27 Juni 2015

Humsafar


Mari kukisahkan padamu, tentang mimpiku bertahun silam.
**
Saat itu matahari pagi baru saja muncul dari ufuk timur. Aku, entah darimana, sudah berada di puncak sebuah menara. Di sanalah aku melihatnya, perempuan itu, sedang berdiri membelakangiku dengan rambut panjangnya yang terurai sempurna. Menebar pesona yang tak terpermanai. Aku mendadak bisu.

Hal aneh terjadi. Aku seperti sudah memiliki perasaan yang mendalam padanya. Seolah aku telah mengenal lama dan berkeyakinan bahwa kami akan bersama.

Sedetik kemudian, perempuan itu menoleh padaku. Aku tertegun tak percaya. Dia. 

***
Satu dekade setelah mimpi itu. Aku tengah melayangkan pandangan ke sebuah puncak menara,  sambil menggandeng tangan seseorang. Perkenalkan, dia perempuanku,  perempuan di dalam mimpi: Humsafar. Dan kami sedang di Madinah.

4 Juni 2015

photo by CLk7 

Selamat pagi, hujan pertama.
Seperti apa rasanya rindu yang tuntas?

Apakah sama ketika aku menulis puisi tentang dia, namun terus memilih bersembunyi di balik metafora.

Apakah serupa aku yang buru-buru mengalihkan pandang saat bertemu mata, padahal sebenarnya enggan.

Seperti apa rasanya?

Atau barangkali, sejatinya, tak pernah ada rindu yang benar-benar tuntas?

3 Juni 2015


Bila sampai waktunya,
aku ingin tak ada nestapa.

Sementara aku akan menangisi perpisahan,
tanpa airmata duka,
tanpa isak lara.

Bila sampai waktunya,
aku akan telah kuat melepas pergimu,
duhai Lelakiku.

2 Juni 2015

photo by CLk7 

Asa yang pernah kita terbangkan ke langit takdir, selalu mendamba jawaban. Beberapa turun kembali dalam salinan rupa hujan teduh yang merintik mesra, beberapa mewujud gemuruh yang membadai. 

Begitulah, apa-apa yang kuharapkan tak melulu aku dapatkan. Barangkali termasuk juga kamu.