27 Februari 2014

Monolog


Ada rindu yang terlalu, yang bahkan tak mampu dirapal dalam doa. Takut dosa.
Semacam rasa yang mereka bilang tak boleh ada.
Tapi apalah, ia sudah terlanjur ada.

Ada kata yang hanya bisa dibaca lewat tatap. Terlalu gagap.
Seakan ingin erat mendekap.
Tapi lagi-lagi, menunggu waktu yang tepat untuk diungkap.


Sudahlah. Biarkan.

25 Februari 2014

Outta Here


Dia mendewasakan kita dengan masalah, membijaksanakan kita dengan ujian.
Dan Dia tahu, hanya KITA yang bisa menjalani naskah kehidupan macam ini.
Bukan orang lain. Bukan mereka.
[@csdaties]

21 Februari 2014

Sketching

Saya penikmat gambar. Dan belakangan ini saya mulai belajar menggambar. Saking niatnya, saya bahkan membeli buku khusus untuk melampiaskan hasrat terpendam ini. Dimulai dari sekadar sketsa iseng, sampai mengikut hasil gambar orang. Bukan bermaksud plagiat tentu saja, ini hanya sebagai proses belajar.

belajar dari gambar orang lain
Suatu ketika, saya pernah 'nyasar' di situsnya Indonesia's Sketchers dan dibuat kagum pada hasil karya mereka. Dulu sewaktu di Makassar, saya memang pernah mendengar nama komunitas ini. Namun belum berkesempatan untuk mengenal lebih dalam, saya harus pindah ke Ambon. Saya perhatikan objek sketsa mereka kebanyakan adalah jalanan, bangunan dan kehidupan masyarakat kota.

Saya pun mulai mencari tahu apakah ada komunitas serupa di kota ini, tapi ternyata nihil. Akhirnya saya nekat belajar sendiri. Lewat Youtube, saya melihat beberapa video cara membuat urban sketch. Dan kemarin adalah pertama kali saya mencobanya di salah satu landmark kota Ambon, yaitu Masjid raya Al-Fatah.
Masjid Raya Al-Fatah
Setelah sekitar dua jam duduk di parkiran depan, melakukan gerakan menunduk-mendongak, diperhatikan orang yang lalu-lalang, hingga kedatangan sebuah mobil yang seenaknya parkir di hadapan, akhirnya saya menyelesaikan sketsa perdana ini. Dan saya cukup puas atas hasilnya. Tadaa!

Masjid Raya Al-Fatah on sketch
Saya sadar masih banyak kekurangan pada hasil perdana ini. Dan itu berarti saya masih harus terus belajar. Mulai dari cara tarik garis, arsiran, dan sebagainya. Saya pun harus belajar untuk langsung sketsa pakai pen, bukan pensil lagi.  Juga belajar untuk colouring, supaya terlihat hidup. Yap, semoga bisa! :)

19 Februari 2014

Museum Siwalima

Museum Siwalima terletak di kawasan Taman Makmur, sekitar 5 km dari pusat kota. Aksesnya mudah, cukup dijangkau dengan angkutan umum rute Taman Makmur. Museum ini berada diatas bukit yang menghadap Teluk Ambon dengan pemandangan yang mempesona.

Museum Siwalima terdiri atas dua bangunan yang berjarak cukup jauh, namun masih dalam satu kawasan. Bangunan pertama adalah Museum Budaya, menyimpan segala hal yang berhubungan dengan budaya lokal Maluku. Sedangkan bangunan kedua adalah Museum Kelautan, yang menjelaskan sejarah kelautan masyarakat Maluku dan beberapa benda yang berkaitan dengan kehidupan lautnya.

Untuk pengunjung dewasa, cukup membayar tiket masuk sebesar 3000 (tiga ribu) rupiah dan sudah bisa menikmati keseluruhan koleksi yang tersimpan di dalam kedua bangunan tersebut. Tapi kalau pengunjung ingin memotret atau mendokumentasikan isi museum, maka dikenakan biaya tambahan sebesar 15000 (lima belas ribu) rupiah untuk kamera digital.

Museum Budaya menyajikan beragam sejarah, budaya dan kepercayaan masyarakat Maluku dari masa lampau hingga sekarang. Hal ini bisa dilihat dari beberapa koleksi patung yang digunakan pada upacara adat, perwujudan tokoh juga perlambang kesuburan dan penolak bala. Terdapat pula beragam contoh koleksi jimat, perhiasan, sistem agama, miniatur rumah adat, koleksi mata uang, peralatan pertanian, koleksi tenun khas Maluku, kronologi Perang Pattimura, dan lainnya.

Tak kalah menarik, Museum Kelautan pun menampilkan kekayaan alam bawah laut Maluku, seperti terumbu, karang dan hewan-hewan laut. Terdapat pula miniatur berbagai perahu, cara penangkapan ikan, sistem konservasi tradisional yang disebut Sasi, koleksi kerangka Paus, dan sebagainya. Di luar bangunan, terdapat Patung Pattimura lama yang dulunya terletak didepan kawasan kantor Gubernur Maluku. Namun setelah renovasi, patung lama ini ditempatkan di museum ini dan diganti dengan yang baru.
foto-foto: koleksi Lumix dan Fath

Sebagai satu-satunya tempat penyimpanan koleksi budaya Maluku di kota Ambon , Museum Siwalima masih terbilang sepi pengunjung. Kecuali hari libur, perkiraan pengunjung hanya sekitar 10-20 orang per hari. Selain itu, terlihat masih minimnya informasi mengenai beberapa koleksi yang ada dalam museum ini, sehingga pengunjung akan kebingungan jika tidak menggunakan jasa guide.
***
Tiket Masuk (anak-anak/dewasa/tamu asing):
- Perorangan: Rp. 1500/3000/10000
- Rombongan: Rp. 1000/2500/5000
Dokumentasi video/kamera digital/handphone: Rp. 30000/15000/10000
Jam Kunjung:
- Senin-Jumat: 08.30-16.00
- Sabtu: 09.30-15.00
- Minggu: 11.30-16.00