31 Desember 2013

Jarak


seseorang pernah berkata, "kadang (antara dua orang atau lebih) memang harus dipisahkan, agar bisa melihat lebih jelas."

mungkin ada benarnya. kita memang selalu butuh jarak untuk bisa membaca dengan baik, menghargai pertemuan, dan untuk mengetahui arti rindu juga kehilangan.

lalu dengan alasan apa kamu kini berjarak denganku?

19 Desember 2013

Jangan Meninggalkan Amal


Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari dzikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berdzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karena tak tahu maknanya. Ketidaktahuan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firmanNya.

Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaran kita bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang-orang yang tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kita emban, in syaa Allah sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karena terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunan karena lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.
***

Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa 'alaa thaa'atik
Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinik

wahai Allah yang memalingkan hati manusia, palingkan hati kami diatas keta'atan padaMu
wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami diatas agamaMu

7 Desember 2013

Dekat

wish you were here (photo by ary)

segala hal memang selalu berubah, Sora.

sekarang mungkin kau baru mengerti, mengapa dulu aku suka sekali menjabat tanganmu erat-erat dan menatap matamu lekat-lekat, mendekatkan diri padahal ruang sekitar kita tak sempit. haha...itu semua hanya trik, kawan. Agar aku bisa dekat denganmu tentu saja. 

sama seperti ketika menggambar lingkaran tanpa putus, maka aku tak akan rela jika ada jarak yang menghalangiku merasakan sentuh lututmu saat kita duduk berhadapan.  

tapi kini, mereka yang kau temui kemarin tak lagi ada disampingmu, Sora. aku tahu, keadaanmu sekarang pasti jauh berbeda seperti kita bersama dulu. ah..bersabarlah. bersama waktu, kau akan membuat segalanya membaik.

sekarang kau boleh mendengarkan nasehatku. jika nanti kau bertemu seseorang yang baru di sana, cobalah trik yang pernah kupraktekkan padamu dulu. jabat erat tangannya, lalu tatap lekat matanya. jika kalian duduk berhadapan, dekatkan lututmu padanya. jangan hanya sekali. lakukan berkali-kali, setiap kalian bertemu.

kelak sebelum kau sadar, Tuhan kita yang Maha Dekat itu telah mendekatkan hati kalian.

sudah ya. baik-baik di sana. aku merindukanmu, penuh!

ps: jika nanti kalian sudah dekat, sampaikan salamku untuknya ya ;)


1 November 2013

Perahu Kertas

Alivya,

Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih. Seperti kita maklumi, Adam akan kesepian tanpa Hawa, dan kisah hidup manusia tak mungkin dimulai, Alivya. Barangkali waktu jadi beku dan semesta hanyalah ruang hampa yang tak memiliki apa-apa; Hidup tak mencipta gerak, gerak tak menyusun peristiwa, dan peristiwa tak pernah membentangkan kisah macam apapun.

Maka, Alivya, lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

Kemudian, lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. Maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggungan titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang-dua atau lebih.

Seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainnya, Alivya. Takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersinggungan dengan yang lain. Di sanalah Adam menemukan makna "pertemuan", sebagaimana pertama kali ia menjumpai Hawa pada tatapan pertamanya di surga-yang membuat detik hidupnya berdetak! Di sanalah hidup dimulai sebagai fusi sinergis yang harmonis antara takdir seseorang dengan seseorang lainnya-sebagai jejaring takdir yang membentang, "hidup".

Kini, lepaskanlah lipatan yang kedua, maka kau akan menemukan sebuah pola berupa garis lurus vertikal. Garis itulah yang akan menjadi "gurat" yang menentukan peristiwa-peristiwa berikutnya, Alivya. Semacam jejak yang ditinggalkan sebab memang "harus" ditinggalkan. Gurat itulah yang akan menuntun hidup pada sebuah kerja perbaikan, upaya untuk menentukan "sikap yang lain".

Adam dan Hawa terusir dari surga setelah menggigit "buah pengetahuan", lalu surga menjelma semacam "jejak" atau "gurat" bagi seluruh "kerja perbaikan", taubat, mereka berdua dalam rangka menempuh hidup mereka selanjutnya. Kelak, jejak itu pulalah yang senantiasa mereka lacak sepanjang hidupnya, "pulang".

Tariklah sisi kiri dan kanan atas kertas tadi menjadi sebuah lipatan berbentuk segitiga- pertemukanlah ujung lipatannya tepat di tengah-tengah garis vertikal tadi, Alivya. Inilah perjalanan kembali melacak jejak: Setelah perpisahan, kadang hidup memang harus dijalani dengan keteguhan dan pilihan hati masing-masing kita-sampai suatu hari kita bertemu kembali atau dipertemukan kembali. Itulah yang dirapalkan Adam dan Hawa dalam pengembaraan mereka masing-masing untuk "saling menemukan". Hingga kelak mereka kembali bertemu-atau dipertemukan- di gunung cahaya, Jabal Nur.

Pada bagian bawah yang tersisa, Alivya, buatlah lipatan segitiga kecil hingga ujungnya bersinggungan dengan segitiga di atasnya. Lakukan di kedua sisinya-juga di bagian sebaliknya. Hingga kau mendapati sebuah segitiga sama kaki berbentuk mirip caping petani.

Alivya, pada satu titik tertentu, seperti sekarang, kau akan melihat hidup sebagai konfigurasi peristiwa yang pada gilirannya membentuk sebuah kontinen makna. Seperti bentuk yang kau dapatkan sejauh ini-dari sejumlah kerja lipat-melipat yang kau lakukan. Kau cukup bahagia sejauh ini, bukan? Ya, begitulah, ada beberapa peristiwa yang membuatmu sedih, bebas, bahagia, atau hampa. Di sini, barangkali memaknai hidup sama seperti menikmati sebuah lukisan abstrak: Kadang hidup bukan untuk dihitung, tapi diperhitungkan. Bukan untuk dipikir, tapi dirasa. Seperti menebak judul sebuah lukisan abstrak: Kadang-kadang hidup tak perlu diberi "judul", cukup jalani saja.

Ada sebuah ruang yang tercipta di tengah-tengah bentuk segitiga sama kaki yang kau pegang saat ini, Alivya. Bukalah dari bagian bawahnya, lalu pertemukan sudut kiri-bawah dan kanan-bawah segitiga itu, kau akan mendapati sebuah bentuk yang lain: Wajik. Inilah bagian terpenting dari keseluruhan perjalanan, saat setiap ruas saling menggenapkan. Saat satu peristiwa menghubungkan diri dengan peristiwa lainnya hingga terbaca sebuah cerita. Peristiwa yang membuatmu tertawa terbahak-bahak pada suatu hari, membuatmu tersenyum getir di hari yang lain; peristiwa yang pernah membuatmu sesenggukan barangkali juga menjadi peristiwa yang membuatmu merasa bebas di waktu yang lain. Hidup adalah soal mengalami dan merasakan peristiwa dan cerita-cerita yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya...

Tak ada yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri, Alivya. Kebahagiaan hanyalah satu sisi dari wajah lain kesedihan; seperti "tertekan" kadang-kadang juga merupakan nama lain dari rasa "bebas". Di bagian seperti ini, seseorang yang rela membaca kembali jejak dan peristiwa yang tertinggal akan bisa membaca hampir keseluruhan peristiwa-keseluruhan cerita. Ketika seluruh cerita terbaca, seluruh peristiwa terlacak...

Pada bagian akhir, lipatlah bagian bawah wajik itu ke atas-lakukan juga di bagian sebaliknya. kau akan mendapati segitiga yang lain. Lalu, lakukan hal yang sama seperti ketika kau melipat bagian bawah segitiga menjadi berbentuk wajik. Kini kau punya sebuah wajik yang indah-yang terbentuk dari sejumlah konfigurasi apik lipatan demi lipatan. Tepat di bagian atas, kau memiliki dua bagian rekah seperti kuncup, tariklah kuncup itu menjauh. Dan kau akan mendapati...Perahu Kertas.

Di sana, Alivya, sadarilah... Setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa disebut sebagai manusia? Berapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya? Hanya kamu yang tahu, setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri...

Selanjutnya, setiap orang selalu butuh teman untuk berlayar, Alivya. Itulah sebabnya aku butuh kamu, seseorang yang akan menemaniku berlayar, melacak jejak "pulang"... Menuju surga...


siap berlayar...
~ ditulis ulang dari buku Yang Galau Yang Meracau, karya Fahd Djibran

6 Oktober 2013

Going Home, to You

picture from here
"aku lelah, Al" 
"ada apa, Sora? bukankah kita sedang bermain? ini menyenangkan."
"kau benar, tapi kita sudah terlalu jauh bermain. aku takut kita lupa jalan pulang."

sementara rumah, masih tetap disana. menanti kepulangan mereka.

---

Allah Yang Maha Baik, tolong jaga terus hati kami.
agar sejauh apapun kami bermain, kami tak pernah lupa untuk pulang padaMu.

27 September 2013

Our Wedding Song

Hidup 'Kan Baik-Baik Saja, lagu kedua dalam album Tempat Aku Pulang
Perkenalkan! Adalah dia, Fiersa Besariseorang lelaki beruntung, petualang melankolis, penulis amatir, tukang foto sekaligus musisi yang menciptakan sebuah lagu romantis dengan lirik sederhana berjudul Hidup 'Kan Baik-Baik Saja.

Inilah salah satu lagu yang berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri ketika mendengarnya. Maka sejak Ramadhan lalu, saya membuat keputusan aneh. Saya akan menjadikan lagu ini sebagai soundtrack pernikahan kami kelak. Ya! Saya dan lelaki saya. Oh ya, bahkan sepasang kawan bersedia untuk menyanyikannya langsung di hadapan para tamu kami nantinya. Ah, betapa keren mereka!

Akhir kata, terima kasih Fiersa untuk lirik dan nada yang kamu gubah ini. Semoga kamu tidak keberatan atas keputusan aneh saya itu. Untuk kalian, berikut saya hadiahkan liriknya. Silahkan mendengarnya disini sebelum undangan pernikahan kami yang entah kapan itu beredar.


Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga

Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini 
Hidup kan baik-baik saja

Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini 
Hidup kan baik-baik saja

Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua

Be Kind

picture from here

Selalulah berbagi dengan orang lain.
Walau hanya sepotong ide.
Walau sebenarnya kitalah yang membutuhkannya.
Walau kita sulit melakukannya.
Dari sanalah kita akan mendapati nikmatnya ikhlas dan menuai pahala karenanya. insya Allah.

Teruslah menjadi baik walau susah dijalani.
Tak perlu orang lain tahu, cukup Allah dan diri.

| nasehat sahabat, 24 september 2013 |

18 September 2013

Lost

Dibawah Langit Puntondo (photo : CLk7)

mungkin beberapa rasa cinta memang tak harus memiliki muaranya,
seperti beberapa diantaranya ditakdirkan terlambat untuk diungkapkan...

mungkin beberapa jenis cinta ditakdirkan untuk tidak berakhir pada muaranya.
ia hanya perlu ada,begitu saja,tak meminta apa-apa lagi.

25 Mei 2013

Jalan Pulang

sketch by clk7
sayangku, bantulah aku menemukan jalan pulang
agar aku segera menyisih dari percakapan riuh duniawi
seperti halnya cintaku padamu, telah kurencanakan
sejak mula aku memetik mawar matamu yang sunyi

tubuh-tubuh yang lelah berkilauan di angkasa
berputar-putar dan bernyanyi tanpa suara
sayangku, bantulah aku menafsir hakekat ketiadaan
sebagaimana kehidupan dan kematian erat berdampingan
[ Jalan Pulang - Muhary Wahyu Nurba ]

21 Mei 2013

Tentang Kota


Lapangan Karebosi, Makassar (photo by uhm)
suatu hari nanti, saat semua menjadi masa lalu.
saya akan mengenang kota ini sebagai tempat awal saya berangkat, menemukan inspirasi, merawat cita-cita, berkawan perjuangan.

bersama mereka, yang saya sebut saudara.

5 Februari 2013

Sepotong Senja

Senja di Losari (photo : CLk7)

Aku masih menjaga rindu yang menahun padamu.
Sampai penuh. Terlampau jauh.

Ah...Langit senja sore ini mendadak seperti tak berujung dalam penglihatanku.

Kau. Serupa waktu yang akan berhenti di episode entah.

10 Januari 2013

Nanti


Pernah mengkhawatirkan masa depan?

Melakukan apa selesai studi, akan kemana sesudah itu, bagaimana menjalani hidup, memilih siapa sebagai pasangan, memiliki segudang mimpi. Lalu semua langkah harus terhenti karena takdir Allah yang lain.

Jika saat itu tiba, dan aku yakin sebentar lagi, entah bagaimana aku nantinya? Akan ikhlaskah?

Allahu Rabb...aku berlindung padamu dari rasa gelisah.

jelang maghrib, di warung kopi.