30 September 2014

Berdamai dengan Masa Lalu di Negeri Seribu Benteng


Sabtu lalu (27/09), saya berkesempatan untuk mengunjungi Pameran Nasional yang diadakan Balai Arkeologi Ambon, di Pattimura Park. Mengambil tema "Negeri Seribu Benteng", pameran ini memaparkan tentang keberadaan sebaran benteng-benteng Eropa di Indonesia, khususnya di wilayah Maluku.

Kenyataan sejarah bahwa Maluku adalah ladang rempah seperti cengkih dan pala, sebagai komoditi penting di masa lalu menandakan wilayah ini memang memiliki nilai penting bagi perdagangan dunia saat itu. Dan keberadaan benteng-benteng Eropa merupakan bukti atas dinamika sejarah tersebut.

Selain membahas sebaran benteng di Maluku, pameran ini juga menampilkan keberadaan benteng-benteng peninggalan kolonial di wilayah lain, seperti Jawa, Sulawesi dan Papua. Disertai ulasan yang cukup lengkap tentang latar sejarah, interaksi dengan dunia luar, dan dilengkapi dengan foto dokumentasi dari masa ke masa.

Pameran Nasional "Negeri Seribu Benteng" ini sebagai salah satu wahana untuk memperkenalkan benteng dan warisan sejarah budaya kepada publik, seharusnya dapat menarik minat masyarakat kota untuk mempelajari masa lalu. Namun sayang, kegiatan ini tergolong sepi pengunjung.

Kedepannya, diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali serta dilengkapi dengan miniatur atau visualisasi yang lebih menarik, sehingga mampu menumbuhkan semangat dan gagasan dalam mengemas warisan budaya agar memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah.

24 September 2014

Dialog Dalam Rumah #1


Pada suatu siang, ketika tak ada sesiapa di rumah kecuali aku dan Papa. Tiba-tiba beliau memanggilku yang tengah asyik membaca di dalam kamar. Kemudian aku menarik kursi ke hadapan beliau, menunggu kata-kata keluar dari mulutnya. 

"Papa punya empat anak. Alhamdulillah,  tiga orang sudah punya gawai masing-masing. Tinggal satu orang lagi, kamu."

Mata tuanya menatapku lekat. Berhenti sesaat, menyesap rokoknya, lalu melanjutkan. 

"Selama hidup, Papa dan sepuluh jari ini tidak pernah menyusahkan hidup orang lain. Makanya Papa yakin, sangat yakin, bahwa Allah tidak akan bohong. Kalau kita berbuat baik, pasti berbalas baik. Itu yang kakek-nenekmu ajarkan dulu."

Aku sudah menduga akan kemana arah pembicaraan ini. Belakangan,  Papa memang sering mengkhawatirkan masa depan anak ketiganya, aku.