31 Desember 2010

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis 
sambil berjalan tunduk
sepanjang lorong itu


Ia ingin pagi itu hujan rintik-rintik
dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja 
sambil menangis 
dan tak ada orang bertanya kenapa

Ia tidak ingin menjerit-jerit

berteriak-teriak mengamuk 
memecahkan cermin 
membakar tempat tidur


Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri 
dalam hujan rintik-rintik 
di lorong sepi 
pada suatu pagi


*sapardi djoko damono (1973) 

29 Desember 2010

Mati

menjelang dzuhur tadi, seperti biasa aku nongkrong di al-hamas.sekedar melepas kejengkelan karena hari ini tidak ada dosen yang mengajar. dengar-dengar mereka sedang ke gowa mengikuti acara peletakan batu pertama kampus baru teknik. huff...

maka akupun duduk menyudut di ruangan itu, meregangkan badan yang entah kenapa terasa sakit sejak semalam.ku perhatikan sekeliling, ada yang sedang mendiskusikan sesuatu. aku tak berminat untuk bergabung. dan pada akhirnya aku tetap duduk di sudut al-hamas,merapat ke dinding hijaunya.


aku diam...

aku menutup mata...

dan melintaslah bayangan itu!

ya, bayangan tubuhku yang terbujur kaku melintas seketika.



ya Allah...aku takut!
tentunya bukan takut mati, karena itu adalah kepastian
tapi aku takut dengan bekal yang belum seberapa ini



allahumma inna nas'aluka taubatan qablal maut, rahmatan 'indalmaut, wa maghfiratan ba'dal maut

allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil maut


allahumma amiin..........


***
27 april 2009

28 Desember 2010

I'm Not Yet an Engineer


wuaah...tidak terasa kalau saya sudah berstatus mahasiswa teknik selama 5,5 tahun! waktu yang lama, tapi masih masuk kategori standar bagi seorang 'antek' (anak teknik). hehhe..sekali lagi, ini bukan pembelaan tapi kenyataan. buktinya, cuma beberapa teman saja yang bisa selesai 'cepat'. tapi sudahlah, mungkin salahku juga. kurang bagus dalam me-manage waktu, sehingga masa kuliah jadi keteteran gini.

pada kenyataannya, bukannya saya yang mau lama selesai. menurutku, waktu kuliah terlalu sia-sia kalau hanya dihabiskan dengan mengerjakan tugas dan belajar. makanya, sambil kuliah, kita juga belajar hal lain. seperti saya, yang mencoba masuk di komunitas orang banyak. manfaatnya banyak, paling tidak kita bisa belajar memahami karakter orang yang berbeda-beda. hal seperti ini yang tidak akan kita dapatkan kalau hanya berkutat dengan diktat kuliah, tugas yang berlembar-lembar dan layar komputer selama kita kuliah. tapi sekali lagi, ini cuma dari sudut pandangku.

di lain sisi, orang tua dan sanak saudara di kampung halaman selalu menuntut saya untuk cepat selesai. papa pernah menasehati saya untuk mengingat kembali tujuan saya ke kota ini (Makassar). yah, apalagi kalau bukan KULIAH. mama juga berkata begitu dan meminta saya untuk fokus. kakak, adik, dan saudara lainnya juga bilang begitu. kadang mereka meng-sms, hanya untuk bertanya "gimana skripsinya?", "kapan sarjana?" atau "kemarin temanmu wisuda, kamu kapan?". bahkan pada suatu malam, seorang abang saya di Bandung pernah mengingatkan, "kamu itu seperti mujahid yang tidak akan mundur dari medan perang. maka, selesaikan apa yang sudah kamu mulai. ujungnya hanya dua, hidup mulia atau mati syahid." setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga nasihat abang saya itu. 

saya sendiri, sudah punya target khusus tentang hidup saya ini. jika Allah berkehendak, tahun depan titel ST sudah ada di belakang namaku. setelah itu, belajar lagi untuk menambah skill ke-teknik-anku dan mencari beasiswa lanjut S2 keluar negeri. sekali lagi, itu cuma targetku. orang tua sendiri, maunya saya kembali ke kampung halaman dan kerja disana. makanya, nantilah kita lihat bagaimana kelanjutan hidupku ini. coz until now...


.::i'm not yet an engineer::.

26 Desember 2010

One Stop Journey! (Kawah Putih - Situ Patengan)


Juli lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Bandung. Agak lama saya disana, hampir sebulan. Dan agar kesempatan ini tak sia-sia, saya mengajak kedua sepupu saya (yang tinggal disana) untuk pergi ke Kawah Putih, tempat yang sejak lama ingin saya kunjungi. Maka kami sepakat, lusa kami berangkat.

Tak ada satupun dari kami yang mengetahui lokasi tersebut, karena kedua sepupu saya ini juga belum pernah kesana sebelumnya. Karena tekad kami sudah bulat, maka kami mulai mencari informasi tentangnya. Sepupu saya mulai bertanya kepada temannya yang pernah ke sana. Saya sendiri, dengan sengaja men-download peta kota Bandung dan sekitarnya. Dari informasi yang kami dapat, akhirnya kami mengetahui bahwa Kawah Putih terletak di daerah Bandung Selatan. Wah, akan menjadi perjalanan yang panjang, pikirku. Mengingat kami tinggal di daerah Bandung Utara.

Maka keesokan harinya, kami berangkat pagi-pagi sekali. Jam 7, kami sudah ada di depan jalan menunggu bis Damri menuju Terminal Leuwi Panjang. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam, dengan ongkos 3000 rupiah per kepala. Dari Terminal Leuwi Panjang, kemudian kami menaiki bis tujuan Ciwidey. Untuk kali ini, perjalanan ditempuh agak lama, sekitar 2-3 jam. Ongkos bisnya pun agak mahal, 10.000 rupiah per kepala. Kami kira bis ini akan mengantarkan kami langsung ke lokasi, ternyata tidak. Dari Terminal Ciwidey, kami harus naik mobil lagi. Si supir menawarkan jasa carter plus paket wisata. Hahaha...lucu ya. Maksudnya, dia tidak hanya mengantarkan kami sampai Kawah Putih saja, tapi juga ke Situ Patengan. Katanya sih, itu juga objek wisata wajib kunjung. Akhirnya, setelah melewati proses tawar-menawar yang cukup panjang, kami deal dengan si supir. Kami bertiga akan diantarkan ke dua tempat itu, Kawah Putih dan Situ Patengan, lalu kembali lagi ke terminal dengan biaya yang mahal, 150.000 rupiah. Itu artinya 50.000 per kepala. Hmm...kantong makin tipis. Tapi untungnya, sepanjang perjalanan cukup menyenangkan. Hamparan kebun teh dan strawberry menemani kami sampai tujuan, plus udara yang dingin. Whuuuzz.....

25 Desember 2010

Jilbab Traveler

Saya menyukai perjalanan, apapun dan kemanapun itu. Dalam setiap jejak yang saya buat, dalam setiap ucapan yang terlontar, dalam setiap perilaku, selalu ada cerita di baliknya. Bahagia, duka, haru dan iba selalu saja ada hal baru yang membersamai setiap perjalanan itu. Saat di mobil, saat di motor, di pesawat terbang, di kapal bahkan saat berjalan kaki. Pada setiap lintasan barisan awan, susuran aspal atau di jalan berbatu sekalipun, saya selalu tetap menyukai perjalanan atau minimal berusaha untuk menyukainya.


Ah..perjalanan selalu saja indah dirasa. Walau terkadang sangat melelahkan dan membutuhkan banyak pengorbanan, mulai dari waktu, pikiran, tenaga sampai  dana. Tidak masalah, karena semuanya akan terbayar lunas ketika segalanya terlewati dan berakhir.

Alhamdulillah, karena Allah mengizinkan saya untuk melakukan perjalanan antar pulau sejak kecil. Mulai dari kota kelahiran Ambon, lalu menghabiskan masa kecil di Bandung dan Jakarta, sampai akhirnya ditakdirkan merantau saat kuliah di Makassar. Bertemu dengan orang-orang baru, belajar bersosialisasi, dan kemudian mendapatkan kerabat baru di tanah rantau. Yah, begitulah perjalanan.

Dan saya pun berharap perjalanan tak hanya sampai disini. Saya masih bermimpi untuk bisa melakukan perjalanan 'besar' ke Rumah Allah di Mekkah sana. Menginjakkan kaki pada setiap pulau di Indonesia ini. Mengagumi keindahan ciptaan-Nya dari puncak gunung dan  menyelami lautan-Nya. Menikmati setiap perubahan musim di berbagai negara. Juga masih banyak yang lainnya.

Untuk semuanya, semoga Allah memberikan kemudahan bagi tapak perjalanan yang saya rencanakan ini. Insya Allah, amiin.

22 Desember 2010

Why MOTHER is So Special

when i came home in the rain,
brother asked, "why you didn't take an umbrella?"
sister advised, "why you didn't wait until the rain stopped?"
father angrily warned
only after getting cold, i will realize
but MUM, while drying my hair said,
"stupid rain! couldn't it wait until my child came home?!"

yeah, that's MOTHER

***
untuk MAMA nomor 1 SEDUNIA

SELAMAT HARI IBU

everyday is YOUR day

love you, forever and always ....

10 Desember 2010

A Letter From Mom and Dad

my child,
when i get old, i hope you understand and have patience with me
in case i break a plate, or spill soup on the table because im loosing my eye sight,
i hope you don't yell at me
older people are sensitive, always having selfpity when you yell
when my hearing gets worse and ican't hear what you're saying,
i hope you don't call me "deaf!"
please repeat what you said or write it down
i'm sorry my child, i'm getting older



when my knees get weaker,i hope you have the patience to help me get up
like how i used to help you while you were little, learning how to walk

please bear with me
when i keep repeating my self, like a broken record,
i hope you just keep listening to me
please don't make fun of me, or get sick of listening to me
do you remember when you were little and you wanted a baloon?
you repeated yourself over and over until you got what you wanted


please also pardon my smell, i smell like an old person
please don't force me to shower, my body is weak
old people get sick easily when they're cold
i hope i don't gross you out
do you remember when you were little?
i used to chase you around because you didn't want to shower


i hope you can be patient with me when i'm always cranky
it's all part of getting old
you'll understand when you're older


and if you have spare time, i hope we can talk
even for a few minutes
i'm always all by my self all the time and have no one to talk to
i know you're busy with work
even if you're not interested in my stories,
please have time for me
do you remember when you were little?
i used to listen to your stories about your teddy bear


when the time comes and i get ill and bedridden,
i hope you have the patience to take care of me


I'M SORRY, if i accidentally wet the bed or make a mess
i hope you have the patience to take care of me
during the last few moments of my life
i'm not going to last much longer, anyway
when the time of my death comes,
i hope you hold my hand and give me strength to face death


and don't worry...
when i finally meet our Creator,
i will whisper in His ear to bless you
because you loved your MOM and DAD
thank you so much for your care
WE LOVE YOU

with much love,
mom and dad

5 Desember 2010

Samiri dan Patung Anak Lembu

Dalam Alquran, diceritakan bahwa setelah Nabi Musa AS bersama umatnya (Bani Israil) keluar dari Mesir dengan menyeberangi Laut Merah dari kejaran Firaun, Nabi Musa kemudian pergi ke sebuah bukit untuk bertemu dengan Allah SWT.
Umatnya yang ditinggalkan bersama dengan Nabi Harun AS lantas merasa kepergian Musa terlalu lama. Karena itu, mereka kemudian meminta Nabi Harun AS untuk membuat sesuatu sebagai sesembahan mereka. Nabi Harun AS menolak permintaan Bani Israil ini.
Namun, Nabi Harun tak kuasa melawan desakan kaumnya yang terus memaksakan diri untuk membuat sebuah patung sebagai sesembahan. Hingga akhirnya, melalui sebuah pengkhianatan salah seorang pengikutnya, yaitu Samiri, Bani Israil berhasil membuat sebuah patung berupa anak lembu (sapi). Patung anak lembu itu terbuat dari emas.
Ketika keluar dari Mesir, banyak kaum Bani Israil yang membawa perhiasan mereka. Perhiasan-perhiasan itu kemudian dibakar hingga meleleh, lalu oleh Samiri dibuat patung anak lembu.Ketika Musa kembali, dia sangat kaget melihat perilaku umatnya itu. Musa pun marah. Cerita ini selengkapnya dapat dilihat pada surah Thaha ayat 85-98 dan al-A’raf ayat 148-154.

29 November 2010

Status History on Facebook

ada aplikasi baru di fesbuk, namanya My Statuses. disini kita bisa liat sejarah status kita selama kita aktif di jejaring dunia maya ini. baca kembali status-status itu, bikin saya inget masa-masa lalu.hehhe...


Cahya Sidratulmuntaha ad yg pux peta kampus unhas?? (Wed, 29 Jul 2009 08:22:55 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha mesjid makin sepi..mall makin rame (Thu, 17 Sep 2009 12:57:40 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha maaf, tapi saya harus melepaskan kalian (humaz crew) :'( (Fri, 13 Nov 2009 13:33:41 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .ada jg orang yg ngrokok sambil bawa motor >> gak puas bikin polusi lewat 1 cara,ckck... (Fri, 07 May 2010 01:31:27 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha seperti selalu kubilang kawan! kita selama ini hanya bisa menunggu..menunggu beribu nyawa hilang,menunggu angin mengabarkan bahwa ada darah tercecer di tanah sana..padahal tiap detik,airmata terus mengalir basahi mayat2 mujahid Palestina..ah,apakah kita benar2 (telah) peduli? ---dari KAMMI untuk PALESTINA (Mon, 31 May 2010 12:55:56 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .22 tahun, makin dewasalah. (Sat, 05 Jun 2010 11:27:36 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .petualangan hari ini : melihat perahu yg 'katanya' terbalik itu dan air yg 'katanya' panas itu :) (Sat, 24 Jul 2010 01:39:58 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .sorry dad, i cant be perfect T.T (Fri, 20 Aug 2010 05:24:50 GMT)


Cahya Sidratulmuntaha .Ramadhan : proyek 3000 kali sujud.

*3000 kali sujud = 1500 raka'at = 50 raka'at per hari = 17 raka'at wajib + 12 raka'at rawatib + 8 raka'at tarawih + 3 raka'at witir + 2 raka'at dhuha + 10 raka'at sunnah wudhu sblm shalat..subhanallah,bahkan semuanya lebih dr 50 raka'at =) (Fri, 20 Aug 2010 23:08:47 GMT)



Cahya Sidratulmuntaha Build your DREAM

Make a WISH

Do your BEST
Keep PRAYING
Leave
them all to ALLAH
And you'll be HAPPY insya ALLAH (Mon, 30 Aug 2010 12:43:06 GMT)


Cahya Sidratulmuntaha abang novan dan adik meizwar, the best brother i've ever had =) (Tue, 07 Sep 2010 06:56:13 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .kemarin,hari ini atau besok,insyaallah tetap sama..bangga gabung dgn kalian,SLAYER ORENS =) (Sun, 03 Oct 2010 12:58:38 GMT)

Cahya Sidratulmuntaha .terima kasih mama, terima kasih papa, thanks 4 everything =) (Mon, 18 Oct 2010 12:24:52 GMT)


bisa diliat dari terlama-terbaru ataupun sebaliknya..yang mau, coba link ini http://apps.facebook.com/mystatuses. selamat bernostalgia ^_^

20 November 2010

Kalau Ingin Perubahan, Tegakkanlah Malam dan Bangunlah Lebih Awal

Seharusnyalah, tidak ada yang begitu mengenaskan bagi kita -aktivis dakwah- kecuali kalau kita dalam tidak sempat menegakkan malam (qiyamullail) dan mengisi awal pagi dengan kegiatan yang membawa perubahan.

***

KAMMI adalah pembawa obor perubahan. Malam itu, tengah tahun 2001, KAMMI mengadakan muhasabah dan qiyamullail. Beratus orang -ikhwan dan akhwat- hadir, diam, menangis dan khusyu'. Ya, ruh kami berkata bahwa reformasi Indonesia harus kami selamatkan. Indonesia berantakan dan fatwa telah jelas tersampaikan. Strategi pun terancang, semuanya terkomunikasikan.

Siang besoknya itu, sang presiden akan datang dan mengunjungi kampus kami. Kami tahu dia akan berbicara omong kosong, sementara ia enggan bertanggung jawab. Maka kami melawan, kami enggan ia datang.

Pagi itu kami bergerak, berbondong dan berduyun, menutup lima jalan masuk ke kampus. Kami tak tahu dari mana ia masuk. Sebagian barisan kami tebal dua tiga lapis, sebagian barisan kami cuma satu baris memanjang, tapi kami tetap bersemangat, ikhwan maupun akhwat.

Muka kami coreng moreng dengan pasta gigi, pertahanan murah meriah untuk gas air mata, lagu-lagu bersemangat terus kami lantunkan, polisi dan panser berdatangan, mereka sedikit kesiangan, terkejut kami di ring satu.

Presiden kan datang sementara kami masih bertahan. Maka air dari water canon pun tersembur menghantam. Polisi menerjang dan membongkar ikhwan dan akhwat, kami tetap bertahan. Barisan ikhwan terbongkar, akhwat bertahan. Polisi-polisi itu mengangkati mereka seperti mengangkat ayam tuk masuk penggorengan. Kami terus saja bertahan dan terus bertahan.


Sajak untuk KAMMI

Kau bilang aksimu kuat
Tapi dengan jumlah kader yang melimpah dan katanya militan itu,
bahkan kau tak lagi mampu mengerahkan mereka di setiap aksi jalananmu.
Kau tak lagi mampu membuat mereka bergerak,
untuk menuntaskan cita-cita besarmu yang bernama ’perubahan’.
Lalu, kau sebut itu KUAT kawan??

Kau bilang ibadahmu taat
Saking taatnya, kader-kadermu justru lebih sering berada dalam mihrabnya,
daripada mengubah kedzaliman di luar sana dengan tangannya.
Mereka malah sibuk dengan keshalihan pribadinya,
dan melupakan masyarakat yang akidahnya sedang runtuh.
Apa itu yang kau katakan TAAT??

Kau bilang prestasimu hebat
Ya, sangat hebat hingga hanya bersedia menjadi pemain belakang
Memilih menjadi ’follower’, bukannya ’leader’
Itu yang kau bilang HEBAT??

Padahal kupikir kau cukup intelek
Potensi punya, prestasi pun ada
Lalu hilang kemana jargon-jargon itu kawan??
Hanya sebatas kata kah??
Apa yang kau banggakan kawan??
Euforia masa lalu karena berhasil menumbangkan rezim??
Itu kah??

Kalau memang itu,
Maka hidup saja untuk masa lalumu !!


***
dari ruang dosen hingga al-hamas

KAMMI Komisariat Unhas, Pada Suatu Masa


Universitas Hasanuddin atau yang lebih dikenali dengan nama ‘Kampus Merah’. Julukan ini menunjukkan bahwa Unhas memang diharapkan menjadi tempatnya orang-orang pemberani, seperti beraninya Sultan Hasanuddin yang namanya diadopsi menjadi nama kampus ini. Juga mendamba lahirnya generasi harapan bangsa yang rela mengorbankan ‘merah darah’nya untuk kejayaan negeri.


Tahun 1998 merupakan tahun yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, ditandai dengan runtuhnya rezim yang selama ini menguasai negeri dan lahirnya reformasi. Juga menjadi tahun yang penting bagi aktivis-aktivis mahasiswa karena telah lahir Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Melalui Deklarasi Malang, KAMMI resmi terbentuk. Lahir dengan sebuah tekad untuk terus bergerak, menuntaskan agenda-agenda reformasi saat itu.


Jika berbicara mengenai sejarah terbentuknya KAMMI di Sulawesi Selatan, masih terdapat kesimpangsiuran karena sejarah mencatat dua nama yaitu Syarifuddin Jurdi dan Yusran sebagai pencetus berdirinya KAMMI Daerah Sulsel saat itu. Dan seiring berjalannya kepengurusan di KAMMI Daerah, maka dibentuklah KAMMI komisariat di tingkat fakultas atau wilayah. Seperti KAMMI pada wilayah FIS (Fakultas Ilmu Sosial) yang merupakan gabungan dari fakultas ekonomi, hukum, sastra, dan sospol. Saat itu, Sulastiana Syamsul yang menjabat sebagai ketua di komisariat FIS. Ada juga Taufik Amrullah (mantan Ketua KAMMI Pusat periode 2006-2008), sebagai ketua KAMMI Komisariat Teknik.


Lalu pada tahun 2002, karena KAMMI di tingkat fakultas dan gabungan wilayah tersebut dirasa kurang efektif, maka tercetuslah sebuah ide untuk membentuk KAMMI komisariat di tingkat universitas. Dan muncullah nama Muhammad Huldi Amal (Komunikasi ’99) sebagai Ketua Umum KAMMI Komisariat Unhas yang pertama.

My First Scrapbook


suatu hari, saya pernah lihat tayangan di TV soal scrapbook. saya mulai penasaran dan mulai mencari tahu 'wujud' scrapbook ini. hehhe...mungkin, sebagian dari kita masih merasa asing dengan istilah scrapbook.

nah, asal kata scrapbook sendiri adalah scrap, yang artinya barang sisa. sebenarnya, scrapbook ini bisa dibilang cabang dari prakarya kertas semacam origami atau kartu ucapan lainnya. hanya bedanya, objek prakaryanya adalah foto, yang punya kenangan tersendiri bagi pembuatnya. foto itu dihias dengan hiasan dan desain yang cantik. biasanya dibuat dari macam-macam motif kertas yang lucu dan unik; dihias dengan kancing, pita, benang atau pernak-pernik lainnya; juga diberi 'tag' yang bisa ditulis dengan catatan penting mengenai foto tersebut.

dan untuk mengobati rasa penasaran, saya mulai mencari link yang bersangkutan dengan hobi baru ini. akhirnya saya mendapat alamat situs ini: http://cp.c-ij.com. untuk pemula, situs ini menyediakan desain scrapbook yang tinggal di-download.enak kan? tidak perlu repot mencari bahan-bahan diatas. cuma modal printer warna dan kertas karton, akhirnya saya mulai membuatnya dan inilah hasilnya ^_^


my first scrapbook



Writer Wanna be....

lewat tengah malam, otakku buntu. bingung, tulisan apa (lagi) yang akan kuposting malam ini. sejak 4 jam lalu, aku duduk dengan setia menatap layar komputer: facebook dan blogging. merombak total tampilan blog-ku yang berbulan-bulan tidak kusentuh, mem-posting tulisan-tulisan lamaku, juga sambil blogwalking ke tetangga. hmm...banyak inspirasi!! tulisan mereka asli keren. kupikir mereka memang punya bakat untuk jadi writer. dan aku, hanya 'mupeng' saja melihatnya dan berharap akulah penulisnya. hahaha...otakku mulai ngawur. sudahlah, suatu saat aku pasti bisa menyamai mereka.


banyak baca, banyak tulis, that's all makes perfect!! ^^






01:46 , kamar biru

Namamu, Sang Rasul

dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebutNya
dan kisahmu yang bertebar merambah hampir tiap surah
bahkan Allah menetapkan; kau terkisah untuk menguatkan jiwa
hati dan rasa seorang Nabi penutup masa

ya, kini aku tahu.. betapa tak mudah menjadimu hai Musa
mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh

maka saat wahyu turun, air matamu menitik, tubuhmu berpeluh
dalam kesadaran akan beratnya beban, kau mengeluh
“bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh”

ya, kini aku tahu, sungguh tak mudah menjadimu
sebab dalam keterbatasan itu, Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas, tentaranya perkasa
punggawanya setia, lagi taat buta
mengaku tuhan tertinggi, dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
dan kau.. kau terhutang budi masa kecil padanya
dan tahukah kau duh Musa, kelak kaum yang kau pimpin
yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka
akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?

malam ini kususuri kisahmu, dan aku takjub
atas takdirNya, masa lalumu tak sempurna
kau terpilih memikul risalah suci, dan kau didustakan
sedang Muhammad dipilihNya dari pribadi yang terjaga sempurna
dia memikul risalah dengan gelar al amin yang masyhur sudah
tapi diapun tetap didustakan

mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya
di saat-saat berat, Muhammad mengenangmu dan melirihkan gumam
“semoga Allah menyayangi saudaraku Musa..
sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”

malam ini duhai Musa, kususuri kisahmu
aku tersenyum, alhamdulillah, kau membuatku merasa
beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
tapi di sisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah
“ahh.. surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”



-dikutip secara sadar dari blognya akh salim a.fillah..semoga memberikan kebaikan pada yg lain-

Beginilah Al-Hamas Mengajarkanku!!

Al-Hamas..
Hanya sbuah ruangn 4x6,dgn AC dan kipas angin yg bhembus,karpet sajadah baru,dan dinding hijau pasca renovasi.
Terkadang air menetes dari atas plafond jika hujan mengguyur kampusku.
Keberadaannya seperti 'anak tiri', dihimpit lab-lab sipil yang bising. Tak sedikit pula yang merasa 'terganggu' dengan kehadiran Al-Hamas disana.
Ya,entah kenapa mereka tidak menyukai Al-Hamasku...

Padahal Al-Hamas..
Telah mengajakku masuk dalam 'lingkaran cahaya', membingkai diriku dengan Islam,membuatku dekat denganNya, mengajarkanku untuk selalu kuat menapak & memikul beratnya amanah,menguatkan azzam,mengajarkan diri untuk memaknai hidup,menjadikanku pribadi istimewa dengan fikrah Islam yang kubawa,menunjukkan bahwa ukhuwah tak sebatas usia,menyadarkan diri ketika dunia mulai melenakan.
Dan seperti namanya, Al-Hamas selalu memberi SEMANGAT baru saat jiwa mulai terasa hampa...

Ku ingin kau pun merasakannya...

Karena beginilah Al-Hamas mengajarkanku!!


***
al-hamas,15 april 2009

18 November 2010

Judul Kita Apa?

mungkin kita hanya sekedar makin sering terlambat,
mungkin juga sekedar sering lupa,atau cuma sedikit bertambah lalai,
atau mungkin cuma sekedar semakin enteng untuk tidak terlibat,
bisa juga semacam ketenangan dalam kealpaan,
dan tentu kita tidak menyebutnya sebagai futur...

bisa jadi kita cuma sedikit malas,
dimana dengannya dalih kita menjadi agak banyak dan bervariasi,
atau kita hanya semacam sedikit pilih-pilih tugas,
ada agak banyak tugas yang kita rasa sudah tidak pantas (lagi) kita kerjakan,
dan kita juga tidak menyebutnya sebagai futur...

mungkin kita hanya sedikit terganggu,
kita hanya sedikit agak terganggu dalam tilawah,atau dalam puasa atau mungkin lainnya,
sebenarnya tidak berat,cuma sekedar agak sulit menikmatinya,
dan kita memang sulit mendefinisikannya sebagai futur...

kita mungkin cuma semacam bosan,
atau sekedar ingin melongokkan kepala ke luar sana,
atau kita cuma kaget kecil-kecilan,
atau sedikit silau,atau bahkan sedikit lebih ringan daripada itu,
dan sulit bagi kita untuk menyebutnya futur...

atau kita cuma sedikit tersadarkan,
pada realitas keluarga kita,anak dan istri kita,rumah dan kendaraan kita,
sedikit tersadar akan realitas karir kita,atau sedikit menghitung-hitung realitas sosial kita,
dan tentu saja itu bukan futur...

bisa juga kita cuma sekedar melihat tikungan sejarah,
ada yang berbeda di depan sana,
dan kita semacam sedang sedikit membuat apresiasi,
atau (paling tidak) semacam antisipasi,tidak lebih dari itu,
(mungkin) itu juga bukan futur...

[taken from : sudahkah kita tarbiyah?]

***
semoga bisa jadi pengingat saat jiwa rapuh dan 'merasa' futur :'(

Kau Mencintaiku

ini dia salah satu puisi indah yang saya suka. kena banget di hati, biar dibaca berkali-kali tetap gak membosankan. ini puisi indah dari Ayatul Husna yg judulnya “Kau Mencintaiku” buat kakak tercintanya, Azzam di film KCB. hmm...like diz very much ^__^ sempet membuat mata berkaca-kaca pas nontonnya.hahha...dasar mellow.tapi gak papalah,emang bener puisinya bagus koq.gak percaya??sok atuh dibaca....

***

Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya.
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka

Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa

Kau mencintaiku
Seperti air
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membersihkan lara
Tak pernah lelah
Menyejukkan dahaga

Kau mencintaiku
Seperti bunga
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah
Meneduhkan gelisah nyala



(eh, trus di balas sama Azzam….)

aku mencintaimu
seperti bumi
mencintai
mataharinya

***

nb: 'kau' dan 'aku' disini bisa jadi siapa dan apa saja.silahkan interpretasikan sendiri :)

Pengorbanan Kita Belum Seberapa

pengorbanan kita belum seberapa
masih peluh yg mengalir,bukan darah

pengorbanan kita belum seberapa
raga yang lelah,tak tersayat apapun

pengorbanan kita belum seberapa
hanya tapak biasa tercipta,bukan jejak sejarah

pengorbanan kita belum seberapa
hanya meminta sedikit tenaga dan pikiran,tak perlu harta bahkan jiwa

ah..pengorbanan kita memang belum seberapa
bahkan untuk yg sedikit itupun,kita masih perhitungan.....

***

14 agustus 2010, entah dimana

Ini Bukan Kebetulan, Yakin Saja!!

sungguh,tak ada yg kebetulan di dunia ini.semua telah diatur olehNya,Sang Pengatur Semesta.termasuk kejadian sore ini,ketika aku ditakdirkan utk shalat ashar berjamaah di masjid Daarut Tauhid.

Allah tahu segala,termasuk kegelisahan dalam diri.Maka Allah pun menakdirkanku untuk mendengarkan kajian ba'da ashar di masjid itu.Lewat lisan Aa Gym,Allah menyadarkanku.Tentang penyebab kegelisahan itu,tentang hati yg resah,tentang rezeki yg selalu dianggap tak cukup.

Ini tentu bukan kebetulan.Allah tahu,maka Dia menakdirkanku kesana.Lalu aku pun sadar,selama ini aku meletakkan dunia di hati.

Hingga ketika cita tak sesuai nyata,ketika merasa tak pernah cukup dgn apa yg ada,ketika penilaian orang selalu membebani diri,ketika rezeki enggan menghampiri.Hanya ada satu jawaban untuk itu semua : karena jauh dari Allah.

Maka,mendekatlah. Jauhi maksiat karena itulah penghalang rezeki. Yakinlah hanya pada Allah,sebaik-baik sandaran hati.

***
29 juli 2010,saat puasa (masih) menemani,insyaallah :)

Dear Ramadhan

Dear Ramadhan,
Dua hari lagi, udah tanggal 10 September di kalender masehiku. Kemungkinan juga lebaran akan jatuh pada tanggal segitu. Ya, 1 Syawal 1431 hijriyah. Cepet banget ya. Gak terasa kalo sudah hampir sebulan kita bersama. Dan parahnya, aku baru sadar pas udah hampir di penghujung waktu bersamamu.

Hmm..tentu kau yang paling tahu tentang hari-hariku yang biasa-biasa saja selama bersamamu. Ah, malu aku jadinya kalau mengingatnya kembali. Tentang target-target yang kubuat ketika kau pertama kali datang, tak sepenuhya aku penuhi. Bahkan sepertinya, sebagian pun tidak.

Misalnya saja ketika kutulis target akan menemui dhuha setiap hari di awal pagi. Aku ingkar, karena aku masih tidur saat itu. Terlalu banyak makan saat sahur membuat mataku ingin tertutup lagi setelah subuh berlalu. Juga dengan tarawih yang keteteran karena aku sibuk di luar sana, sibuk yang tak jelas tujuannya. Apalagi dengan tilawahku, yang selama bersamamu pun tak bisa ku-khatam-kan walau satu kali. Ah, banyak sekali Ramadhan. Semakin kutulis, semakin membuka aibku.

Dear Ramadhan,
Tentu kau tahu bahwa aku sebenarnya sangat senang bisa berjumpa lagi denganmu. Makanya aku membuat target-target itu saat menyambutmu, agar pertemuan kita tak sia-sia. Tapi untuk ke sekian kalinya, aku khilaf lagi. Tak pernah sadar bahwa tahun depan belum tentu Allah mengizinkan kita bisa bertemu lagi.

Dalam pekan pertama pertemuan kita, sungguh aku telah berusaha sebaik mungkin untuk mengoptimalkan kebersamaan kita. Pekan kedua, kurasa aku tak lagi istiqomah dengan komitmen yang kubuat sendiri. Masuk pekan ketiga, aku merasa kau mulai ‘ilfil’ padaku. Wajar, aku terlalu sering berjanji padamu, tapi jarang sekali kutepati. Lalu, hari-hari selanjutnya kau yang lebih tahu.

Dear Ramadhan,
Awalnya aku agak bingung dengan kegelisahanmu. Padahal aku hanya meng-sms keluarga dan beberapa teman setiap harinya untuk berbagi renungan harian selama bersamamu. Itupun sebagian besar aku copas dari buku yang kubaca. Aku juga menuliskannya di fesbuk sebagai statusku. Tapi, semakin hari aku semakin bingung. Jujur, kegelisahanmu itu agak menggangguku.

Tapi kini, aku baru paham makna gelisahmu. Kau gelisah, melihatku sibuk dengan HPku setiap hari. Kau gelisah, untuk setiap ‘send’ dan ‘share’ yang ku-klik. Kau gelisah, karena untuk setiap sms yang kukirim dan status yang ku-update itu, aku tidak merenunginya terlebih dahulu. Seolah kau ingin berkata, “Ingat Cahaya, kabura maqtan ‘indallahi an taquulu maa laa taf'aluun! Murka Allah bagi mereka yang berkata namun tak melaksanakannya!!”
Kau bingung melihat aktivitasku yang kebanyakan sia-sia, yang memberatkan kelopak mata, yang melemahkan tulang, yang melalaikan jiwa dari mengingat-Nya. Ya, aku sibuk menghadiri berbagai undangan buka puasa dimana-mana dan oleh siapa saja. Aku juga sibuk jualan, ngobrol ngalor ngidul, begadang nonton film, dengerin lagu-lagu, dan lain sebagainya hingga akhirnya aku terkapar kelelahan dalam kealpaan bersamamu.

Kau pun kembali berkata, “Apa yang kau lakukan, Cahaya? Kenapa kau justru terlelap saat kita bersama? Lupakah kau pada janji-Nya yang akan melipatgandakan pahala segala amalan, selagi kita bersama? Bangun Cahaya, bangun!! Sungguh, jika aku tahu akan diperlakukan seperti ini, aku akan meminta kepada Allah untuk tidak mempertemukan kita.”

“Coba lihatlah Al-Quranmu itu. Untuk ukuran dirimu, ia terlalu berdebu untuk dibiarkan sehari saja. Lihat juga buku-buku yang berjejer menunggu gilirannya untuk dibaca, sesuai targetanmu itu. Sesibuk itukah dirimu, hingga di penghujung kebersamaan kita ini kau hanya meng-khatam-kan dua buah buku?”

“Bagaimana dengan hafalanmu, Cahaya? Bukankah kau berniat untuk menghafal 2 juz selama kita bersama? Lalu dengan qiyam-mu, kenapa kau pernah meninggalkannya? Cahaya, masih ingatkah kau dengan targetmu yang lain? Tentang infaq itu, tentang silaturahim itu, tentang memberikan ifthor itu, tentang i’tikaf itu. Masih ingatkah kau pada mereka? Apa aku harus sampai bilang, betapa payahnya dirimu?”

Dear Ramadhan,
Rasanya mau nangis saat kau menegurku sedemikian rupa. Apalagi teguran itu baru kau katakan di penghujung pertemuan kita. Berkaca-kaca mataku ini, membayangkan kau benar-benar meminta kepada Allah untuk tidak mempertemukan kita lagi tahun depan.

Maafkan aku ya Ramadhan. Aku banyak salah sama kamu. Aku sibuk melakukan yang lain daripada bermesraan bersama-Nya saat kau ada. Tapi rasanya berjuta maaf pun tak cukup untuk menggantikan semuanya. Memang sih, harusnya hari ini aku mulai meminta maaf pada keluarga, saudara dan sahabat. Tapi, lebih dulu aku mau minta maaf sama kamu.Sekali lagi, maaf ya Ramadhan.

Dear Ramadhan,
Jika tahun depan Allah mengizinkan kita bertemu lagi, aku janji deh, Insya Allah aku akan memperbaiki semua kesalahanku tahun ini. Hingga saat itu tiba, aku akan berusaha untuk terus memperbaiki diri.
***

Makassar, 8 September 2010 / 29 Ramadhan 1431 H

Mereka Berjuang untuk Hidup

lokasi: jl.sungai saddang
deskripsi: papan di hadapannya bertuliskan 'terima jahit sendal/sepatu'.dengan beralaskan plastik seadanya,dia menggelar peralatan kerjanya yang sederhana.payung ungu melindunginya dari sengatan matahari.sudah jam 10 pagi, tapi masih saja belum ada pelanggan.

***
lokasi: depan mesjid raya
deskripsi: roda-roda terus berputar.dia tetap mengayuhkan becaknya,tak peduli lagi pada mentari.dia tetap saja mengayuh. karena jika dia hanya duduk, bisa jadi anak istrinya tak makan apa-apa nanti malam.

***
lokasi: bawah jembatan layang
deskripsi: menghitung eksemplar yang harus dia jual hari ini, berpikir tentang keuntungan yang akan didapat.dan tentu saja selalu dalam pantauan satuan pamong praja.begitu seterusnya, berulang setiap harinya.

***
they teach us, how to be survive

pete-pete, 3 november 2010

Salah Satu Sudut Salman

Allah,aku mau nangis..
Allah,tolong aku..
Allah,aku punya banyak cita..
Allah,Kau pasti tahu itu..
Bahkan untuk setiap yg belum terpikirkan,Kau tentu tahu..


Allah,di salah satu sudut salman aku duduk terhenyak.tiba2 berpikir tentang semua mimpi dan cita yg tertunda.tentang hidupku,tentang amanah itu..ah,ternyata masih sedikit yg ku perbuat.


Allah,sungguh aku rapuh..tolong kuatkan aku!!

*salman,21 juli 2010

25 Mei 2010

Jejaring Muhammad


Jejaring Muhammad

::Proses Kreatif Tasaro GK dalam Menulis Novel Muhammad::



“I said: TIDUR!”

Itu SMS yang saya terima pukul 00:55, semalam. Seseorang mulai sebal karena saya masih asyik dengan Facebook. Saya mengiyakan omelannya, tapi sedikit berbohong. Sebab, sekian jam setelahnya saya baru tertidur. Itu pun dengan ketakutan. Kepala saya seperti digerayangi kengerian. Merinding. Seperti ada yang memerhatikan saya. Sumpah, ini bukan soal Jin Tomang, Kuntilanak, Sundel Bolong, Suster Ngesot, dan pasukannya. Ini lebih… spiritual. Saya seperti merasakan kehadiran Tuhan. Apa pun itu. Media apa pun itu. Ini benar-benar sangat spiritual. Mengerikan namun juga menenangkan.

Semua bermula dari kementokan. Saya tidak sanggup bergerak setelah novel itu sampai di halaman folio 252 spasi satu. Ada yang salah. Saya tahu ada yang salah. Menuliskan kisah Muhammad Saw. bukan sekadar mengumpulkan sudut pandang Haikal, Martin Lings, Tariq Ramadhan, Karen Armstrong, Ibnu Hisyam dan para penulis yang memahat namanya pada dinding sejarah Muhammad. Tidak. Bukan sesederhana itu. Sebab, saya telah melakukannya dan tetap saja merasa ada yang salah.

Semalam, sampai pukul 00:00 editor saya bertandang ke rumah. Sedari magrib kami berbincang banyak. Dia pemuda fantastik yang sudah tidak butuh pujian. Orang memanggilnya filsuf muda, saya menjulukinya santri gaul.

“Apa yang akan kita bahas malam ini?” tanyanya.

Saya tahu dia bingung. Naskah saya belum berkembang. Padahal penerbit ingin naskah ini sudah launching Januari mendatang. Saya katakan kepadanya, saya merasa ada yang salah. Kami kemudian sedikit sekali berbicara tentang teknis naskah. Kami lebih banyak berbincang tentang hidup dan tentang Muhammad.

Dia meyakinkan saya, tidak ada yang kebetulan. Kami saling mengenal sungguh dengan cara unik. Saya tahu dia, dia tahu saya. Tapi kami belum pernah bertemu. Hingga ada seseorang yang membuat kami tak sanggup lagi menampik “jejaring” itu; kami memang harus saling mengenal. Sebelum penerbit meminta dia menjadi editor saya, sudah sejak lama saya memintanya secara pribadi. Dulu dia selalu menolak. Tiga kali saya minta, tiga kali dia menolak.

Ini tentang Muhammad saw.

Setelah berbulan-bulan saya menggeluti segala literatur tentang Muhammad Saw, saya merasa menyerah. Tak sanggup lagi. Saya merasa tidak terkait dengan Rasulullah. Terkait secara emosional. Yang saya lakukan hanyalah memfiksikan kisah hidupnya. Itu tidak cukup. Saya benar-benar menyerah. Salman Faridi, petinggi penerbit itu salah orang ketika mendatangi saya dan meminta saya menulis novel tentang Muhammad Saw.

Salah orang. Saya ini Muslim yang payah sekali. Kualitas keimanan saya belum juga membaik. Saya kadang terlalu rasional. Tidak merasa terkait dengan Tuhan. Shalat sekadarnya saja. Doa tidak dibarengi percaya. Ini benar-benar kecelakaan. Salman salah orang.

Malam tadi, ketika sang editor: Fahd Djibran, pamitan, saya berkata, seperti pembuat keris, tampaknya saya butuh sebuah “ritual” khusus. Entah apa itu. Sesuatu yang membuat saya yakin untuk menyelesaikan proyek ini.

Setelah dia benar-benar pulang, saya merenung. Apa sebenarnya yang terjadi pada saya? Sejak kecil saya selalu meyakini Allah dengan cara sendiri. Lingkungan tidak menjanjikan sebuah pemahaman tauhid yang paripurna. Tapi saya tahu, saya terjaga. Entah bagaimana bisa. Bahkan saya cuma sesekali ikut TPA. Saya bisa membaca hijaiyah umur 22. Sangat terlambat. Tapi entah bagaimana, saya merasa terjaga. Saya tidak menjadi penyembah keris, pohon, atau klenik lainnya. Saya percaya Allah. Saya menolak makan darah goreng, saya menghindari yang diharamkan. Begitu saja. Tanpa ilmu sama sekali.

Kemudian waktu berjalan cepat. Saya bertumbuh. Sisi spiritual saya tidak tertatah. Maksiat … oh … maksiat. Mungkinkah itu yang membangun tembok antara saya dan Tuhan. Saya tetap sadar Dia mengelilingi saya dengan “matanya”. Tapi saya tidak terlalu peduli. Saya malas belajar lagi untuk mendekati-Nya. Saya hanya menggulirkan hari-hari. Saya tahu saya religious. Minimal sebagai pengarang, saya tidak menulis dengan gaya Fredy S atau model Nick Carter (bacaan saya waktu SMP). Tapi religiusitas itu sampai di situ saja. Sampai pada tahap, saya tidak mau panen royalti di akhirat nanti. Royalti keburukan. Tidak lebih dari itu.

Saya berpikir lagi. Ada apa dengan saya? Ini kesalahan besar. Orang semacam saya, mengapa menulis tentang Muhammad Saw.? Siapa saya? Saya bentangkan lagi apa pun yang pernah terjadi pada hidup saya. Perlahan namun pasti, saya merasa ada keanehan-keanehan. Iseng saya mengecek koleksi buku saya. TIga buku tentang Muhammad saw. saya ambil. Sekadar pengin tahu, saya mengecek halaman awalnya. Dulu saya punya kebiasaan mencatatkan tanggal bulan dan tahun membeli buku.

Seketika saya merasa ada yang tidak biasa. Tiga buku itu: Muhammad Sang Pembebas, saya beli tanggal 12 November 2003, Muhammad Sang Nabi tanggal 14 November, dan Dialah Muhammad pada 20 November 2003. Dahi saya pasti berkerut. Saya merasa tidak akrab dengan Rasulullah, tidak terkoneksi dengan baik, tidak mengenalnya. Namun, bagaimana mungkin enam tahun lalu, dalam sebulan saya membeli tiga buku tentang beliau? Jeda pembelian buku itu memperlihatkan sebuah antusiasme. Tiga buku itu pun sudah sangat lusuh. Artinya saya tidak membelinya sebagai koleksi. Saya benar-benar membacanya. Jadi, enam tahun lalu saya pernah begitu jatuh cinta kepada Muhammad saw. Sesuatu yang selama bertahun-tahun kemudian mengering. Bahkan saya lupa pernah begitu penasaran terhadap dirinya.

“Keanehan “ itu lalu saya beritahukan kepada Fahd melaui sms. Dia membalas dengan sebuah perintah yang membuat saya shock. “Masih ingat diskusi kita tentang cahaya Tuhan yang ditampakkan kepada Musa? Bacalah surat Thaha/Muhammad (20) ayat 12 dan 14, malam ini juga. Lihat maknanya. Perhatikan konfigurasi angkanya. Tidak ada peristiwa yg kebetulan, bukan?

Saya belum mandi. Belum berwudhu. Merasa kotor. Tapi saya tidak peduli. Saya raih Qur’an lalu mencari dua ayat itu.

Sungguh , Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah suci, Tuwa" (QS 20:12)

Sungguh aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS 20:14)

Perlahan tapi sangat pasti, saya merasa ada yang menggerayangi kulit kepala saya. Merinding bukan main. Sedikit histeris ketika akhirnya sadar, angka-angka itu! 12 ... 14 ... 20. Tanggal-tanggal itu!

Setelah saya curhat tentang tembok antara saya dengan Tuhan, tidak ada koneksi antara saya dengan Rasulullah, seperti seketika ayat-ayat itu disorongkan ke depan mata saya. “LEPASKAN TEROMPAHMU!” Lepaskan duniamu, logikamu, rasionalitasmu, kesombonganmu! (saat menuliskan ini, air mata saya meleleh, tangis saya muncrat dengan suara jelek sekali)

Kita tidak pernah tahu apa yang menggerakkan Mas Tasaro membeli buku-buku tentang Muhammad pada tanggal 12, 14, dan 20 dalam satu bulan yang sama. Aku juga tidak tahu (si)apa yg menggerakkanku untuk membuka Qur’an surat 20 ayat 12 dan 14 dan menyarankanmu membacanya.

Itu SMS dari Fahd setelah saya mengabarinya sesuatu yang jarang terjadi, “Fahd, akhirnya aku menangis!

Setelah detik itu lalu saya mengurai lagi apa yang sebenarnya telah mengantar saya ke hari ini. Sebuah jejaring raksasa yang memusat pada sebuah nama, sebuah konsep, sebuah keagungan: MUHAMMAD. Yah … ini semua… 29 tahun ini…semua sedang menuju sebuah titik: MUHAMMAD.

Saya tidak mengenalnya dengan baik tapi hanya karena suka menyanyi, saya bergabung dengan tim nasyid kampus untuk bershalawat. Meninggalkan Jogja, pergi ke Bogor, saya menjadi wartawan dan mengenal seorang mahasiswa yang nyambi menjaga warung dorong yang menceritakan kepada saya sedikit tentang Muhammad. Dia berjualan di depan lorong kamar mayat Rumah Sakit PMI, tempat ngetem saya setiap hari. Saya buta huruf Arab, tapi saya kemudian mendaftar ke kampus syariah karena mahasiswa bernama Ahmad Sulaiman itu dan lebih tahu banyak tentang ajaran Muhammad setelahnya. Pada sela reportase, saya selalu mampir ke konter Fatahillah hanya untuk mendengarkan “Madah Rasul” Daang Faturrahman dan Iwan Abdurrahman. Iseng baca buku-buku Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sakti Wibowo, Mutmainah… tanpa berpikir suatu saat saya menjadi penulis buku … seperti mereka.

Kuliah saya tidak selesai, dan saya harus pergi ke Bandung. Kesal, tapi saya jalani juga. Di Bandung, liputan terheboh saya tentang IPDN. Pak Inu Kencana mendatangi media pertama kali ke Radar Bandung, koran tempat saya bekerja. Heboh kasus Wahyu Hidayat berawal di sini. Saya kemudian kenal dekat dengan Pak Inu selama kasus itu bergulir. Namun, tidak lagi setelah kasusnya dilupakan orang. Saya mulai mengenal dunia penulisan buku. Itu pun karena iseng. Saya menjadi redaktur pelaksana ketika wartawan saya membuat liputan tentang penerbit Mizan dan Syaamil. Beberapa pekan kemudian, saya menitipkan naskah novel saya kepada wartawan itu. Dua novel saya kemudian terbit di kedua penerbit itu. Samita, novel yang kemudian terbit di Mizan, dibidani tiga editor di penerbit itu: Salman Iskandar, Saman Faridi, dan Ali Muakhir. Mas Ali dan Kang Salman Iskandar menulis banyak buku tentang Muhammad saw dan keluarganya. Kebanyakan buku anak. Saya dihadiahi selalu setiap judul satu buku. Keduanya lalu bekerja di kantor yang sama dengan saya. Sedangkan Kang SALMAN FARIDI, tak sempat saya mengenalnya. Dia ditugaskan mengurus Bentang Pustaka di Jogja sebelum Samita terbit. (belakangan saya baru tahu, jejaring dengan Kang Faridi di mulai pada waktu itu)

Setahun kemudian saya mendaftar menjadi editor Syaamil. Nama Muhammad berseliweran lewat berbagai judul buku dan lisan orang-orang di penerbit ini. Termasuk buku-buku Kang Ali Muakhir. Saya masih tidak merasakan kehadiran Muhammad sampai pada tahap itu. Ketika itu, IPDN heboh lagi. Clift Muntu meninggal akibat kekerasan. Saya pun memburu Pak Inu lagi. Kami bertemu. Saya tidak lagi memintanya jadi narasumber berita. Saya memintanya menulis buku. Lahirlah IPDN Undercover. Sejak itu kami nyaris tidak terpisahkan. Saya baru tahu sisi spiritual Pak Inu sangat kental. Dia berulang kali bicara tentang Muhammad. Saya masih mendengarkannya selewat-selewat.

Saya keluar dari Syaamil 2007, lalu bergabung dengan Salamadani. Saya menjadi editor penyeleksi naskah. Tulisan seorang pelajar SMA bernama FAHD DJIBRAN membuat saya merinding. Toh saya tidak bisa menerbitkannya. Beberapa orang menilainya terlalu berat. Saya tidak pernah benar-benar mengenal Fahd. Saya lalu sibuk dengan naskah-naskah lain. Tak terkecuali naskah bertema Muhammad karya Pak BAMBANG TRIMANSYAH. Bussines Wisdom of Muhammad saw., Brilliant Entrepreneur of Muhammad saw, dan Brilliant Leader of Muhammad saw. Saya mengedit naskahnya, membaca bukunya, menjadi moderator acara bedah bukunya, menyimak setiap ceramah penulisnya. Tapi tetap saja, saya menempatkannya sebagai ilmu, bagian dari ilmu perbukuan dan penerbitan yang perlahan saya cerap dari Pak Bambang; guru dan trainer saya selama ini. Sebatas itu saja. Pada waktu bersamaan, saya kembali bertemu Pak Inu. Kami bicara tentang training motivasi.Saya membantunya untuk mengonsep training itu. Titik training yang beliau kembangkan adalah: Muhammad. How come? Saya menyertai Pak Inu dalam beberapa kali training, sebelum akhirnya saya mundur karena kesibukan.

Sebagai editor, suatu kali, saya mendapat telepon dari Mbak Rahmadianti Rusdi pengurus FLP. Dia menawarkan naskah teman-teman FLP Amerika yang digawangi Mbak Medya Derni. Saya lalu kontak dengan Mbak Me. Naskahnya sangat inspiratif. Kisah-kisah Muslim di Amerika. Salah satunya ditulis oleh Mbak Ari Peach. Judulnya tulisan Mbak Ari: Jilbab dalam Pelukan Amerika. Dia menulis kisah tentang seorang TKW di Amerika. Kisah yang menginspirasi saya untuk menuliskan novel GALAKSI KINANTHI. Novel itu yang mempertemukan saya dengan Salman Faridi dalam bedah bukunya di Jogja.

Berbulan-bulan kemudian, Kang Faridi yang memimpin penerbit Bentang Pustaka menghubungi saya untuk menuliskan kisah Muhammad dalam bentuk fiksi. Saya menolaknya berkali-kali tapi akhirnya mau memulainya.

Galaksi Kinanthi membuat keajaiban-keajaiban lain. Seseorang dari seberang pulau, penulis dari Toraja bernama Rampa Maega membacanya. Dia membaca buku itu dengan setengah hati. Membelinya hanya karena dia tak menemukan novel Langit Krisna Hariyadi. Tapi yang terjadi kemudian, menakjubkan. Dia terkesan dengan buku itu. Lalu dia mencari tahu siapa penulisnya. Kami berkenalan di FB. Dia mendatangi saya dengan segala keingintahuan tentang dunia kepenulisan. Kami bersahabat. Dia seorang pengikut Yesus namun mencintai Muhammad saw.Seperti saya yang mengimani ajaran Muhammad tetapi juga mencintai Yesus. Diskusi Islam-Kristen antara kami sangat mewarnai teks naskah Muhammad pada waktu selanjutnya. Kritikannya kadang membuat saya berpikir dia lebih mencintai Muhammad dibanding saya.

Lewat Rampa inilah nama seseorang selalu terlisan dalam hampir setiap perbincangan teologi kami. FAHD DJIBRAN! Sebelum membaca buku saya, Rampa lebih dulu membaca buku dan pemikiran Fahd. Bahkan mereka sering berdiskusi di Jogja. Penasaran. Nama itu pernah ada di meja saya bertahun-tahun lalu. Saya tahu Fahd, tapi belum pernah bertemu. Ingin bertatap muka. Ingin banyak bicara. Sesuatu yang mengantarkan kami dalam sebuah perbincangan panjang di sebuah tempat nongkrong di Yogjakarta. Saya, Rampa, dan Fahd yang ditemani beberapa sahabatnya. Kami membincangkan banyak hal, tapi lebih banyak tentang MUHAMMAD.

Lalu, saya menawarinya untuk menjadi editor buku saya itu. Dia menolak. Saya minta lagi. Dia menolak. Berkali-kali. Hingga suatu hari yang aneh, Kang Faridi menelepon saya, usul agar Fahd yang menjadi editor buku saya. Jejaring itu sedang bekerja!

Saya mantap dan sedikit tenang karena Fahd bergabung dalam tim itu. Tapi, saya masih belum merasa terkoneksi dengan Muhammad. Ini hanyalah tentang bagaimana menulis sebuah buku yang baik. Melibatkan banyak pihak agar lebih kecil kemungkinan kesalahan.

Hingga saya mengisi sebuah pelatihan menulis di Salam Book House. Seorang peserta bernama Tutik Hasanah mengenalkan dirinya. Beberapa hari kemudian dia mengirim pesan lewat FB. Dia ingin menjadi pembaca pertama naskah Muhammad saya.Beliau seorang pengajar Qur’an, penghafal Qur’an, dan tahu banyak tentang Sirah Nabawiyah. Dan, naskah saya ketahuan banyak bolongnya berkat ketelitian beliau. Saya sangat berterima kasih karenanya. Sampai di sini saya masih merasa, ini hanyalah tentang bagaimana membuat naskah yang minim kesalahan. Tidak lebih dari itu.

Sampai malam tadi. Ketika saya seketika tersadar. BUKA MATAMU! Ini bukan serangkaian kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Ini jejaring raksasa yang memusat pada satu kata, satu nama, satu konsep, satu kemuliaan: MUHAMMAD. Jadi selama bertahun-tahun ini saya dibimbing menuju titik ini. Mengapa harus saya yang bodoh ini, mengapa bukan orang lain! Mengapa Kang Faridi meminta saya, bukan penulis religius yang sudah teruji? Mengapa dari ribuan penulis di negeri ini, saya yang tidak tahu diri dan nekat menuliskan kisah Muhammad saw? Bahkan, di antara begitu banyak nama yang ada di kepala, saya memilih HIMADA untuk nama belakang anak saya. HIMADA: YANG TERPUJI: MUHAMMAD. Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Saya menangis lagi. Masih dengan suara yang jelek sekali. Mungkin ini jawaban doa saya dulu, “Ya Allah, saya banyak dosa. Jangan matikan saya sebelum Kau terima taubatku dan lunasi semua hutang-hutangku. Rabb-ku, pertemukan hamba dengan pertobatan yang indah. Bukan peringatan yang menyakitkan. Tampar hamba dengan cara yang menyejukkan.”

Seketika, saya bertanya, lalu bagaimana saya belum juga mau membuka mata? Ini yang saya inginkan. “Pertemuan” dengan Tuhan. Ini yang saya inginkan. Kedekatan dengan manusia mulia sepanjang zaman: Muhammad saw. Tak perlu alasan lain. Tidak penting lagi apakah angka-angka yang mengantar saya pada kesadaran itu hanya kebetulan. Tidak penting lagi. Sebab, tiba-tiba saya menemukan alasan, mengapa saya harus menuliskan kisah Muhammad saw dalam buku saya ini. Sebab, ini hanyalah bagian kecil dari jejaring yang telah dibentangkan sejak lama. Sejak kehidupan ini tercipta. Sedikit terasa seperti tasawuf. Tapi saya semakin percaya.

Ya, Rasul … lumpuh aku karena rindu!

25 Oktober 2009,
Tasaro GK


***

keren bangeeet novelnya coy !!