Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Almanya : Welcome to Germany

postingan kali ini saya akan membahas salah satu film yang saya tonton pas Festival Film Jerman bareng Atun dan Emi kemarin malam. judul aslinya 'Almanya: Willkommen in Deutschland' yang berarti 'Almanya: Selamat Datang di Jerman'. dalam bahasa Turki, Almanya berarti Jerman.


cerita bermula ketika Cenk, seorang anak berusia 6 tahun mendapati kampung halaman orang tuanya (Anatolia) bukan bagian dari Eropa pada peta sekolah. sepulangnya dari sekolah, dia bertanya pada sang kakek, "Dede (sebutan untuk kakek), apakah kita orang Jerman atau orang Turki?"
kemudian cerita berlanjut pada komedi petualangan keluarga mereka di masa lalu yang diceritakan Canan, sepupu Cenk. alur cerita yang maju-mundur menjelaskan tentang kehidupan sang kakek (Huseyin) yang merupakan seorang imigran asal Turki yang harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk kemudian bekerja di Jerman, sampai pada usaha mereka untuk menjadi warga negara Jerman. setelah 45 tahun menetap di Jerman, kemudian …

Lillah..Fillah

tentang niat yang kadang ternodai, tentang pemahaman yang masih tak sempurna, tentang keikhlasan yang selaludipertanyakan, tentang kesungguhan yang dianggap tak sungguh-sungguh, tentang kemantapan hati yang terbolak-balikkan, tentang komitmen yang kurang mengakar, tentang capaian yang mungkin tak maksimal, tentang kepercayaan yang merasa dikhianati, tentang kerja-kerja yang dipandang sebelah mata, tentang prasangka yang muncul di kepala-kepala mereka,
tentang fitnah dan caci maki yang diterima,
tentang apapun itu, tetaplah bekerja, berbuat yang terbaik, dan selalu yakinkan diri, semoga hanya Allah yang benar-benar menjadi tujuan kita

"bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu.."
[QS. At-Taubah : 105]

Yang kita perlu sekarang cuma .......

.............................
Keenam sahabat masih mendongak mengagumi Mahameru.
"Ta..."
"Iya, Yan."
"Nanti kita akan ke sana? Berdiri di puncak itu? Berdiri di sana?"
"Iya..."
"Tinggi banget, Ta..."
"Iya."
"Bisa apa kita, Ta?"
Genta terdiam, matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam.
"Yakin kita bisa?" tiba-tiba Genta menoleh ke teman-temannya dan menatap tajam satu per satu.
"Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini." Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya.
Genta tersenyum.
"Kalo begitu...yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja."
"Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,"…
setiap lembar sudah tercetak
saatnya beranjak dari kotak biru
tidak lama lagi, akan kudapati engkau


#terima kasih Tuhan

Kita dalam Prasangka Mereka

kita hidup di antara sanjung dan puja manusia. membuat kita hilang hati dengan segala prasangka baik tentang diri. hingga terkadang lupa bahwa kita masih jauh dari batas sempurna, walau kita paham betul limit itu tentu takkan pernah bisa kita capai.
suatu waktu, mungkin pernah terpikir bagaimana jika prasangka mereka tidak jauh lebih baik daripada kenyataannya? bukankah itu dirasa sebagai kebohongan, walaupun kita tak pernah bermaksud melakukannya. lalu jika pada akhirnya mereka tahu, akankah mereka tetap mau membersamai kita? ketakutan-ketakutan itu pasti pernah melintas dalam ruang pikir kita. dan manusia, sejatinya akan meniru rembulan. hanya menampakkan sisinya yang bercahaya, sementara menyembunyikan sisi gelapnya. 


maka mari kita jaga prasangka baik mereka, dengan melakukan yang terbaik seraya berdo'a seperti yang diajarkan salah seorang sahabat Rasulullah:

Hijrah, Antara Kemarin dan Hari Ini

membahas soal hijrah, pasti kita langsung teringat sama peristiwa berpindahnya Rasulullah dari bumi Mekkah ke Madinah. pada saat itu, dakwah Rasulullah mendapat tekanan dari lingkungan di sekitarnya dan Allah memerintahkan Rasulullah beserta pengikutnya untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik awal penanggalan hijriyah yang kita kenal sekarang. 
nah, kata 'hijrah' itu sendiri memang berarti pindah. secara khusus, arti hijrah berhenti pada peristiwa tersebut. namun secara maknawi, hijrah memiliki penjelasan yang luas. hijrah bisa diartikan meninggalkan sesuatu menuju kepada sesuatu yang lain untuk mendapat keadaan yang lebih baik. perubahan sikap, penampilan dan pola pikir seseorang terhadap sesuatu pun bisa dianggap hijrah.
terkait masalah ini, entah mengapa Allah menakdirkan saya untuk berziarah ingatan tentang proses 'hijrah' saya dulu. dimulai dari pengajian pekanan tadi siang, ketika kelompok kami membahas soal hijrahnya…

Kenapa Mendaki Gunung?

kata George F.Mallory (meninggal di Everest), "because it's there" - karena gunung itu ada, makanya didaki


kata Soe Hok Gie (meninggal di Mahameru), "karena aku mencintai hidup"

kata Norman Edwin (meninggal di Aconcagua), "karena aku menghargai kehidupan ini"

kata saya (meninggal di ###), "hanya suatu wujud refleksi atas kesyukuran kita..atas hidup, atas alam dan atas bumi yang hanya kita singgahi sementara"

kata kamu???

ini dia jawaban mereka: