29 November 2010

Status History on Facebook

ada aplikasi baru di fesbuk, namanya My Statuses. disini kita bisa liat sejarah status kita selama kita aktif di jejaring dunia maya ini. baca kembali status-status itu, bikin saya inget masa-masa lalu.hehhe...


Cahya Sidratulmuntaha ad yg pux peta kampus unhas?? (Wed, 29 Jul 2009 08:22:55 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha mesjid makin sepi..mall makin rame (Thu, 17 Sep 2009 12:57:40 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha maaf, tapi saya harus melepaskan kalian (humaz crew) :'( (Fri, 13 Nov 2009 13:33:41 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .ada jg orang yg ngrokok sambil bawa motor >> gak puas bikin polusi lewat 1 cara,ckck... (Fri, 07 May 2010 01:31:27 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha seperti selalu kubilang kawan! kita selama ini hanya bisa menunggu..menunggu beribu nyawa hilang,menunggu angin mengabarkan bahwa ada darah tercecer di tanah sana..padahal tiap detik,airmata terus mengalir basahi mayat2 mujahid Palestina..ah,apakah kita benar2 (telah) peduli? ---dari KAMMI untuk PALESTINA (Mon, 31 May 2010 12:55:56 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .22 tahun, makin dewasalah. (Sat, 05 Jun 2010 11:27:36 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .petualangan hari ini : melihat perahu yg 'katanya' terbalik itu dan air yg 'katanya' panas itu :) (Sat, 24 Jul 2010 01:39:58 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .sorry dad, i cant be perfect T.T (Fri, 20 Aug 2010 05:24:50 GMT)


Cahya Sidratulmuntaha .Ramadhan : proyek 3000 kali sujud.

*3000 kali sujud = 1500 raka'at = 50 raka'at per hari = 17 raka'at wajib + 12 raka'at rawatib + 8 raka'at tarawih + 3 raka'at witir + 2 raka'at dhuha + 10 raka'at sunnah wudhu sblm shalat..subhanallah,bahkan semuanya lebih dr 50 raka'at =) (Fri, 20 Aug 2010 23:08:47 GMT)



Cahya Sidratulmuntaha Build your DREAM

Make a WISH

Do your BEST
Keep PRAYING
Leave
them all to ALLAH
And you'll be HAPPY insya ALLAH (Mon, 30 Aug 2010 12:43:06 GMT)


Cahya Sidratulmuntaha abang novan dan adik meizwar, the best brother i've ever had =) (Tue, 07 Sep 2010 06:56:13 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .kemarin,hari ini atau besok,insyaallah tetap sama..bangga gabung dgn kalian,SLAYER ORENS =) (Sun, 03 Oct 2010 12:58:38 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .terima kasih mama, terima kasih papa, thanks 4 everything =) (Mon, 18 Oct 2010 12:24:52 GMT)


bisa diliat dari terlama-terbaru ataupun sebaliknya..yang mau, coba link ini http://apps.facebook.com/mystatuses. selamat bernostalgia ^_^

20 November 2010

Kalau Ingin Perubahan, Tegakkanlah Malam dan Bangunlah Lebih Awal

Seharusnyalah, tidak ada yang begitu mengenaskan bagi kita -aktivis dakwah- kecuali kalau kita dalam tidak sempat menegakkan malam (qiyamullail) dan mengisi awal pagi dengan kegiatan yang membawa perubahan.

***

KAMMI adalah pembawa obor perubahan. Malam itu, tengah tahun 2001, KAMMI mengadakan muhasabah dan qiyamullail. Beratus orang -ikhwan dan akhwat- hadir, diam, menangis dan khusyu'. Ya, ruh kami berkata bahwa reformasi Indonesia harus kami selamatkan. Indonesia berantakan dan fatwa telah jelas tersampaikan. Strategi pun terancang, semuanya terkomunikasikan.

Siang besoknya itu, sang presiden akan datang dan mengunjungi kampus kami. Kami tahu dia akan berbicara omong kosong, sementara ia enggan bertanggung jawab. Maka kami melawan, kami enggan ia datang.

Pagi itu kami bergerak, berbondong dan berduyun, menutup lima jalan masuk ke kampus. Kami tak tahu dari mana ia masuk. Sebagian barisan kami tebal dua tiga lapis, sebagian barisan kami cuma satu baris memanjang, tapi kami tetap bersemangat, ikhwan maupun akhwat.

Muka kami coreng moreng dengan pasta gigi, pertahanan murah meriah untuk gas air mata, lagu-lagu bersemangat terus kami lantunkan, polisi dan panser berdatangan, mereka sedikit kesiangan, terkejut kami di ring satu.

Presiden kan datang sementara kami masih bertahan. Maka air dari water canon pun tersembur menghantam. Polisi menerjang dan membongkar ikhwan dan akhwat, kami tetap bertahan. Barisan ikhwan terbongkar, akhwat bertahan. Polisi-polisi itu mengangkati mereka seperti mengangkat ayam tuk masuk penggorengan. Kami terus saja bertahan dan terus bertahan.


Sajak untuk KAMMI

Kau bilang aksimu kuat
Tapi dengan jumlah kader yang melimpah dan katanya militan itu,
bahkan kau tak lagi mampu mengerahkan mereka di setiap aksi jalananmu.
Kau tak lagi mampu membuat mereka bergerak,
untuk menuntaskan cita-cita besarmu yang bernama ’perubahan’.
Lalu, kau sebut itu KUAT kawan??

Kau bilang ibadahmu taat
Saking taatnya, kader-kadermu justru lebih sering berada dalam mihrabnya,
daripada mengubah kedzaliman di luar sana dengan tangannya.
Mereka malah sibuk dengan keshalihan pribadinya,
dan melupakan masyarakat yang akidahnya sedang runtuh.
Apa itu yang kau katakan TAAT??

Kau bilang prestasimu hebat
Ya, sangat hebat hingga hanya bersedia menjadi pemain belakang
Memilih menjadi ’follower’, bukannya ’leader’
Itu yang kau bilang HEBAT??

Padahal kupikir kau cukup intelek
Potensi punya, prestasi pun ada
Lalu hilang kemana jargon-jargon itu kawan??
Hanya sebatas kata kah??
Apa yang kau banggakan kawan??
Euforia masa lalu karena berhasil menumbangkan rezim??
Itu kah??

Kalau memang itu,
Maka hidup saja untuk masa lalumu !!


***
dari ruang dosen hingga al-hamas

KAMMI Komisariat Unhas, Pada Suatu Masa


Universitas Hasanuddin atau yang lebih dikenali dengan nama ‘Kampus Merah’. Julukan ini menunjukkan bahwa Unhas memang diharapkan menjadi tempatnya orang-orang pemberani, seperti beraninya Sultan Hasanuddin yang namanya diadopsi menjadi nama kampus ini. Juga mendamba lahirnya generasi harapan bangsa yang rela mengorbankan ‘merah darah’nya untuk kejayaan negeri.


Tahun 1998 merupakan tahun yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, ditandai dengan runtuhnya rezim yang selama ini menguasai negeri dan lahirnya reformasi. Juga menjadi tahun yang penting bagi aktivis-aktivis mahasiswa karena telah lahir Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Melalui Deklarasi Malang, KAMMI resmi terbentuk. Lahir dengan sebuah tekad untuk terus bergerak, menuntaskan agenda-agenda reformasi saat itu.


Jika berbicara mengenai sejarah terbentuknya KAMMI di Sulawesi Selatan, masih terdapat kesimpangsiuran karena sejarah mencatat dua nama yaitu Syarifuddin Jurdi dan Yusran sebagai pencetus berdirinya KAMMI Daerah Sulsel saat itu. Dan seiring berjalannya kepengurusan di KAMMI Daerah, maka dibentuklah KAMMI komisariat di tingkat fakultas atau wilayah. Seperti KAMMI pada wilayah FIS (Fakultas Ilmu Sosial) yang merupakan gabungan dari fakultas ekonomi, hukum, sastra, dan sospol. Saat itu, Sulastiana Syamsul yang menjabat sebagai ketua di komisariat FIS. Ada juga Taufik Amrullah (mantan Ketua KAMMI Pusat periode 2006-2008), sebagai ketua KAMMI Komisariat Teknik.


Lalu pada tahun 2002, karena KAMMI di tingkat fakultas dan gabungan wilayah tersebut dirasa kurang efektif, maka tercetuslah sebuah ide untuk membentuk KAMMI komisariat di tingkat universitas. Dan muncullah nama Muhammad Huldi Amal (Komunikasi ’99) sebagai Ketua Umum KAMMI Komisariat Unhas yang pertama.

My First Scrapbook


suatu hari, saya pernah lihat tayangan di TV soal scrapbook. saya mulai penasaran dan mulai mencari tahu 'wujud' scrapbook ini. hehhe...mungkin, sebagian dari kita masih merasa asing dengan istilah scrapbook.

nah, asal kata scrapbook sendiri adalah scrap, yang artinya barang sisa. sebenarnya, scrapbook ini bisa dibilang cabang dari prakarya kertas semacam origami atau kartu ucapan lainnya. hanya bedanya, objek prakaryanya adalah foto, yang punya kenangan tersendiri bagi pembuatnya. foto itu dihias dengan hiasan dan desain yang cantik. biasanya dibuat dari macam-macam motif kertas yang lucu dan unik; dihias dengan kancing, pita, benang atau pernak-pernik lainnya; juga diberi 'tag' yang bisa ditulis dengan catatan penting mengenai foto tersebut.

dan untuk mengobati rasa penasaran, saya mulai mencari link yang bersangkutan dengan hobi baru ini. akhirnya saya mendapat alamat situs ini: http://cp.c-ij.com. untuk pemula, situs ini menyediakan desain scrapbook yang tinggal di-download.enak kan? tidak perlu repot mencari bahan-bahan diatas. cuma modal printer warna dan kertas karton, akhirnya saya mulai membuatnya dan inilah hasilnya ^_^


my first scrapbook



Writer Wanna be....

lewat tengah malam, otakku buntu. bingung, tulisan apa (lagi) yang akan kuposting malam ini. sejak 4 jam lalu, aku duduk dengan setia menatap layar komputer: facebook dan blogging. merombak total tampilan blog-ku yang berbulan-bulan tidak kusentuh, mem-posting tulisan-tulisan lamaku, juga sambil blogwalking ke tetangga. hmm...banyak inspirasi!! tulisan mereka asli keren. kupikir mereka memang punya bakat untuk jadi writer. dan aku, hanya 'mupeng' saja melihatnya dan berharap akulah penulisnya. hahaha...otakku mulai ngawur. sudahlah, suatu saat aku pasti bisa menyamai mereka.


banyak baca, banyak tulis, that's all makes perfect!! ^^






01:46 , kamar biru

Namamu, Sang Rasul

dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebutNya
dan kisahmu yang bertebar merambah hampir tiap surah
bahkan Allah menetapkan; kau terkisah untuk menguatkan jiwa
hati dan rasa seorang Nabi penutup masa

ya, kini aku tahu.. betapa tak mudah menjadimu hai Musa
mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh

maka saat wahyu turun, air matamu menitik, tubuhmu berpeluh
dalam kesadaran akan beratnya beban, kau mengeluh
“bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh”

ya, kini aku tahu, sungguh tak mudah menjadimu
sebab dalam keterbatasan itu, Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas, tentaranya perkasa
punggawanya setia, lagi taat buta
mengaku tuhan tertinggi, dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
dan kau.. kau terhutang budi masa kecil padanya
dan tahukah kau duh Musa, kelak kaum yang kau pimpin
yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka
akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?

malam ini kususuri kisahmu, dan aku takjub
atas takdirNya, masa lalumu tak sempurna
kau terpilih memikul risalah suci, dan kau didustakan
sedang Muhammad dipilihNya dari pribadi yang terjaga sempurna
dia memikul risalah dengan gelar al amin yang masyhur sudah
tapi diapun tetap didustakan

mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya
di saat-saat berat, Muhammad mengenangmu dan melirihkan gumam
“semoga Allah menyayangi saudaraku Musa..
sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”

malam ini duhai Musa, kususuri kisahmu
aku tersenyum, alhamdulillah, kau membuatku merasa
beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
tapi di sisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah
“ahh.. surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”



-dikutip secara sadar dari blognya akh salim a.fillah..semoga memberikan kebaikan pada yg lain-

Beginilah Al-Hamas Mengajarkanku!!

Al-Hamas..
Hanya sbuah ruangn 4x6,dgn AC dan kipas angin yg bhembus,karpet sajadah baru,dan dinding hijau pasca renovasi.
Terkadang air menetes dari atas plafond jika hujan mengguyur kampusku.
Keberadaannya seperti 'anak tiri', dihimpit lab-lab sipil yang bising. Tak sedikit pula yang merasa 'terganggu' dengan kehadiran Al-Hamas disana.
Ya,entah kenapa mereka tidak menyukai Al-Hamasku...

Padahal Al-Hamas..
Telah mengajakku masuk dalam 'lingkaran cahaya', membingkai diriku dengan Islam,membuatku dekat denganNya, mengajarkanku untuk selalu kuat menapak & memikul beratnya amanah,menguatkan azzam,mengajarkan diri untuk memaknai hidup,menjadikanku pribadi istimewa dengan fikrah Islam yang kubawa,menunjukkan bahwa ukhuwah tak sebatas usia,menyadarkan diri ketika dunia mulai melenakan.
Dan seperti namanya, Al-Hamas selalu memberi SEMANGAT baru saat jiwa mulai terasa hampa...

Ku ingin kau pun merasakannya...

Karena beginilah Al-Hamas mengajarkanku!!


***
al-hamas,15 april 2009

18 November 2010

Judul Kita Apa?

mungkin kita hanya sekedar makin sering terlambat,
mungkin juga sekedar sering lupa,atau cuma sedikit bertambah lalai,
atau mungkin cuma sekedar semakin enteng untuk tidak terlibat,
bisa juga semacam ketenangan dalam kealpaan,
dan tentu kita tidak menyebutnya sebagai futur...

bisa jadi kita cuma sedikit malas,
dimana dengannya dalih kita menjadi agak banyak dan bervariasi,
atau kita hanya semacam sedikit pilih-pilih tugas,
ada agak banyak tugas yang kita rasa sudah tidak pantas (lagi) kita kerjakan,
dan kita juga tidak menyebutnya sebagai futur...

mungkin kita hanya sedikit terganggu,
kita hanya sedikit agak terganggu dalam tilawah,atau dalam puasa atau mungkin lainnya,
sebenarnya tidak berat,cuma sekedar agak sulit menikmatinya,
dan kita memang sulit mendefinisikannya sebagai futur...

kita mungkin cuma semacam bosan,
atau sekedar ingin melongokkan kepala ke luar sana,
atau kita cuma kaget kecil-kecilan,
atau sedikit silau,atau bahkan sedikit lebih ringan daripada itu,
dan sulit bagi kita untuk menyebutnya futur...

atau kita cuma sedikit tersadarkan,
pada realitas keluarga kita,anak dan istri kita,rumah dan kendaraan kita,
sedikit tersadar akan realitas karir kita,atau sedikit menghitung-hitung realitas sosial kita,
dan tentu saja itu bukan futur...

bisa juga kita cuma sekedar melihat tikungan sejarah,
ada yang berbeda di depan sana,
dan kita semacam sedang sedikit membuat apresiasi,
atau (paling tidak) semacam antisipasi,tidak lebih dari itu,
(mungkin) itu juga bukan futur...

[taken from : sudahkah kita tarbiyah?]

***
semoga bisa jadi pengingat saat jiwa rapuh dan 'merasa' futur :'(

Kau Mencintaiku

ini dia salah satu puisi indah yang saya suka. kena banget di hati, biar dibaca berkali-kali tetap gak membosankan. ini puisi indah dari Ayatul Husna yg judulnya “Kau Mencintaiku” buat kakak tercintanya, Azzam di film KCB. hmm...like diz very much ^__^ sempet membuat mata berkaca-kaca pas nontonnya.hahha...dasar mellow.tapi gak papalah,emang bener puisinya bagus koq.gak percaya??sok atuh dibaca....

***

Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya.
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka

Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa

Kau mencintaiku
Seperti air
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membersihkan lara
Tak pernah lelah
Menyejukkan dahaga

Kau mencintaiku
Seperti bunga
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah
Meneduhkan gelisah nyala



(eh, trus di balas sama Azzam….)

aku mencintaimu
seperti bumi
mencintai
mataharinya

***

nb: 'kau' dan 'aku' disini bisa jadi siapa dan apa saja.silahkan interpretasikan sendiri :)

Pengorbanan Kita Belum Seberapa

pengorbanan kita belum seberapa
masih peluh yg mengalir,bukan darah

pengorbanan kita belum seberapa
raga yang lelah,tak tersayat apapun

pengorbanan kita belum seberapa
hanya tapak biasa tercipta,bukan jejak sejarah

pengorbanan kita belum seberapa
hanya meminta sedikit tenaga dan pikiran,tak perlu harta bahkan jiwa

ah..pengorbanan kita memang belum seberapa
bahkan untuk yg sedikit itupun,kita masih perhitungan.....

***

14 agustus 2010, entah dimana

Ini Bukan Kebetulan, Yakin Saja!!

sungguh,tak ada yg kebetulan di dunia ini.semua telah diatur olehNya,Sang Pengatur Semesta.termasuk kejadian sore ini,ketika aku ditakdirkan utk shalat ashar berjamaah di masjid Daarut Tauhid.

Allah tahu segala,termasuk kegelisahan dalam diri.Maka Allah pun menakdirkanku untuk mendengarkan kajian ba'da ashar di masjid itu.Lewat lisan Aa Gym,Allah menyadarkanku.Tentang penyebab kegelisahan itu,tentang hati yg resah,tentang rezeki yg selalu dianggap tak cukup.

Ini tentu bukan kebetulan.Allah tahu,maka Dia menakdirkanku kesana.Lalu aku pun sadar,selama ini aku meletakkan dunia di hati.

Hingga ketika cita tak sesuai nyata,ketika merasa tak pernah cukup dgn apa yg ada,ketika penilaian orang selalu membebani diri,ketika rezeki enggan menghampiri.Hanya ada satu jawaban untuk itu semua : karena jauh dari Allah.

Maka,mendekatlah. Jauhi maksiat karena itulah penghalang rezeki. Yakinlah hanya pada Allah,sebaik-baik sandaran hati.

***
29 juli 2010,saat puasa (masih) menemani,insyaallah :)

Dear Ramadhan

Dear Ramadhan,
Dua hari lagi, udah tanggal 10 September di kalender masehiku. Kemungkinan juga lebaran akan jatuh pada tanggal segitu. Ya, 1 Syawal 1431 hijriyah. Cepet banget ya. Gak terasa kalo sudah hampir sebulan kita bersama. Dan parahnya, aku baru sadar pas udah hampir di penghujung waktu bersamamu.

Hmm..tentu kau yang paling tahu tentang hari-hariku yang biasa-biasa saja selama bersamamu. Ah, malu aku jadinya kalau mengingatnya kembali. Tentang target-target yang kubuat ketika kau pertama kali datang, tak sepenuhya aku penuhi. Bahkan sepertinya, sebagian pun tidak.

Misalnya saja ketika kutulis target akan menemui dhuha setiap hari di awal pagi. Aku ingkar, karena aku masih tidur saat itu. Terlalu banyak makan saat sahur membuat mataku ingin tertutup lagi setelah subuh berlalu. Juga dengan tarawih yang keteteran karena aku sibuk di luar sana, sibuk yang tak jelas tujuannya. Apalagi dengan tilawahku, yang selama bersamamu pun tak bisa ku-khatam-kan walau satu kali. Ah, banyak sekali Ramadhan. Semakin kutulis, semakin membuka aibku.

Dear Ramadhan,
Tentu kau tahu bahwa aku sebenarnya sangat senang bisa berjumpa lagi denganmu. Makanya aku membuat target-target itu saat menyambutmu, agar pertemuan kita tak sia-sia. Tapi untuk ke sekian kalinya, aku khilaf lagi. Tak pernah sadar bahwa tahun depan belum tentu Allah mengizinkan kita bisa bertemu lagi.

Dalam pekan pertama pertemuan kita, sungguh aku telah berusaha sebaik mungkin untuk mengoptimalkan kebersamaan kita. Pekan kedua, kurasa aku tak lagi istiqomah dengan komitmen yang kubuat sendiri. Masuk pekan ketiga, aku merasa kau mulai ‘ilfil’ padaku. Wajar, aku terlalu sering berjanji padamu, tapi jarang sekali kutepati. Lalu, hari-hari selanjutnya kau yang lebih tahu.

Dear Ramadhan,
Awalnya aku agak bingung dengan kegelisahanmu. Padahal aku hanya meng-sms keluarga dan beberapa teman setiap harinya untuk berbagi renungan harian selama bersamamu. Itupun sebagian besar aku copas dari buku yang kubaca. Aku juga menuliskannya di fesbuk sebagai statusku. Tapi, semakin hari aku semakin bingung. Jujur, kegelisahanmu itu agak menggangguku.

Tapi kini, aku baru paham makna gelisahmu. Kau gelisah, melihatku sibuk dengan HPku setiap hari. Kau gelisah, untuk setiap ‘send’ dan ‘share’ yang ku-klik. Kau gelisah, karena untuk setiap sms yang kukirim dan status yang ku-update itu, aku tidak merenunginya terlebih dahulu. Seolah kau ingin berkata, “Ingat Cahaya, kabura maqtan ‘indallahi an taquulu maa laa taf'aluun! Murka Allah bagi mereka yang berkata namun tak melaksanakannya!!”
Kau bingung melihat aktivitasku yang kebanyakan sia-sia, yang memberatkan kelopak mata, yang melemahkan tulang, yang melalaikan jiwa dari mengingat-Nya. Ya, aku sibuk menghadiri berbagai undangan buka puasa dimana-mana dan oleh siapa saja. Aku juga sibuk jualan, ngobrol ngalor ngidul, begadang nonton film, dengerin lagu-lagu, dan lain sebagainya hingga akhirnya aku terkapar kelelahan dalam kealpaan bersamamu.

Kau pun kembali berkata, “Apa yang kau lakukan, Cahaya? Kenapa kau justru terlelap saat kita bersama? Lupakah kau pada janji-Nya yang akan melipatgandakan pahala segala amalan, selagi kita bersama? Bangun Cahaya, bangun!! Sungguh, jika aku tahu akan diperlakukan seperti ini, aku akan meminta kepada Allah untuk tidak mempertemukan kita.”

“Coba lihatlah Al-Quranmu itu. Untuk ukuran dirimu, ia terlalu berdebu untuk dibiarkan sehari saja. Lihat juga buku-buku yang berjejer menunggu gilirannya untuk dibaca, sesuai targetanmu itu. Sesibuk itukah dirimu, hingga di penghujung kebersamaan kita ini kau hanya meng-khatam-kan dua buah buku?”

“Bagaimana dengan hafalanmu, Cahaya? Bukankah kau berniat untuk menghafal 2 juz selama kita bersama? Lalu dengan qiyam-mu, kenapa kau pernah meninggalkannya? Cahaya, masih ingatkah kau dengan targetmu yang lain? Tentang infaq itu, tentang silaturahim itu, tentang memberikan ifthor itu, tentang i’tikaf itu. Masih ingatkah kau pada mereka? Apa aku harus sampai bilang, betapa payahnya dirimu?”

Dear Ramadhan,
Rasanya mau nangis saat kau menegurku sedemikian rupa. Apalagi teguran itu baru kau katakan di penghujung pertemuan kita. Berkaca-kaca mataku ini, membayangkan kau benar-benar meminta kepada Allah untuk tidak mempertemukan kita lagi tahun depan.

Maafkan aku ya Ramadhan. Aku banyak salah sama kamu. Aku sibuk melakukan yang lain daripada bermesraan bersama-Nya saat kau ada. Tapi rasanya berjuta maaf pun tak cukup untuk menggantikan semuanya. Memang sih, harusnya hari ini aku mulai meminta maaf pada keluarga, saudara dan sahabat. Tapi, lebih dulu aku mau minta maaf sama kamu.Sekali lagi, maaf ya Ramadhan.

Dear Ramadhan,
Jika tahun depan Allah mengizinkan kita bertemu lagi, aku janji deh, Insya Allah aku akan memperbaiki semua kesalahanku tahun ini. Hingga saat itu tiba, aku akan berusaha untuk terus memperbaiki diri.
***

Makassar, 8 September 2010 / 29 Ramadhan 1431 H

Mereka Berjuang untuk Hidup

lokasi: jl.sungai saddang
deskripsi: papan di hadapannya bertuliskan 'terima jahit sendal/sepatu'.dengan beralaskan plastik seadanya,dia menggelar peralatan kerjanya yang sederhana.payung ungu melindunginya dari sengatan matahari.sudah jam 10 pagi, tapi masih saja belum ada pelanggan.

***
lokasi: depan mesjid raya
deskripsi: roda-roda terus berputar.dia tetap mengayuhkan becaknya,tak peduli lagi pada mentari.dia tetap saja mengayuh. karena jika dia hanya duduk, bisa jadi anak istrinya tak makan apa-apa nanti malam.

***
lokasi: bawah jembatan layang
deskripsi: menghitung eksemplar yang harus dia jual hari ini, berpikir tentang keuntungan yang akan didapat.dan tentu saja selalu dalam pantauan satuan pamong praja.begitu seterusnya, berulang setiap harinya.

***
they teach us, how to be survive

pete-pete, 3 november 2010

Salah Satu Sudut Salman

Allah,aku mau nangis..
Allah,tolong aku..
Allah,aku punya banyak cita..
Allah,Kau pasti tahu itu..
Bahkan untuk setiap yg belum terpikirkan,Kau tentu tahu..


Allah,di salah satu sudut salman aku duduk terhenyak.tiba2 berpikir tentang semua mimpi dan cita yg tertunda.tentang hidupku,tentang amanah itu..ah,ternyata masih sedikit yg ku perbuat.


Allah,sungguh aku rapuh..tolong kuatkan aku!!

*salman,21 juli 2010