25 Januari 2012

Almanya : Welcome to Germany


postingan kali ini saya akan membahas salah satu film yang saya tonton pas Festival Film Jerman bareng Atun dan Emi kemarin malam. judul aslinya 'Almanya: Willkommen in Deutschland' yang berarti 'Almanya: Selamat Datang di Jerman'. dalam bahasa Turki, Almanya berarti Jerman. 



cerita bermula ketika Cenk, seorang anak berusia 6 tahun mendapati kampung halaman orang tuanya (Anatolia) bukan bagian dari Eropa pada peta sekolah. sepulangnya dari sekolah, dia bertanya pada sang kakek, "Dede (sebutan untuk kakek), apakah kita orang Jerman atau orang Turki?"

kemudian cerita berlanjut pada komedi petualangan keluarga mereka di masa lalu yang diceritakan Canan, sepupu Cenk. alur cerita yang maju-mundur menjelaskan tentang kehidupan sang kakek (Huseyin) yang merupakan seorang imigran asal Turki yang harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk kemudian bekerja di Jerman, sampai pada usaha mereka untuk menjadi warga negara Jerman. setelah 45 tahun menetap di Jerman, kemudian mereka merencanakan untuk berlibur ke Anatolia sebagai keluarga besar Jerman, agar keturunannya dapat mengenal tanah leluhur dan menjaga tradisi budaya.



secara keseluruhan, film ini berkisah tentang bagaimana satu keluarga belajar untuk hidup dan diterima di Jerman. mulai awal pertemuan Huseyin dan Fatma, kehidupan awal keluarga mereka di Jerman yang menarik dan menggelitik, sampai pada akhir cerita yang mengharukan. 

dalam film ini, ada salah satu tradisi orang Turki yang menarik yaitu ketika salah seorang anggota keluarga atau kerabat hendak meninggalkan kampung halaman, maka keluarga yang ditinggal akan menyiramkan air ke jalanan selepas kepergiannya. hal ini dimaksudkan agar mereka yang pergi cepat kembali, secepat air yang disiram tersebut meresap ke tanah.

22 Januari 2012

Lillah..Fillah

tentang niat yang kadang ternodai,
tentang pemahaman yang masih tak sempurna,
tentang keikhlasan yang selalu dipertanyakan,
tentang kesungguhan yang dianggap tak sungguh-sungguh,
tentang kemantapan hati yang terbolak-balikkan,
tentang komitmen yang kurang mengakar,
tentang capaian yang mungkin tak maksimal,
tentang kepercayaan yang merasa dikhianati,
tentang kerja-kerja yang dipandang sebelah mata,
tentang prasangka yang muncul di kepala-kepala mereka,
tentang fitnah dan caci maki yang diterima,

tentang apapun itu,
tetaplah bekerja,
berbuat yang terbaik,
dan selalu yakinkan diri,
semoga hanya Allah yang benar-benar menjadi tujuan kita


"bekerjalah kamu,
maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu.."
[QS. At-Taubah : 105]

19 Januari 2012

Yang kita perlu sekarang cuma .......


.............................

Keenam sahabat masih mendongak mengagumi Mahameru.

"Ta..."

"Iya, Yan."

"Nanti kita akan ke sana? Berdiri di puncak itu? Berdiri di sana?"

"Iya..."

"Tinggi banget, Ta..."

"Iya."

"Bisa apa kita, Ta?"

Genta terdiam, matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam.

"Yakin kita bisa?" tiba-tiba Genta menoleh ke teman-temannya dan menatap tajam satu per satu.

"Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini." Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya.

Genta tersenyum.

"Kalo begitu...yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja."

"Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya," sambung Zafran.

"Serta mulut yang akan selalu berdoa," Dinda tersenyum manis.


[5cm, hal 216]
setiap lembar sudah tercetak
saatnya beranjak dari kotak biru
tidak lama lagi, akan kudapati engkau


#terima kasih Tuhan

18 Januari 2012

Kita dalam Prasangka Mereka

kita hidup di antara sanjung dan puja manusia. membuat kita hilang hati dengan segala prasangka baik tentang diri. hingga terkadang lupa bahwa kita masih jauh dari batas sempurna, walau kita paham betul limit itu tentu takkan pernah bisa kita capai.

suatu waktu, mungkin pernah terpikir bagaimana jika prasangka mereka tidak jauh lebih baik daripada kenyataannya? bukankah itu dirasa sebagai kebohongan, walaupun kita tak pernah bermaksud melakukannya. lalu jika pada akhirnya mereka tahu, akankah mereka tetap mau membersamai kita? ketakutan-ketakutan itu pasti pernah melintas dalam ruang pikir kita. dan manusia, sejatinya akan meniru rembulan. hanya menampakkan sisinya yang bercahaya, sementara menyembunyikan sisi gelapnya. 


maka mari kita jaga prasangka baik mereka, dengan melakukan yang terbaik seraya berdo'a seperti yang diajarkan salah seorang sahabat Rasulullah:


16 Januari 2012

Hijrah, Antara Kemarin dan Hari Ini

membahas soal hijrah, pasti kita langsung teringat sama peristiwa berpindahnya Rasulullah dari bumi Mekkah ke Madinah. pada saat itu, dakwah Rasulullah mendapat tekanan dari lingkungan di sekitarnya dan Allah memerintahkan Rasulullah beserta pengikutnya untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik awal penanggalan hijriyah yang kita kenal sekarang. 

nah, kata 'hijrah' itu sendiri memang berarti pindah. secara khusus, arti hijrah berhenti pada peristiwa tersebut. namun secara maknawi, hijrah memiliki penjelasan yang luas. hijrah bisa diartikan meninggalkan sesuatu menuju kepada sesuatu yang lain untuk mendapat keadaan yang lebih baik. perubahan sikap, penampilan dan pola pikir seseorang terhadap sesuatu pun bisa dianggap hijrah.

terkait masalah ini, entah mengapa Allah menakdirkan saya untuk berziarah ingatan tentang proses 'hijrah' saya dulu. dimulai dari pengajian pekanan tadi siang, ketika kelompok kami membahas soal hijrahnya Rasulullah sampai kepada salah seorang teman yang menceritakan tentang perubahan dalam hidupnya, termasuk penolakan yang dia terima atas dakwah Islamnya.

lalu malam ini ingatan saya kembali dibongkar saat seorang kawan lama menelepon dan mulai membahas tentang bagaimana saya 'dahulu' dan 'sekarang'.  kemudian, kunjungan tak sengaja pada blog kak Insan, mau tak mau membuat saya menggali ingatan lebih dalam mengenai metamorfosis saya 6 tahun yang lalu.
***

15 Januari 2012

Kenapa Mendaki Gunung?

kata George F.Mallory (meninggal di Everest),
"because it's there" - karena gunung itu ada, makanya didaki


kata Soe Hok Gie (meninggal di Mahameru),
"karena aku mencintai hidup"


kata Norman Edwin (meninggal di Aconcagua),
"karena aku menghargai kehidupan ini"


kata saya (meninggal di ###),
"hanya suatu wujud refleksi atas kesyukuran kita..atas hidup, atas alam dan atas bumi yang hanya kita singgahi sementara"


kata kamu???


ini dia jawaban mereka: