30 November 2014

#DIYproject: Replica of D90


Beberapa hari lalu, saya iseng googling tentang kamera kertas. Ceritanya lagi pengen bikin #DIYproject gitu. Lalu terdamparlah saya di sini. Keren! Jadi pengen bikin juga.

Keesokan paginya, saya mulai sibuk nyari kardus bekas yang agak tebal. Alhamdulillah, dikasih gratis sama penjaga toko di depan kompleks. Kamera yang saya mau coba bikin replikanya adalah Nikon D90 punya teman.

Bimsalabim jadi apa, prok prok prok!
Alat yang dipakai untuk project ini sih standar aja: gunting, lem dan cutter. Selain itu, juga harus punya stok kesabaran dan ketelitian yang lebih, karena ada beberapa bagian yang lumayan bikin "mikir".

Dan setelah mendekam dalam kamar sambil menahan lapar, akhirnya jadi juga deh. Voila!





~ Bunch of thanks, to you and Fath :)

Lapak Baca Semesta


Gimana ceritanya?
Dipelopori oleh enam makhluk perempuan yang doyan baca, ditambah susah banget nyari komunitas baca di Ambon, maka muncullah ide untuk membuat Lapak Baca Semesta ini. Tapi tentu saja gak serta-merta langsung "criiing...jadi!". Kalo gak salah, sekira 2 bulan lah untuk mempersiapkan ini-itunya.

Tujuannya apa?
Supaya bisa menumbuhkan minat baca yang mulai hilang di kalangan anak mu. Soalnya kami lihat, minat baca di kalangan anak muda masih kurang banget. Lagian di lapak ini kita bakal baca bareng, jadi terkondisikan deh.

Trus bukunya dari mana?
Buku-buku di lapak ini berasal dari koleksi pribadi kami sendiri. Kebanyakan novel dan fiksi sih. Tapi ada juga buku motivasi, walaupun gak banyak. Kami juga gak menutup diri kalau misalnya ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya untuk lapak ini.

Kegiatannya kapan? Dimana?
Untuk sementara, Lapak Baca Semesta cuma sekali sebulan dulu, dengan durasi sekitar 2 jam. Tempatnya di Pattimura Park. Belum bisa buka lapak di sekolah atau kampus. Mengenai info tanggal dan lain sebagainya, bisa lihat di fanspage FB kami Sahabat Semesta atau follow twitter @sahabat_semesta.

Harapan kedepannya gimana?
Kami berharap akan banyak volunteer yang mau berpartisipasi dalam Lapak Baca Semesta ini, sehingga koleksi buku kami bertambah dan variatif. Nantinya kami juga mencitakan untuk memiliki tempat yang permanen semacam rumah baca. Tapi yang paling penting, semoga Lapak Baca Semesta bisa jadi sarana positif untuk mengembangkan potensi yang kami miliki.

Join with us! ;)

27 November 2014

Kontemplasi

Duduk, dengar, rasakan! (clk7 di Bawakaraeng)

Lima hari lalu, dalam pengajian pekanan, guru ngaji saya menegaskan bahwa: "Hakikat sebuah ujian adalah sabar dan syukur. Hanya dua hal itu. Dan Allah akan menguji hambaNya selalu pada titik terlemahnya. Jika kita belum melulusinya, maka Allah akan menguji lagi, lagi, lagi, sampai kita lulus!"

Tujuh hari sebelumnya, beliau bercerita tentang kisah Thalut dan ketaatan pengikutnya seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 249: "Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka."

Tepat sepekan sebelumnya. "Gak semua yang kita sukai itu baik untuk kita. Pun sebaliknya. Allah lebih tahu, dan kita seringkali melupakan hal itu." Waktu itu, saya manggut-manggut mendengar nasehat beliau ketika menyadur ayat ke-216 pada surat kedua dalam Al-Qur'an.

***
Dini hari ini ketika sedang berpikir dan mempertanyakan banyak hal, tiba-tiba saya teringat kembali pada kata-kata beliau selama tiga pekan terakhir. Sesaat saya sadar, semua ini semacam pengkondisian dari Allah. Agar saya siap dan tidak gegabah dalam mengambil langkah. 

Betapa bodohnya saya karena sempat memprotes ketetapan Allah saat dihadapkan pada situasi yang diluar rencana diri?

Jangan-jangan Allah menguji saya lagi, dengan hal serupa, karena "dulu" saya belum lulus?

Karena Allah tahu titik terlemah saya, sehingga mengirimkan saya pada mereka yang menjunjung kalimat "kami dengar dan kami taat"?

Ghufraanaka Rabbanaa, wa ilaikal mashiir...

20 November 2014

Espérame

photo by CLk7

Teruntuk Sora,

Kita memang tidak pernah tahu konspirasi semesta macam apa lagi yang sedang menanti kita di depan. Serupa kebutaanku bahwa hubungan kita akan seperti ini sejak kali pertama aku menjatuhkan pandangku untukmu.

Satu dekade, dan banyak hal telah berubah. Musim berganti rupa dalam salinan yang baru, sedangkan aku masihlah lelaki pemalu yang selalu gemetar ketika harus berdiri di dekatmu. Apalagi jika harus menguraikan perasaanku padamu. Ah, aku seperti tak punya kuasa untuk itu.

Tapi aku ingin jujur, dan kau boleh tertawa mendengarnya. Aku selalu menanti kapan kita akan bertemu lagi, atau sekadar menunggu pesan singkat darimu walau hanya berisi sebuah sapaan "Selamat pagi, Rei!" Hal-hal remeh, namun membuatku candu.

Silakan sebut aku gombal atau apalah, namun  perasaan ini, entah sampai kapan aku akan kuat membendungnya. Kau semisal hujan yang terus merintik, sementara aku mulai rapuh kau hujam berkali-kali.

Sekarang masih banyak mimpi, harapan, keinginan dan hal lainnya yang belum aku lakukan. Padahal aku sudah terlanjur berangan ingin menggenapkannya bersamamu.

Pertanyaannya: bersediakah kamu?


dari yang ingin membersamaimu,
Rei

31 Oktober 2014

Jangan Gugur


Pagi terakhir di bulan kesepuluh.

Bagaimana hari-harimu, Mathar? Ah, bulan yang melelahkan ya. Mari duduk sini, akan kukisahkan padamu sebuah cerita.
**
Adalah Syaikh Abdullah Azzam -seorang ulama dan mujahid- pernah mengajarkan simulasi yang menghentak kesadaran murid-muridnya tentang arti mastatho'tum,  yaitu berusaha sekuat tenaga sampai titik maksimalnya.

Demi hal tersebut, beliau kemudian mengajak murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan. Mulailah Syaikh berlari diikuti murid-muridnya. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, semuanya masih bertahan. Putaran-putaran berikutnya beberapa mulai menyerah, meminta izin untuk istirahat. Namun Syaikh terus berlari, meski beliau pun merasakan lelah mendera tubuhnya. Setelah cukup lama, semua murid menyerah. Tidak ada lagi yang berlari, kecuali Syaikh. Ya, beliau terus berlari dalam kepayahan, hingga tiba-tiba beliau jatuh tersungkur dan pingsan.

Murid-muridnya menggotong dan berusaha menyadarkan beliau. Setelah tersadar, murid-muridnya bertanya, "wahai Syaikh, mengapa engkau melakukan hal tadi?" Sambil tersenyum bijak, beliau berkata, "yang aku lakukan tadi, itulah maksud dari mastataho’tum."
**
Begitulah, Mathar. Seringkali kita memutuskan menyerah dan berhenti berusaha hanya karena sekadar merasa lelah, bukan benar-benar lelah. Padahal ada beda pada keduanya.

Apalagi saat menyadari bahwa kita tertinggal langkah, ah rasa putus asa itu gampang sekali menyergap. Ingin menyusul, tapi seperti tak terkejar. Diam juga hanya akan meninggalkan sesal.

Untuk itu, aku hanya ingin bilang: aku pernah, dan mampu, melewatinya.

Kamu pun.

30 Oktober 2014

Tentang Dhuha

Morning (photo by clk7)
Hari ini memang tanggal merah. Tapi perburuan menuju surga, tak mengenal libur. Bahkan kau disuruh tetap berlari ketika yang lainnya enak menikmati dunia. Kau diperintah bekerja saat selainnya sedang santai berongkangkaki sembari menyeruput minuman nikmat di teras rumahnya. Kau juga akan tetap dianjurkan untuk terbangun, ketika orang lain lelap dalam tidur lalainya. Itu teramat susah. Tapi surga, memang tak diberikan secara gratisan.

Tanggal merah koq tetap bekerja? Apakah dunia begitu melenakanmu? Belum cukupkah karunia yang Dia berikan? Apakah kau bekerja sebagai wujud syukur atas potensi yang diberikanNya? Atau sebagai perlombaan lantaran gengsi? Karena teman sekelasmu dulu sudah punya mobil? Karena teman kuliahmu dulu sudah bolak-balik tour ke luar negeri? Atau karena tetanggamu yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru berharga milyaran itu?

Siang semakin menjelang. Mentari sudah mulai naik. Panasnya kian terasa. Hangat yang menghidupkan. Tapi kau masih sibuk dengan kerja duniamu?

Apakah kau lupa bahwa waktu ini dinamai Dhuha? Ada berkah di dalamnya. Ada pahala melimpah bagi siapa yang mau. Ada rejeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Tidakkah kau berlomba untuk merayuNya?

Tak ingatkah kau? Dalam Dhuha, terletak sunnah shalat. Dua, empat, enam, delapan, sepuluh atau dua belas. Dua saja, kau akan dilepaskan dari predikat orang yang lalai. Jika empat, kau akan dimasukkan ke dalam kelompok ahli ibadah. Andai bisa enam, maka akan dicukupi semua kebutuhanmu hari ini. Jika kuasa, dan kau bisa menjalankannya dua belas, maka janjiNya bahwa dirimu akan diberi rumah kelak di surgaNya. Apakah rumah di sini lebih kau sukai dibanding rumah abadi di sana kelak?

Diluar itu semua, para ahli Dhuha tak akan pernah merasa miskin. Kebanyakan mereka adalah yang banyak hartanya. Berkah pula, insyaa Allah. Jikapun ternyata kau tak dikarunia banyak harta, bukankah ibadah itu merupakan kekayaan tersendiri? Bukankah dua matamu, jika dijual, akan laku milyaran rupiah? Maukah? Atau misalnya, kau potong lima jarimu, kemudian melelangnya, yakinlah kalau akan banyak uang yang kau terima jika lakukan itu. Atau kau gadaikan nikmat kedipmu dalam sehari ini saja, berapa harta yang akan kau peroleh? Jika tidak, kumpulkan oksigen jatah nafasmu hari ini, lalu iklankanlah. Mungkin ada puluhan juta yang bisa kau kantongi.

Dhuha itu syukur. Terima kasih atas semua nikmat yang Dia limpahkan. Bukankah seluruh tulangmu terdiri dari ruas-ruas yang jumlahnya sekitar tiga ratus enam puluh? Nah, masing-masing mereka ada hak syukurnya, karena semuanya ciptaan Allah.Mampukah kau bersyukur untuk semua ruas tulang itu?

Jika tak mampu, maka lakukan Dhuha dengan sepenuh cinta. Karena Dhuha-mu, sudah cukup sebagai perlambang syukurmu untuk semua nikmat itu.

Andai begitu saja tak mampu, masihkan kita mengaku-ngaku sebagai hambaNya, sementara perintahNya kita ingkari dengan kemalasan?
***
repost dari grup WA. semoga bisa jadi pengingat bagi semua.

4 Oktober 2014

together


~I don't even need the world, as long as you're with me~

***
Ini tentang Fath dan Qin, keduanya hanya nama samaran. Qin adalah teman saya. Sedangkan Fath, saya mengenalnya dari Qin. Setahu saya, mereka berteman sudah cukup lama. 

Suatu pagi selepas dhuha, Qin menumpahkan keresahan hatinya pada saya. Matanya agak berair. Saya yakin dia baru selesai menangis. Tapi tentang apa, saya tidak tahu sampai Qin menceritakannya sendiri kepada saya.

"Yu, tiap selesai shalat saya selalu berdoa. Semoga Allah menguatkan hati saya diatas agama dan ketaatan padaNya. Tapi kadang saya takut Allah tidak mendengar doa saya. Bisa saja Dia, atau sebenarnya saya,  yang justru mencondongkan hati kepada selainNya, kepada makhlukNya. Saya tidak pernah mau dipalingkan." Qin terus bercerita, sambil sesekali menyeka air mata.

Sampai disini, saya sebatas tahu bahwa Qin sedang takut. Itu saja. Tapi jujur saya masih belum mengerti mau dibawa kemana arah pembicaraan kami ini.

"Apa ini tentang perasaanmu pada seseorang?" Saya akhirnya bertanya demi menghilangkan kebingungan.

Qin diam. Mungkin dia pun bingung harus menjawab apa. Tapi kemudian dia menyodorkan handphone-nya kepada saya. Dibukalah menu pesan, lalu muncul obrolan panjangnya bersama Fath. Ah, rupanya dia! Saya menahan senyum, sambil membaca. Sampai pada kalimat:
Saya mungkin tidak pandai berkata-kata, dan juga barangkali gagal dalam mengurai perasaan padamu. Tapi yakinlah saya akan mendatangimu, hidup bersamamu, sesuai tuntunan halal. Saya merindukanmu, pun tersiksa dengan perasaan saya sendiri. Semoga ada jalan untuk bertemu. Mari kita berdua berdoa.
Saya tidak lagi bisa menahan tawa. "Ooh, jadi gara-gara ini? Semoga berlabuh ya." Saya terus terbahak sambil menepuk bahu Qin.

Dia merengek tidak jelas, sikap manjanya mulai kambuh. "Yu...saya takut!"

"Takut apa? Takut dia benar-benar mendatangimu?" Saya kembali tertawa.

"Bukan. Saya hanya takut disukai terlalu dalam."
***
Saya paham perasaan Qin.
Apa jadinya jika rasa cinta sudah membutakan hati manusia,
lalu memalingkan kita dari Sang Maha Cinta?
Itu yang dia takutkan.
Saya juga. 

30 September 2014

Berdamai dengan Masa Lalu di Negeri Seribu Benteng


Sabtu lalu (27/09), saya berkesempatan untuk mengunjungi Pameran Nasional yang diadakan Balai Arkeologi Ambon, di Pattimura Park. Mengambil tema "Negeri Seribu Benteng", pameran ini memaparkan tentang keberadaan sebaran benteng-benteng Eropa di Indonesia, khususnya di wilayah Maluku.

Kenyataan sejarah bahwa Maluku adalah ladang rempah seperti cengkih dan pala, sebagai komoditi penting di masa lalu menandakan wilayah ini memang memiliki nilai penting bagi perdagangan dunia saat itu. Dan keberadaan benteng-benteng Eropa merupakan bukti atas dinamika sejarah tersebut.

Selain membahas sebaran benteng di Maluku, pameran ini juga menampilkan keberadaan benteng-benteng peninggalan kolonial di wilayah lain, seperti Jawa, Sulawesi dan Papua. Disertai ulasan yang cukup lengkap tentang latar sejarah, interaksi dengan dunia luar, dan dilengkapi dengan foto dokumentasi dari masa ke masa.

Pameran Nasional "Negeri Seribu Benteng" ini sebagai salah satu wahana untuk memperkenalkan benteng dan warisan sejarah budaya kepada publik, seharusnya dapat menarik minat masyarakat kota untuk mempelajari masa lalu. Namun sayang, kegiatan ini tergolong sepi pengunjung.

Kedepannya, diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali serta dilengkapi dengan miniatur atau visualisasi yang lebih menarik, sehingga mampu menumbuhkan semangat dan gagasan dalam mengemas warisan budaya agar memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah.

24 September 2014

Dialog Dalam Rumah #1


Pada suatu siang, ketika tak ada sesiapa di rumah kecuali aku dan Papa. Tiba-tiba beliau memanggilku yang tengah asyik membaca di dalam kamar. Kemudian aku menarik kursi ke hadapan beliau, menunggu kata-kata keluar dari mulutnya. 

"Papa punya empat anak. Alhamdulillah,  tiga orang sudah punya gawai masing-masing. Tinggal satu orang lagi, kamu."

Mata tuanya menatapku lekat. Berhenti sesaat, menyesap rokoknya, lalu melanjutkan. 

"Selama hidup, Papa dan sepuluh jari ini tidak pernah menyusahkan hidup orang lain. Makanya Papa yakin, sangat yakin, bahwa Allah tidak akan bohong. Kalau kita berbuat baik, pasti berbalas baik. Itu yang kakek-nenekmu ajarkan dulu."

Aku sudah menduga akan kemana arah pembicaraan ini. Belakangan,  Papa memang sering mengkhawatirkan masa depan anak ketiganya, aku.

30 Agustus 2014

Menikmati Banda Neira dari Ketinggian (Part 2)


Target!
Salah satu cara untuk bisa melihat panorama Banda Neira secara keseluruhan adalah dengan berdiri di puncak Gunung Api dan hal ini sudah seperti ‘kewajiban’ bagi setiap turis. Jika kemarin saya hanya menatap gunung yang elok hijau menjulang ini dari belakang penginapan, kini saatnya merasakan sensasi mendaki dan bermalam di gunung api yang puncaknya berada pada ketinggian sekitar 666 meter di atas permukaan laut tersebut. Dan angka tersebut bisa jadi dianggap remeh bagi sebagian orang, jika dibandingkan dengan ketinggian gunung-gunung lainnya di Indonesia yang rata-rata berada diatas angka 1000, 2000, bahkan 3000 meter.

Sekitar pukul tiga sore, saya dan Miz , adik saya, sudah siap dengan segala barang bawaan dan bekal kami. Makanan, minuman, kantong tidur, matras, tapi tanpa tenda. Cukup nekat memang. Namun kami berharap cuaca akan bersahabat hingga kami turun gunung esok hari. Setelah menyeberang dengan perahu ketinting sekitar 5 menit, kami sampai di titik awal jalur pendakian gunung api yang terakhir meletus pada Mei 1988 silam.
Menuju Pulau Gunung Api
Ini menjadi pengalaman pertama saya mendaki gunung api yang masih termasuk kategori aktif. Juga menjadi pengalaman pertama memulai pendakian dari titik nol meter dari permukaan laut. Treknya yang terus menanjak membuat nafas saya memburu tidak teratur. Belum lagi kondisi jalurnya yang dipenuhi batuan lepas dan kerikil akibat letusan, menyebabkan langkah saya sering terperosok turun. Beberapa kali bahkan saya sedikit merayap agar bisa tetap stabil pada medan yang cukup curam itu. Untungnya ada banyak ranting dan akar tanaman yang bisa menjadi pegangan. Ah, sepertinya akan butuh waktu lama hingga kami sampai di puncak.

Benar saja, waktu dua jam lebih kami tempuh sampai akhirnya bisa berada di ketinggian 666 meter di atas permukaan laut ini. Di puncak, tidak ada satu pun pepohonan. Hanya tanah berbatu dan dua cekungan kecil yang sesekali mengeluarkan uap belerang menyambut kami. Di sebelah barat, jurang yang dalam akibat aliran lahar menganga lebar. Angin dingin dan kabut tipis mulai menyergap, namun semburat senja dari ufuk barat dan tanah yang saya pegang seakan memberi kehangatan tersendiri.
Selfie bareng Miz
Kondisi di Puncak
DATIES was here! :)
Hari mulai gelap. Tidak ada pendaki di puncak kecuali kami. Segera kami menentukan lokasi yang cukup aman untuk bermalam, menyusun bebatuan untuk sekadar menghalau angin, menjamak shalat maghrib dan isya, kemudian beralih membuka bekal makanan sambil mengobrol. Miz bilang, “jangan-jangan baru kita berdua yang pernah shalat maghrib disini.” Saya tertawa. Entahlah, tapi mungkin saja. Tak ada yang bisa kami lakukan lagi setelah itu. Kemudian saya membuka lebar satu kantong tidur yang kami pakai sebagai selimut nantinya, memilih beristirahat dan berharap malam itu tidak hujan serta masih bisa bertemu pagi esok hari.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba ada yang merintik basah pada kantong tidur kami. Ah,  gerimis! Saya mulai cemas. Bahan kantong tidur kami memang anti-air, tapi kalau hujan menderas tentulah kami akan kuyup. Sambil terus memperbaiki posisi tidur agar tertutupi sempurna, saya dan Miz membuat kesepakatan: jika cuaca memburuk, kami turun gunung malam itu juga. Deal! Sisa malam itu saya habiskan dengan merapal doa penuh harap cemas, menunggu fajar tiba.
Puas itu kalo udah ngerasain yang beneran!
Allah Memang Maha Baik! Kami masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya subuh di puncak. Dingin, sudah pasti. Namun menjadi kesyukuran tersendiri, khususnya bagi saya, setelah semalaman tidur dalam kegelisahan. Kemudian saya memilih duduk mengarah ufuk timur, menunggu cahaya pertama yang akan muncul dari balik awan. Menikmati kabut yang bergerak-gerak, menyesapi udara dalam-dalam. Saya menemukan bahagia dari atas sini.

Barangkali benar kata seorang anonim: bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat, lalu meneruskan perjalanan.

Berjalan Lebih Jauh ke Banda Neira (Part 1)


Petang sebelum keberangkatan. Satu pesan masuk.
“Kamu mau ke Banda Neira?”
Saya tersenyum, lalu segera mengetik jawaban. “Ya, tentu saja mau.” Saya tahu pasti bukan jawaban macam itu yang dia inginkan, tapi saya tetap mengirimnya.
Tak lama berselang, dia membalas “Kapan mau ke sana?”
“Kapan kamu mau mengajak saya?” Saya balik bertanya sambil mengamati riuh ramai di hadapan saya. Pelabuhan Ambon malam ini sibuk sekali.
**

Selamat pagi, Banda Neira!

Perjalanan ke pulau ini sebenarnya telah saya impikan cukup lama. Semua bermula ketika sahabat saya bercerita tentang keeksotisan pulau yang dijuluki Nutmeg Island ini. Dan sejak itu pula kami berencana untuk menjelajahinya nanti, entah kapan. Tapi hidup memang seringkali dikelilingi hal-hal tak terduga. Saat kesempatan itu ada di depan mata, hanya dua pilihannya: take it or lose it. Saya memilih yang pertama. So now, here i am. Berdua, tapi bukan dengan sahabat saya itu. Menyapa subuh di pelabuhan Banda Neira yang masih diselimuti gelap, namun penuh hiruk pikuk.

Setelah menempuh perjalanan laut sekitar 8 jam dengan kapal Tidar kelas ekonomi yang harga tiketnya sekitar 100 ribuan untuk rute Ambon-Banda, akhirnya saya menjejak di pulau ini. Kapal yang saya tumpangi itu selanjutnya akan menuju Tual hingga Papua. Maka sampai 4 hari ke depan, sampai kapal tersebut kembali dengan rute sebaliknya, saya rasa tidak akan cukup untuk menikmati segala pesona kepulauan ini.

Dari pelabuhan, saya cukup berjalan kaki ke arah selatan mencari penginapan. Menyusuri jalanan kota Neira seolah menarik siapapun yang berkunjung untuk kembali ke masa lampau. Bangunan tuanya yang khas, menunjukkan bahwa kota ini pernah menjadi salah satu daya tarik bagi para saudagar Eropa untuk mengembangkan usaha dagang mereka. Bagaimana tidak, kekayaan rempah yang dimiliki pulau Banda ini seakan sudah tersohor, sehingga membuat Belanda, Inggris dan Spanyol berlomba-lomba untuk mengarungi samudera demi menjadi penguasa rempah di sini.
 
Jalanan Kota Neira
Sepuluh menit kemudian, sampailah saya di penginapan sederhana yang saya sewa dengan harga yang cukup pas di kantong, 100 ribu per hari. Bagian belakang penginapan berhadapan langsung dengan Gunung Api yang dibatasi oleh laut. Setelah rehat, saya memutuskan untuk berkeliling menonton kehidupan masyarakat setempat.
Pemandangan dari Belakang Penginapan
Di kota Neira ini, terdapat beberapa bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah, seperti benteng peninggalan penjajah juga tempat pengasingan para tokoh nasional. Untuk memasukinya memang tidak dikenakan biaya, namun harus cukup bersabar karena beberapa sering didapati dalam keadaan terkunci sehingga perlu menunggu sang penjaga datang membukakannya.

Benteng Nassau
Gerbang Masuk Benteng Nassau
Sekitar tahun 1607, terletak di atas bukit di pesisir selatan Pulau Neira, benteng ini dibangun di atas pondasi benteng Portugis yang tidak terselesaikan, menggunakan tenaga 700 orang prajurit Belanda yang dikomandani oleh Admiral Verhoef. Pembangunan benteng ini ditentang oleh rakyat Neira yang melakukan serangan gerilya kepada Belanda. Akibat serangan itu, Verhoef dan 34 prajuritnya terbunuh. Meskipun begitu, pembangunan benteng ini tetap selesai dan diberi nama Benteng Nassau atau Benteng Air.

Pada 8 Mei 1622, Benteng Nassau menjadi tempat pembantaian 40 Orang Kaya Banda yang melakukan perlawanan kepada VOC. Setelah mati, mayat mereka diceburkan ke dalam sumur tua yang letaknya tidak jauh dari Benteng Nassau dan dikenal sebagai Perigi Rante (Sumur Berantai). 
 
Reruntuhan Benteng Nassau
Benteng ini berbentuk persegi dengan bastion berbentuk hati pada setiap sudutnya dan dikelilingi oleh parit. Ketika Benteng Belgica diperkuat pada tahun 1672-1673, Benteng Nassau ini hanya digunakan sebagai penjara orang-orang buangan dari Batavia. Sekarang benteng ini hanya menyisakan 2 buah bastion dan 2 buah pintu gerbang dan beberapa meter dindingnya. Benteng ini mengalami kerusakan parah ketika diserang oleh Inggris pada tahun 1810 yang mengambil alih Benteng Belgica saat itu.

Benteng Belgica
Bagian Depan Benteng Belgica
Benteng ini dibangun untuk mengoreksi kekeliruan dalam pembangunan Benteng Nassau yang berlokasi di bibir pantai yang dengan mudah diserang melalui bukit yang lebih tinggi di belakangnya. Rakyat Neira yang terusir oleh Belanda ke pulau lain di sekitar Pulai Neira sering melakukan serangan gerilya dan menembaki Benteng Nassau dengan panah api dari atas bukit tersebut.

Untuk menghentikan perlawanan penduduk Neira ini, kemudian pada tahun 1611, Gubernur Jenderal Pieter Both menggagas pembangunan sebuah benteng pertahanan kecil di atas bukit itu, dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut, dan diberi nama Belgica. Beberapa tahun kemudian dibangun lagi benteng kecil lain yang diberi nama Neira di puncak bukit yang sama. Pada tahun 1660, dua benteng kecil tersebut digantikan oleh sebuah redut yang lebih besar dan diberi nama Belgica II.
Struktur Benteng yang Berbentuk Pentagon
Pada Maret 1667, Admiral Cornelis Speelman tiba di Pulau Neira. Ia kemudian meminta kepada Adrian de Leeuw, seorang arsitek Belanda, untuk membuat rancangan benteng baru untuk pengembangan redut Belgica II; struktur pentagon dengan lima menara pada bagian dalam benteng, dan struktur pentagon lain dengan lima bastion di sisi luarnya. Pembangunan benteng ini berlangsung dari tahun 1672 hingga 1673 tanpa mengalami kendala yang berarti.
View dari Salah Satu Menara
Benteng Belgica versi ketiga ini dapat menampung 400 tentara yang dilengkapi berbagai persenjataan termasuk meriamnya. Pada tahun 1795, benteng ini dipugar oleh Francois van Boeckholz, namun sayangnya satu tahun kemudian benteng ini berhasil diserang dan direbut oleh Inggris yag kemudian menguasai Banda hingga awal abad ke-19.

Gereja Tua Neira
Gereja Tua Neira
Pada tanggal 20 April 1873, dibangun sebuah bangunan gereja yang kemudian diresmikan pada tanggal 23 Mei 1875 oleh dua orang Misionaris asal Belanda yaitu Maurits Lantzius dan John Hoeke. Bangunan gereja ini dibangun di atas pusara 30 orang prajurit Belanda yang gugur dalam perang penaklukan Banda, hal ini dibuktikan dengan adanya 30 batu nisan lengkap dengan identitas para prajurit tersebut pada lantai gereja. Hingga sekarang gereja ini masih digunakan untuk pelayanan umat Nasrani di Banda Neira.

Kompleks Istana Mini
Rumah Gubernur VOC
Istana Mini terdiri dari 2 bangunan yaitu Rumah Gubernur dan Kantor Gubernur. Kompleks bangunan ini menghadap ke arah laut, diapit oleh bangunan Sociteit Harmonie di sebelah barat serta rumah Deputi Gubernur VOC dan rumah para perkenier (sebutan bagi pemilik kebun pala) di sebelah timur. Berdasarkan catatan sejarah, bangunan yang terletak di dekat Benteng Nassau ini didirikan saat setelah terjadi gempa besar di Banda tahun 1683. Sebelumnya, Gubernur VOC tinggal dan berkantor di dalam benteng, tetapi karena dirasa sudah tidak aman untuk dihuni akibat gempa tersebut maka dibangunlah rumah tinggal dan kantor yang baru.

Sociteit Harmonie

Bangunan ini terletak di sebelah barat Kompleks Istana Mini. Pada masa lalu gedung ini merupakan salah satu gedung terbaik di kota Neira, bangunan mewah berlantai marmer dengan lampu gantung yang indah, dimana para pegawai sipil, militer, perkeniers dan para bangsawan lainnya berkumpul untuk menikmati minum teh sore, main kartu atau berbincang-bincang. Saat-saat tertentu diadakan perjamuan dan pesta dansa serta pertunjukan musik atau drama. Sekarang bangunan ini tampak kurang terawat dan kosong.

Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir
 
Rumah Pengasingan Bung Hatta

Ruang Kerja Bung Hatta

Bung Hatta dan Sjahrir tiba di Banda tanggal 11 Februari 1936 dan untuk sementara tinggal di rumah Dr. Tjipto Mangunkusumo. Satu minggu kemudian mereka ke tempat tinggal masing-masing yang disewa dari seorang perkenier f 12,50 ($ 5,00) per bulan. Rumah pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir tersebut berbatasan langsung dengan penjara di sebelah timurnya. Sipir penjara berkebangsaan Belanda bertugas untuk melayani kebutuhan pokok mereka setiap saat. Rumah tersebut hanya dipisahkan oleh sebuah jalanan sempit dari rumah sakit dan hanya beberapa menit dari rumah dan kantor kontrolir (Kompleks Istana Mini). Mereka tinggal bersama hingga beberapa bulan kemudian Bung Sjahrir memutuskan untuk pindah ke rumah yang lain.

Rumah Pengasingan Bung Syahrir
Bangunan rumah pengasingan Bung Hatta menghadap selatan dan terletak di belakang Kompleks Istana Mini. Keseluruhan bangunan ini dibangun diatas lahan seluas 1000 m2 dengan luas bangunan 441 m2. Terdiri dari 3 bangunan yaitu bangunan utama yang merupakan bangunan tempat tinggal, bangunan kedua berada di belakang bangunan utama yang merupakan tempat mengajar Bung Hatta dan bangunan ketiga merupakan bangunan dapur dan gudang.

bersambung...

4 Juli 2014

Untuk kamu, yang sedang menujuku


Apa kabar perjalananmu? Aku harap kamu masih kuat untuk terus berjalan. Jika kamu lelah, istirahatlah sejenak. Jangan terlalu memaksakan diri. Lepaskan ranselmu, hingga kamu siap melangkah lagi.

Kelak apapun yang kamu hadapi di tengah perjalanan nanti, semoga tidak membuatmu berpikir untuk berhenti, apatah lagi memutar arah. Tetaplah berjalan. Hingga kamu sampai padaku.


Dari aku, yang menjaga janji.

7 Juni 2014

Lima Juni di Pulau Osi

Lima Juni ke-duapuluhenam.

Hari menjelang siang, namun awan kelabu masih betah menggelayut di langit Waimital. Rintik gerimisnya sukses membuat saya galau semenjak pagi. Ah ya, untuk alasan pekerjaan sekarang saya berada di desa ini, tepatnya di kabupaten Seram Bagian Barat. Mess kantor sepi, hanya saya dan bapak penjaga mess. Sementara rekan yang lainnya sudah bertolak ke Ambon sejak kemarin. Untuk menyenangkan diri, saya berniat menjelajahi daratan Pulau Seram yang masih baru bagi saya ini.

Pulau Osi merupakan sebuah dusun di bagian barat Pulau Seram. Sudah diputuskan, saya akan kesana, sendiri! Untuk yang berangkat dari Pulau Ambon, kalian harus menyeberang laut menggunakan kapal Ferry dari pelabuhan Hunimua (desa Liang) untuk bisa sampai di pelabuhan Waipirit (Seram Bagian Barat). Harga tiket cukup terjangkau, Rp.13.500,-/orang. Sementara saya yang berangkat dari mess, yang letaknya cukup dekat dari Pelabuhan Waipirit, tinggal melanjutkan perjalanan darat sejauh 70 kilometer ke arah barat.

Perjalanan menuju Pulau Osi sangatlah menyenangkan. Pesona alam Pulau Seram yang masih alami berhasil membuat saya ‘norak-norak bergembira’ sepanjang jalan. Nyengir tak jelas, malah tak jarang saya berteriak di atas motor karena kegirangan. Seperti orang jatuh cinta! (ups..) Untungnya jalur Lintas Seram ini masih jauh dari kata ramai, jadi saya tak perlu khawatir disebut gila. Melewati beberapa perkebunan kelapa, pemukiman warga, jalan berliku khas pegunungan, mata saya terus dimanja pemandangan indah. Cuaca pun bersahabat. Masya Allah…keren! Tiba-tiba teringat bukit-bukit hijau di film anak Teletubbies, membuat saya ingin berucap: “Berpelukaaaann!” Ah, tapi kemudian saya sadar, saya sendiri.
Masya Allah!
Ada takjub di balik tikungan
Tiba-tiba pengen bilang: "Berpelukaaaann..."
Jalur Lintas Seram yang sepi
Sukses bikin saya norak diatas motor
Selfie sambil tancap gas :D
Berhenti di dusun Pelita Jaya, Pulau Osi sudah cukup dekat. Melewati jalanan sirtu (pasir-batu) sekitar 3 kilometer, sampailah saya di gerbang Pulau Osi. “Alhamdulillah, gak nyasar,” batin saya sambil tersenyum penuh kemenangan. Dari gerbang, ternyata masih ada jarak sekitar 3 kilometer lagi untuk sampai di dusun Pulau Osi. Satu-satunya akses adalah jembatan kayu yang merupakan hasil swadaya masyarakat yang kemudian diberi nama jembatan Karel Albert Ralahalu, sesuai nama Gubernur Maluku yang meresmikannya beberapa tahun lalu. Untuk kendaraan, hanya motor yang diizinkan melintas.  Oleh karena itu, bagi yang tidak ingin berjalan, sudah tersedia jasa ojek di depan gerbang.
Welcome to Pulau Osi
Disambut hutan mangrove
Memasuki gerbang, saya disambut populasi hutan mangrove (bakau) di sisi kanan-kiri jembatan. Pulaunya dikelilingi karang dan pasir putih, dengan perairan yang cukup dangkal ditumbuhi lamun.  Terdapat pula jejeran pohon kelapa, lengkap dengan tiupan angin pantai yang membuat saya betah berlama-lama menikmatinya. Jika ada yang ingin bermalam, terdapat pula fasilitas penginapan milik penduduk setempat. Harganya mulai dari Rp.100.000,-/malam.
Salah satu fasilitas resort di Pulau Osi
Ketika sedang asyik masyuk berfoto selfie, tiba-tiba seorang bapak bermotor berhenti di ujung jembatan. Beliau menawarkan diri untuk memotret saya dengan latar belakang pulau. Merasa tidak enak hati, saya menolak dengan halus. Tapi (sepertinya) si bapak tahu isi hati saya yang sebenarnya, maka beliau terus mendesak sampai akhirnya saya ‘terpaksa’ menerima tawarannya. Sekali jepret, cukup.

'Terpaksa', tapi girang -_-
Namun, dari situlah obrolan panjang kami bermula. Kami pun berkenalan. Pak Sainuddin namanya. “Pakai S ya, bukan Z”, katanya ketika saya hendak menyimpan nomor ponsel beliau. Beliau kemudian bercerita panjang lebar mengenai pulau, kondisi masyarakat, hingga menanyakan beberapa hal tentang saya. “Kamu sendirian kesini? Pacarnya mana, koq gak diajak?” Glek! Saya tercekat. Tidak perlulah kalian tahu apa jawaban saya atas pertanyaan beliau itu. Yang jelas, sebelum saya pamit pulang, saya berjanji akan datang kembali nanti, bersama pacar saya.

Sebagai kalimat penutup, jangan pernah takut melakukan perjalanan sendiri di tanah yang masih asing sekalipun. Karena sesungguhnya masih banyak orang baik yang bersedia membalas senyum ramahmu dan menjawab pertanyaan: “kalau mau ke tempat ini, lewat mana ya?”

9 Mei 2014

: untuk Perempuan Setia

Membersamai Senja (photo by clk7)
Pernahkah kamu bertanya kepada orang tuamu perihal nama yang mereka sematkan atasmu sejak kamu belum mengenal apa-apa di dunia ini? Ah, silahkan kamu bilang aku aneh untuk pertanyaan itu. Namun beginilah, aku memang selalu memikirkan hal-hal remeh semacam nama, yang mungkin bagi sebagian manusia tak begitu penting.

Aku, sejak mengetahui namamu, kerap menduga pribadi seperti apa yang ada dibaliknya. Dan kemarin, aku sudah menemukan jawabannya! Maaf jika ternyata tak sesuai. Namun tepat di depan mata, aku cukup yakin inilah yang orang tuamu harapkan atas anaknya. Menjadi perempuan setia.

Dulu, seorang kakak sekaligus guru, pernah berpesan kepadaku: “pilihlah yang baik, dan setialah bersamanya.” Kalimat yang singkat dan sederhana bukan?! Agaknya aku merasa perlu untuk berpesan hal serupa padamu. Nanti jika kamu punya waktu untuk meresapinya, akan kamu dapati bahwa ternyata maknanya tak sesingkat dan sesederhana itu.

Menjadi setia, tentu bukan pekerjaan mudah. Kita sama-sama tahu itu. Terlebih setia atas pilihan kita sendiri. Perlu banyak pengorbanan, terutama rasa. Karena untuk menjadi setia adalah pekerjaan hati. Sama dengan mencintai. Butuh waktu yang lama, bahkan sepanjang usia hingga nanti orang-orang mengubur kita bersamanya.

Sekarang ini, beberapa hal mungkin terlihat rumit bagimu. Tetap tenang, tetap lapang. Kamu yang sudah memilih mereka untuk masuk memenuhi ruang pikirmu, maka setialah bersamanya. Jika kelak kamu mulai rapuh, coba tanya hatimu sekali lagi, atas alasan apa kamu memilihnya dulu.

Yang aku tahu, kamu tak akan melangkah pergi. Karena kamu, perempuan setia.

26 April 2014

Menunggu Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri -aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. tapi hujan menghapus keraguan itu -sayangnya- bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya -jadi lupakan saja.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih padanya, sebab -sekali lagi,- hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan -yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya. 

*sebuah interpretasi Puisi Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono, 1989), dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala

24 April 2014

Hari Bumi, Ngapain?

Aksi bersih gunung.

Itu yang pertama terlintas di pikiran saya ketika diajak untuk nanjak ke Puncak Kayu Satu  oleh kawan-kawan grup FACT alias Female Action Community. Sebenarnya agenda utamanya ya cuma nanjak, gak ngapa-ngapain, sekadar melepas galau (halaah...), karena rupanya pas tanggal 21 April itu, para kartini muda ini lagi mumet mikir nasib diri dan bangsanya. Hahaa...

Nah, saya pikir daripada balik dari Puncak kita gak bawa apa-apa selain kenangan, lebih baik kita bawa turun sampah yang ada di sana. Setidaknya sampah itu terlihat lebih nyata. Lagipula momennya juga pas dengan Hari Bumi. Walaupun saya yakin, kita semua gak butuh momen untuk bikin Bumi ini lebih bersih dan nyaman.

Selasa sore kami berangkat. Berbekal secukupnya, karena memang kami tidak berniat untuk menginap disana. Anggota berjumlah 7 orang dengan latar belakang yang  berbeda. Ada yang masih sibuk kuliah, sementara susun skripsi, sudah kerja, sok sibuk juga pengangguran. Tapi itulah, walau berbeda, kami tetap cinta Bumi *looh*


Puncak Kayu Satu terletak di sekitar kawasan Kampus IAIN Ambon. Lalu mengapa disebut Puncak Kayu Satu? Karena jika dilihat dari kejauhan, gunung ini memiliki satu pohon mati tepat di puncaknya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 40-60 menit, membuat tempat ini kerap dikunjungi oleh warga sekitar. Pada sore hari, kita bisa menyaksikan pemandangan kota Ambon sambil menunggu senja datang. Tapi sayang, tampaknya mereka tak cukup peduli pada kondisi lingkungan. Kebanyakan dari mereka pergi dengan meninggalkan luka yang mendalam bagi Bumi. Ya, apalagi kalau bukan sampah! :(



Selama hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami berhasil mengumpulkan empat kantong sampah. Sebagian besar isinya adalah sampah plastik, berupa botol minuman dan bungkus makanan. Padahal seperti kita ketahui bersama, sampah plastik membutuhkan waktu yang lama untuk bisa diurai oleh tanah. 


Karena kita dan Bumi saling membutuhkan. Agaknya itu bisa menjadi pengingat bagi kita agar bisa menjaga Bumi ini. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, kita bisa berperan serta untuk menyelamatkan planet ini.

Sebab kalau cinta, pasti menjaga. Iya kan?! ^_^