30 November 2014

#DIYproject: Replica of D90


Beberapa hari lalu, saya iseng googling tentang kamera kertas. Ceritanya lagi pengen bikin #DIYproject gitu. Lalu terdamparlah saya di sini. Keren! Jadi pengen bikin juga.

Keesokan paginya, saya mulai sibuk nyari kardus bekas yang agak tebal. Alhamdulillah, dikasih gratis sama penjaga toko di depan kompleks. Kamera yang saya mau coba bikin replikanya adalah Nikon D90 punya teman.

Bimsalabim jadi apa, prok prok prok!
Alat yang dipakai untuk project ini sih standar aja: gunting, lem dan cutter. Selain itu, juga harus punya stok kesabaran dan ketelitian yang lebih, karena ada beberapa bagian yang lumayan bikin "mikir".

Dan setelah mendekam dalam kamar sambil menahan lapar, akhirnya jadi juga deh. Voila!





~ Bunch of thanks, to you and Fath :)

Lapak Baca Semesta


Gimana ceritanya?
Dipelopori oleh enam makhluk perempuan yang doyan baca, ditambah susah banget nyari komunitas baca di Ambon, maka muncullah ide untuk membuat Lapak Baca Semesta ini. Tapi tentu saja gak serta-merta langsung "criiing...jadi!". Kalo gak salah, sekira 2 bulan lah untuk mempersiapkan ini-itunya.

Tujuannya apa?
Supaya bisa menumbuhkan minat baca yang mulai hilang di kalangan anak mu. Soalnya kami lihat, minat baca di kalangan anak muda masih kurang banget. Lagian di lapak ini kita bakal baca bareng, jadi terkondisikan deh.

Trus bukunya dari mana?
Buku-buku di lapak ini berasal dari koleksi pribadi kami sendiri. Kebanyakan novel dan fiksi sih. Tapi ada juga buku motivasi, walaupun gak banyak. Kami juga gak menutup diri kalau misalnya ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya untuk lapak ini.

Kegiatannya kapan? Dimana?
Untuk sementara, Lapak Baca Semesta cuma sekali sebulan dulu, dengan durasi sekitar 2 jam. Tempatnya di Pattimura Park. Belum bisa buka lapak di sekolah atau kampus. Mengenai info tanggal dan lain sebagainya, bisa lihat di fanspage FB kami Sahabat Semesta atau follow twitter @sahabat_semesta.

Harapan kedepannya gimana?
Kami berharap akan banyak volunteer yang mau berpartisipasi dalam Lapak Baca Semesta ini, sehingga koleksi buku kami bertambah dan variatif. Nantinya kami juga mencitakan untuk memiliki tempat yang permanen semacam rumah baca. Tapi yang paling penting, semoga Lapak Baca Semesta bisa jadi sarana positif untuk mengembangkan potensi yang kami miliki.

Join with us! ;)

27 November 2014

Kontemplasi

Duduk, dengar, rasakan! (clk7 di Bawakaraeng)

Lima hari lalu, dalam pengajian pekanan, guru ngaji saya menegaskan bahwa: "Hakikat sebuah ujian adalah sabar dan syukur. Hanya dua hal itu. Dan Allah akan menguji hambaNya selalu pada titik terlemahnya. Jika kita belum melulusinya, maka Allah akan menguji lagi, lagi, lagi, sampai kita lulus!"

Tujuh hari sebelumnya, beliau bercerita tentang kisah Thalut dan ketaatan pengikutnya seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 249: "Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka."

Tepat sepekan sebelumnya. "Gak semua yang kita sukai itu baik untuk kita. Pun sebaliknya. Allah lebih tahu, dan kita seringkali melupakan hal itu." Waktu itu, saya manggut-manggut mendengar nasehat beliau ketika menyadur ayat ke-216 pada surat kedua dalam Al-Qur'an.

***
Dini hari ini ketika sedang berpikir dan mempertanyakan banyak hal, tiba-tiba saya teringat kembali pada kata-kata beliau selama tiga pekan terakhir. Sesaat saya sadar, semua ini semacam pengkondisian dari Allah. Agar saya siap dan tidak gegabah dalam mengambil langkah. 

Betapa bodohnya saya karena sempat memprotes ketetapan Allah saat dihadapkan pada situasi yang diluar rencana diri?

Jangan-jangan Allah menguji saya lagi, dengan hal serupa, karena "dulu" saya belum lulus?

Karena Allah tahu titik terlemah saya, sehingga mengirimkan saya pada mereka yang menjunjung kalimat "kami dengar dan kami taat"?

Ghufraanaka Rabbanaa, wa ilaikal mashiir...

20 November 2014

Espérame

photo by CLk7

Teruntuk Sora,

Kita memang tidak pernah tahu konspirasi semesta macam apa lagi yang sedang menanti kita di depan. Serupa kebutaanku bahwa hubungan kita akan seperti ini sejak kali pertama aku menjatuhkan pandangku untukmu.

Satu dekade, dan banyak hal telah berubah. Musim berganti rupa dalam salinan yang baru, sedangkan aku masihlah lelaki pemalu yang selalu gemetar ketika harus berdiri di dekatmu. Apalagi jika harus menguraikan perasaanku padamu. Ah, aku seperti tak punya kuasa untuk itu.

Tapi aku ingin jujur, dan kau boleh tertawa mendengarnya. Aku selalu menanti kapan kita akan bertemu lagi, atau sekadar menunggu pesan singkat darimu walau hanya berisi sebuah sapaan "Selamat pagi, Rei!" Hal-hal remeh, namun membuatku candu.

Silakan sebut aku gombal atau apalah, namun  perasaan ini, entah sampai kapan aku akan kuat membendungnya. Kau semisal hujan yang terus merintik, sementara aku mulai rapuh kau hujam berkali-kali.

Sekarang masih banyak mimpi, harapan, keinginan dan hal lainnya yang belum aku lakukan. Padahal aku sudah terlanjur berangan ingin menggenapkannya bersamamu.

Pertanyaannya: bersediakah kamu?


dari yang ingin membersamaimu,
Rei