28 Februari 2017

Teman Seperjalanan

In Frame: Rum

"
Jika kusebut tentang 'teman seperjalanan' apa yang ada dalam benakmu?" 

Kubaca ulang chat darimu. Ah, seperti apa harus kujawab pertanyaan ini. Kuketik beberapa kalimat, kemudian kuhapus lagi. Walaupun jarakmu beratus kilometer dari kota ini, tapi rasanya  terlalu memalukan jika harus jujur. Kususun lagi kalimat yang cukup aman bagiku. 

"Ngg..tentang orang-orang yang berada dalam perjalanan yang sama...." 

Aku berhenti mengetik. Kutatap benang hujan yang perlahan merintik di luar jendela. 

---

Kamu mungkin tak tahu, betapa inginnya diriku seperjalanan denganmu, selalu. Namun aku tetaplah ganjil, hingga kamu genapkan. Dan kamu, masihlah teka-teki yang belum bisa aku pecahkan.

Mereka bilang, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan. Tapi kemudian aku bertanya: apa tujuan kita sama? Aku, kamu, mulai berangkat dari titik masing-masing dan di persimpangan jalan yang mana akan bertemu, kita tak pernah tahu. Yang kita tahu, kita hanya perlu terus berjalan atau kita akan kehilangan kesempatan. 

Membersamaimu adalah satu  dari pengabulan Tuhan yang selalu aku rapalkan, aku eja di antara lidahku yang tak pernah fasih bicara cinta. Dan ketika aku merasa tersesat dalam menentukan arah pulang, justru kompas hatiku selalu mengarahkanku padamu: utaraku. 

Aku sadar, ada hari-hari panjang yang tentunya tidak akan selalu baik-baik saja, nanti. Akan ada kesibukan yang mungkin akan memakan sebagian hidup kita berdua. Tapi yakinlah, untuk segala perubahan atau apapun yang akan hilang dariku, serta tiap langkah lelah yang nanti kita ambil, selalu akan kuusahakan ketenangan bagi perasaan kita.

Semoga kelak kita bisa menjadi salah satu alasan bertahan untuk masing-masing. Kamu sebagai alasanku, pun sebaliknya.

---

Ku kuatkan hatiku lagi. 
Buru-buru kuhapus kalimatku sebelumnya dan mulai mengetik baru.

Kamu. Yang ada dalam benakku adalah kamu. Aku selalu membayangkan kamu yang akan menjadi teman seperjalananku. Bagaimana jika aku melamarmu?

Kutekan tulisan send pada layar HP.

Dua tanda centang berubah menjadi biru.

*****

Namrole, 27 Februari 2017
Tulisan ini untuk Rum, teman seperjalanan yang entah kapan.

16 Agustus 2015

Jarak

photo by CLk7 

Ada beberapa pilihan sulit dalam hidupku, salah satunya adalah saat memilih untuk jauh darimu. Hal yang sebenarnya enggan, namun tetap kulakukan untuk sesuatu yang dianggap sebuah kebaikan. Entah menurut siapa. 

Dan disinilah aku berada sekarang. Melangkahi batas nyaman, untuk belajar lebih banyak tentang apa itu sabar dan syukur. Untuk mengubah segala keluhan hidup menjadi sesuatu yang menguatkan pijak. Untuk bisa memaknai bahwa raga yang berjarak bukanlah apa-apa selama hati kita senantiasa bersisian.

Maka diantara jeda ini, akan ada saatnya kita memilih untuk saling menitip rindu pada langit, angin, atau pada apa saja. Pun dalam spasi, tak perlu ada tanya "kapan akhir perjalanan? ", karena bentangan jarak semacam ini mungkin akan kita harap-harap lagi. 

Lagipula, bukankah jarak sesungguhnya hanya ada ketika aku dan kamu mulai luput dari ingatan masing-masing? 

27 Juni 2015

Humsafar


Mari kukisahkan padamu, tentang mimpiku bertahun silam.
**
Saat itu matahari pagi baru saja muncul dari ufuk timur. Aku, entah darimana, sudah berada di puncak sebuah menara. Di sanalah aku melihatnya, perempuan itu, sedang berdiri membelakangiku dengan rambut panjangnya yang terurai sempurna. Menebar pesona yang tak terpermanai. Aku mendadak bisu.

Hal aneh terjadi. Aku seperti sudah memiliki perasaan yang mendalam padanya. Seolah aku telah mengenal lama dan berkeyakinan bahwa kami akan bersama.

Sedetik kemudian, perempuan itu menoleh padaku. Aku tertegun tak percaya. Dia. 

***
Satu dekade setelah mimpi itu. Aku tengah melayangkan pandangan ke sebuah puncak menara,  sambil menggandeng tangan seseorang. Perkenalkan, dia perempuanku,  perempuan di dalam mimpi: Humsafar. Dan kami sedang di Madinah.

4 Juni 2015

photo by CLk7 

Selamat pagi, hujan pertama.
Seperti apa rasanya rindu yang tuntas?

Apakah sama ketika aku menulis puisi tentang dia, namun terus memilih bersembunyi di balik metafora.

Apakah serupa aku yang buru-buru mengalihkan pandang saat bertemu mata, padahal sebenarnya enggan.

Seperti apa rasanya?

Atau barangkali, sejatinya, tak pernah ada rindu yang benar-benar tuntas?

3 Juni 2015


Bila sampai waktunya,
aku ingin tak ada nestapa.

Sementara aku akan menangisi perpisahan,
tanpa airmata duka,
tanpa isak lara.

Bila sampai waktunya,
aku akan telah kuat melepas pergimu,
duhai Lelakiku.