mata kami melihat sekeliling, hanya ada kami di pulau ini. Tampak beberapa nelayan sedang mencari ikan di sekitar pulau. Lewat cerita dari mulut pemilik kapal, kami akhirnya tahu bahwa dahulu pulau ini sempat berpenghuni. Namun sekarang sudah tidak lagi. Maka jadilah kami seperti pemilik pulau kosong ini.
Turun dari kapal, kami mulai mencari tempat untuk berteduh dan menyimpan barang bawaan. Setelah mengisi perut kosong, kami pun siap menjelajahi tiap jengkal pulau ini dan mengabadikannya dalam gambar. 

1 Oktober 2012

Saudara itu ...

 Saudara itu dekat, saat yang lain jauh...
Aku tidak pernah menyangka kita akan sedekat ini sekarang. Tidak sama sekali. Bahkan ketika awal perjumpaan kita di masjid itu. Kemudian berlanjut dimana-mana. Pinggir pantai, padang ilalang, tepian sungai, tempat makan, layar lebar, hotel mewah, rumah sederhana, tenda pleton, perahu karet, pelataran benteng. Kecuali satu yang entah kapan: puncak gunung. 

Saudara itu menguatkan, saat yang lain lemah...
"Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu!" Kata-kata andalan kita. Karena kita sama tahu bahwa apapun yang pernah datang dalam kehidupan dan membuat kita jatuh, Allah hanya akan membersamai orang-orang yang sabar. Bukan orang yang putus asa, atau bahkan lari.

Saudara itu mengingatkan, saat yang lain lupa...
Saat itu menjelang petang. Kau mengingatkanku. Bukan hanya hari itu, tapi juga pada banyak hari sebelum dan sesudahnya. "Untuk kalian yang pergi dengan meninggalkan ruang kosong di hati. Terima kasih. Tanpa sadar, kalian telah mengajari kami tentang ketulusan." Ya, kau mengingatkanku untuk berterima kasih. Pada mereka.

Saudara itu menenangkan, saat yang lain gelisah...
"Semoga semua perasaan baik-baik saja." Walau aku sendiri tak tahu, tapi setidaknya jawaban "Pasti!!!"-mu dulu itu cukup membuatku tenang. Mungkin kau perlu membaca deretan kata-kata ini : "Karena perasaan itu tidak konstan, bahkan batu sekalipun. Waktu akan memaksanya berubah sesuai ruang yang ditempatinya. Dan itu karena satu hal kak, pertemuan." Seorang adik lelaki pernah meyakinkanku begitu, dan kurasa aku sepakat dengannya.

Saudara itu selalu mengharap kebaikan untuk saudaranya yang lain...

Hari miladku, sepenggal doamu tertulis. "Semoga menjadi lebih baik dan tetaplah menjadi cahaya pendar di setiap keberadaanmu." Aku sedang berusaha mewujudkan kalimat doamu itu agar menjadi nyata.

Hari ini, hari miladmu. Banyak harapan yang kuterbangkan ke langit. Semoga kelak surga Allah menjadi milik kita, juga saudara-saudara kita dengan segala kekhasan yang kita punya dan perjuangan yang kita lakukan.

)|(

Sakiya Musta'inah. Gadis suci yang senantiasa meminta pertolongan (pada Allah). Barusan saja aku iseng mencari makna namamu. Entah, apa ini sama dengan maksud pemberian orang tuamu. Semoga saja. Barakallah kakak :)