Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

#DIYproject: Replica of D90

Beberapa hari lalu, saya iseng googling tentang kamera kertas. Ceritanya lagi pengen bikin #DIYproject gitu. Lalu terdamparlah saya di sini. Keren! Jadi pengen bikin juga.

Keesokan paginya, saya mulai sibuk nyari kardus bekas yang agak tebal. Alhamdulillah, dikasih gratis sama penjaga toko di depan kompleks. Kamera yang saya mau coba bikin replikanya adalah Nikon D90 punya teman.

Alat yang dipakai untuk project ini sih standar aja: gunting, lem dan cutter. Selain itu, juga harus punya stok kesabaran dan ketelitian yang lebih, karena ada beberapa bagian yang lumayan bikin "mikir".

Dan setelah mendekam dalam kamar sambil menahan lapar, akhirnya jadi juga deh. Voila!




~ Bunch of thanks, to you and Fath :)

Lapak Baca Semesta

Gimana ceritanya? Dipelopori oleh enam makhluk perempuan yang doyan baca, ditambah susah banget nyari komunitas baca di Ambon, maka muncullah ide untuk membuat Lapak Baca Semesta ini. Tapi tentu saja gak serta-merta langsung "criiing...jadi!". Kalo gak salah, sekira 2 bulan lah untuk mempersiapkan ini-itunya.
Tujuannya apa? Supaya bisa menumbuhkan minat baca yang mulai hilang di kalangan anak mu. Soalnya kami lihat, minat baca di kalangan anak muda masih kurang banget. Lagian di lapak ini kita bakal baca bareng, jadi terkondisikan deh.
Trus bukunya dari mana? Buku-buku di lapak ini berasal dari koleksi pribadi kami sendiri. Kebanyakan novel dan fiksi sih. Tapi ada juga buku motivasi, walaupun gak banyak. Kami juga gak menutup diri kalau misalnya ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya untuk lapak ini.
Kegiatannya kapan? Dimana? Untuk sementara, Lapak Baca Semesta cuma sekali sebulan dulu, dengan durasi sekitar 2 jam. Tempatnya di Pattimura Park. Belum bisa buka lapak di sekolah…

Kontemplasi

Lima hari lalu, dalam pengajian pekanan, guru ngaji saya menegaskan bahwa: "Hakikat sebuah ujian adalah sabar dan syukur. Hanya dua hal itu. Dan Allah akan menguji hambaNya selalu pada titik terlemahnya. Jika kita belum melulusinya, maka Allah akan menguji lagi, lagi, lagi, sampai kita lulus!"
Tujuh hari sebelumnya, beliau bercerita tentang kisah Thalut dan ketaatan pengikutnya seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 249: "Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka."
Tepat sepekan sebelumnya. "Gak semua yang kita sukai itu baik untuk kita. Pun sebaliknya. Allah lebih tahu, dan kita seringkali melupakan hal itu." Waktu itu, saya manggut-…

Espérame

Teruntuk Sora,
Kita memang tidak pernah tahu konspirasi semesta macam apa lagi yang sedang menanti kita di depan. Serupa kebutaanku bahwa hubungan kita akan seperti ini sejak kali pertama aku menjatuhkan pandangku untukmu.
Satu dekade, dan banyak hal telah berubah. Musim berganti rupa dalam salinan yang baru, sedangkan aku masihlah lelaki pemalu yang selalu gemetar ketika harus berdiri di dekatmu. Apalagi jika harus menguraikan perasaanku padamu. Ah, aku seperti tak punya kuasa untuk itu.
Tapi aku ingin jujur, dan kau boleh tertawa mendengarnya. Aku selalu menanti kapan kita akan bertemu lagi, atau sekadar menunggu pesan singkat darimu walau hanya berisi sebuah sapaan "Selamat pagi, Rei!" Hal-hal remeh, namun membuatku candu.
Silakan sebut aku gombal atau apalah, namun  perasaan ini, entah sampai kapan aku akan kuat membendungnya. Kau semisal hujan yang terus merintik, sementara aku mulai rapuh kau hujam berkali-kali.
Sekarang masih banyak mimpi, harapan, keinginan dan hal la…

Jangan Gugur

Pagi terakhir di bulan kesepuluh.
Bagaimana hari-harimu, Mathar? Ah, bulan yang melelahkan ya. Mari duduk sini, akan kukisahkan padamu sebuah cerita.
**
Adalah Syaikh Abdullah Azzam -seorang ulama dan mujahid- pernah mengajarkan simulasi yang menghentak kesadaran murid-muridnya tentang arti mastatho'tum,  yaitu berusaha sekuat tenaga sampai titik maksimalnya.
Demi hal tersebut, beliau kemudian mengajak murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan. Mulailah Syaikh berlari diikuti murid-muridnya. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, semuanya masih bertahan. Putaran-putaran berikutnya beberapa mulai menyerah, meminta izin untuk istirahat. Namun Syaikh terus berlari, meski beliau pun merasakan lelah mendera tubuhnya. Setelah cukup lama, semua murid menyerah. Tidak ada lagi yang berlari, kecuali Syaikh. Ya, beliau terus berlari dalam kepayahan, hingga tiba-tiba beliau jatuh tersungkur dan pingsan.

Murid-muridnya menggotong dan berusaha menyadarkan beliau. Setelah tersadar, m…

Tentang Dhuha

Hari ini memang tanggal merah. Tapi perburuan menuju surga, tak mengenal libur. Bahkan kau disuruh tetap berlari ketika yang lainnya enak menikmati dunia. Kau diperintah bekerja saat selainnya sedang santai berongkangkaki sembari menyeruput minuman nikmat di teras rumahnya. Kau juga akan tetap dianjurkan untuk terbangun, ketika orang lain lelap dalam tidur lalainya. Itu teramat susah. Tapi surga, memang tak diberikan secara gratisan.
Tanggal merah koq tetap bekerja? Apakah dunia begitu melenakanmu? Belum cukupkah karunia yang Dia berikan? Apakah kau bekerja sebagai wujud syukur atas potensi yang diberikanNya? Atau sebagai perlombaan lantaran gengsi? Karena teman sekelasmu dulu sudah punya mobil? Karena teman kuliahmu dulu sudah bolak-balik tour ke luar negeri? Atau karena tetanggamu yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru berharga milyaran itu?
Siang semakin menjelang. Mentari sudah mulai naik. Panasnya kian terasa. Hangat yang menghidupkan. Tapi kau masih sibuk dengan kerja dunia…

together

~I don't even need the world, as long as you're with me~
*** Ini tentang Fath dan Qin, keduanya hanya nama samaran. Qin adalah teman saya. Sedangkan Fath, saya mengenalnya dari Qin. Setahu saya, mereka berteman sudah cukup lama. 
Suatu pagi selepas dhuha, Qin menumpahkan keresahan hatinya pada saya. Matanya agak berair. Saya yakin dia baru selesai menangis. Tapi tentang apa, saya tidak tahu sampai Qin menceritakannya sendiri kepada saya.
"Yu, tiap selesai shalat saya selalu berdoa. Semoga Allah menguatkan hati saya diatas agama dan ketaatan padaNya. Tapi kadang saya takut Allah tidak mendengar doa saya. Bisa saja Dia, atau sebenarnya saya,  yang justru mencondongkan hati kepada selainNya, kepada makhlukNya. Saya tidak pernah mau dipalingkan." Qin terus bercerita, sambil sesekali menyeka air mata.
Sampai disini, saya sebatas tahu bahwa Qin sedang takut. Itu saja. Tapi jujur saya masih belum mengerti mau dibawa kemana arah pembicaraan kami ini.
"Apa ini tentang pe…

Berdamai dengan Masa Lalu di Negeri Seribu Benteng

Sabtu lalu (27/09), saya berkesempatan untuk mengunjungi Pameran Nasional yang diadakan Balai Arkeologi Ambon, di Pattimura Park. Mengambil tema "Negeri Seribu Benteng", pameran ini memaparkan tentang keberadaan sebaran benteng-benteng Eropa di Indonesia, khususnya di wilayah Maluku.
Kenyataan sejarah bahwa Maluku adalah ladang rempah seperti cengkih dan pala, sebagai komoditi penting di masa lalu menandakan wilayah ini memang memiliki nilai penting bagi perdagangan dunia saat itu. Dan keberadaan benteng-benteng Eropa merupakan bukti atas dinamika sejarah tersebut.
Selain membahas sebaran benteng di Maluku, pameran ini juga menampilkan keberadaan benteng-benteng peninggalan kolonial di wilayah lain, seperti Jawa, Sulawesi dan Papua. Disertai ulasan yang cukup lengkap tentang latar sejarah, interaksi dengan dunia luar, dan dilengkapi dengan foto dokumentasi dari masa ke masa.
Pameran Nasional "Negeri Seribu Benteng" ini sebagai salah satu wahana untuk memperkenalka…

Dialog Dalam Rumah #1

Pada suatu siang, ketika tak ada sesiapa di rumah kecuali aku dan Papa. Tiba-tiba beliau memanggilku yang tengah asyik membaca di dalam kamar. Kemudian aku menarik kursi ke hadapan beliau, menunggu kata-kata keluar dari mulutnya. 
"Papa punya empat anak. Alhamdulillah,  tiga orang sudah punya gawai masing-masing. Tinggal satu orang lagi, kamu."
Mata tuanya menatapku lekat. Berhenti sesaat, menyesap rokoknya, lalu melanjutkan. 
"Selama hidup, Papa dan sepuluh jari ini tidak pernah menyusahkan hidup orang lain. Makanya Papa yakin, sangat yakin, bahwa Allah tidak akan bohong. Kalau kita berbuat baik, pasti berbalas baik. Itu yang kakek-nenekmu ajarkan dulu."
Aku sudah menduga akan kemana arah pembicaraan ini. Belakangan,  Papa memang sering mengkhawatirkan masa depan anak ketiganya, aku.

Menikmati Banda Neira dari Ketinggian (Part 2)

Salah satu cara untuk bisa melihat panorama Banda Neira secara keseluruhan adalah dengan berdiri di puncak Gunung Api dan hal ini sudah seperti ‘kewajiban’ bagi setiap turis. Jika kemarin saya hanya menatap gunung yang elok hijau menjulang ini dari belakang penginapan, kini saatnya merasakan sensasi mendaki dan bermalam di gunung api yang puncaknya berada pada ketinggian sekitar 666 meter di atas permukaan laut tersebut. Dan angka tersebut bisa jadi dianggap remeh bagi sebagian orang, jika dibandingkan dengan ketinggian gunung-gunung lainnya di Indonesia yang rata-rata berada diatas angka 1000, 2000, bahkan 3000 meter.
Sekitar pukul tiga sore, saya dan Miz , adik saya, sudah siap dengan segala barang bawaan dan bekal kami. Makanan, minuman, kantong tidur, matras, tapi tanpa tenda. Cukup nekat memang. Namun kami berharap cuaca akan bersahabat hingga kami turun gunung esok hari. Setelah menyeberang dengan perahu ketinting sekitar 5 menit, kami sampai di titik awal jalur pendakian gunung …

Berjalan Lebih Jauh ke Banda Neira (Part 1)

Petang sebelum keberangkatan. Satu pesan masuk. “Kamu mau ke Banda Neira?” Saya tersenyum, lalu segera mengetik jawaban. “Ya, tentu saja mau.” Saya tahu pasti bukan jawaban macam itu yang dia inginkan, tapi saya tetap mengirimnya. Tak lama berselang, dia membalas “Kapan mau ke sana?” “Kapan kamu mau mengajak saya?” Saya balik bertanya sambil mengamati riuh ramai di hadapan saya. Pelabuhan Ambon malam ini sibuk sekali. **
Selamat pagi, Banda Neira!
Perjalanan ke pulau ini sebenarnya telah saya impikan cukup lama. Semua bermula ketika sahabat saya bercerita tentang keeksotisan pulau yang dijuluki Nutmeg Island ini. Dan sejak itu pula kami berencana untuk menjelajahinya nanti, entah kapan. Tapi hidup memang seringkali dikelilingi hal-hal tak terduga. Saat kesempatan itu ada di depan mata, hanya dua pilihannya: take it or lose it. Saya memilih yang pertama. So now, here i am. Berdua, tapi bukan dengan sahabat saya itu. Menyapa subuh di pelabuhan Banda Neira yang masih diselimuti gelap, namun pen…

Untuk kamu, yang sedang menujuku

Apa kabar perjalananmu? Aku harap kamu masih kuat untuk terus berjalan. Jika kamu lelah, istirahatlah sejenak. Jangan terlalu memaksakan diri. Lepaskan ranselmu, hingga kamu siap melangkah lagi.
Kelak apapun yang kamu hadapi di tengah perjalanan nanti, semoga tidak membuatmu berpikir untuk berhenti, apatah lagi memutar arah. Tetaplah berjalan. Hingga kamu sampai padaku.

Dari aku, yang menjaga janji.

Lima Juni di Pulau Osi

Lima Juni ke-duapuluhenam.
Hari menjelang siang, namun awan kelabu masih betah menggelayut di langit Waimital. Rintik gerimisnya sukses membuat saya galau semenjak pagi. Ah ya, untuk alasan pekerjaan sekarang saya berada di desa ini, tepatnya di kabupaten Seram Bagian Barat. Mess kantor sepi, hanya saya dan bapak penjaga mess. Sementara rekan yang lainnya sudah bertolak ke Ambon sejak kemarin. Untuk menyenangkan diri, saya berniat menjelajahi daratan Pulau Seram yang masih baru bagi saya ini.
Pulau Osi merupakan sebuah dusun di bagian barat Pulau Seram. Sudah diputuskan, saya akan kesana, sendiri! Untuk yang berangkat dari Pulau Ambon, kalian harus menyeberang laut menggunakan kapal Ferry dari pelabuhan Hunimua (desa Liang) untuk bisa sampai di pelabuhan Waipirit (Seram Bagian Barat). Harga tiket cukup terjangkau, Rp.13.500,-/orang. Sementara saya yang berangkat dari mess, yang letaknya cukup dekat dari Pelabuhan Waipirit, tinggal melanjutkan perjalanan darat sejauh 70 kilometer ke ara…

: untuk Perempuan Setia

Pernahkah kamu bertanya kepada orang tuamu perihal nama yang mereka sematkan atasmu sejak kamu belum mengenal apa-apa di dunia ini? Ah, silahkan kamu bilang aku aneh untuk pertanyaan itu. Namun beginilah, aku memang selalu memikirkan hal-hal remeh semacam nama, yang mungkin bagi sebagian manusia tak begitu penting.
Aku, sejak mengetahui namamu, kerap menduga pribadi seperti apa yang ada dibaliknya. Dan kemarin, aku sudah menemukan jawabannya! Maaf jika ternyata tak sesuai. Namun tepat di depan mata, aku cukup yakin inilah yang orang tuamu harapkan atas anaknya. Menjadi perempuan setia.
Dulu, seorang kakak sekaligus guru, pernah berpesan kepadaku: “pilihlah yang baik, dan setialah bersamanya.” Kalimat yang singkat dan sederhana bukan?! Agaknya aku merasa perlu untuk berpesan hal serupa padamu. Nanti jika kamu punya waktu untuk meresapinya, akan kamu dapati bahwa ternyata maknanya tak sesingkat dan sesederhana itu.
Menjadi setia, tentu bukan pekerjaan mudah. Kita sama-sama tahu itu. Terleb…

Menunggu Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus rintik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri -aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. tapi hujan menghapus keraguan itu -sayangnya- bersama butir-butir cinta ya…

Hari Bumi, Ngapain?

Aksi bersih gunung.
Itu yang pertama terlintas di pikiran saya ketika diajak untuk nanjak ke Puncak Kayu Satu  oleh kawan-kawan grup FACT alias Female Action Community. Sebenarnya agenda utamanya ya cuma nanjak, gak ngapa-ngapain, sekadar melepas galau (halaah...), karena rupanya pas tanggal 21 April itu, para kartini muda ini lagi mumet mikir nasib diri dan bangsanya. Hahaa...
Nah, saya pikir daripada balik dari Puncak kita gak bawa apa-apa selain kenangan, lebih baik kita bawa turun sampah yang ada di sana. Setidaknya sampah itu terlihat lebih nyata. Lagipula momennya juga pas dengan Hari Bumi. Walaupun saya yakin, kita semua gak butuh momen untuk bikin Bumi ini lebih bersih dan nyaman.
Selasa sore kami berangkat. Berbekal secukupnya, karena memang kami tidak berniat untuk menginap disana. Anggota berjumlah 7 orang dengan latar belakang yang  berbeda. Ada yang masih sibuk kuliah, sementara susun skripsi, sudah kerja, sok sibuk juga pengangguran. Tapi itulah, walau berbeda, kami tet…