Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Ada apa dengan hatimu, wahai sahabat Anshar?

"Sepertinya Rasulullah SAW sudah kembali menemukan kaumnya..."
Ini cerita tentang suasana jiwa, sebuah situasi perasaan yang sedang dilanda ujian cinta dan harta pada sebagian sahabat senior, yaitu sahabat anshar di akhir episode perang Hunain & bani hawazin tahun 8 Hijriah.
Tidak ada ghanimah yang tersisa disisi Rasulullah SAW kecuali semuanya habis dibagikan kepada hampir 2000 para muallaf dari penduduk Makkah yang ikut dalam perang tersebut, yang usia keislamannya baru seumur jagung.
240.000 ekor unta dibagikan kepada mereka semuanya, bahkan Abu sufyan mendapatkan 100 unta,dan ketika dia meminta jatah juga untuk anaknya muawiyyah, maka Nabipun memberikan 100 unta . Semuanya berebut, Sampai-sampai mereka mengerumuni Nabi dan beliau terdesak sampai menyandar diuntanya, dan beliau mengucapkan tidak akan ada yang aku sisakan kecuali akan kuberikan kepada kalian semua.
Mulailah 'penyakit hati' itu datang, pelan, cepat dan berhembus sangat dahsyat menghinggapi relun…

Kosong

kau lihat langit dengan awan kapas di atas sana? sampai detik ini aku masih tak tahu, apa aku benar-benar menyukai dia seutuhnya?
aku mungkin mengagumi cerahnya, tapi kadang enggan melihat kelabunya. **
enambelaskosongsembilan,lainkalibawahati.

Will You?

Pada suatu hari yang lalu, aku pernah bertanya pada kalian, "apakah kalian akan menikah dengan orang yang kalian cintai?" Bukan pertanyaan serius menurutku. Aku lalu diam, sambil terus memainkan X2 putih di tanganku.
Tapi, entah apa yang ada di pikiran kalian saat itu. Mungkin kalian menganggapku aneh, atau bagaimana. Ada jeda cukup lama. Kurasa kalian sibuk merangkai jawaban yang kelak harus kalian pertanggungjawabkan di kemudian hari.
"Aku akan mencintai orang yang kunikahi," kata salah seorang dari kalian, tiba-tiba. Masih kuingat, tak ada keraguan yang kutangkap dari kalimatnya saat itu. 
Sementara sebagian yang lain berkata, "Aku, tentu akan menikah dengan orang yang kucintai."
Aku berhenti, memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri.
*cerita pagi, di depan ruangbiru

Pernikahan

Tuhan yang maha mengetahui rahasia waktu;
Kami tak pernah sanggup meraba hari esok--bahkan apa yang akan terjadi satu atau dua jam lagi, kami tak tahu. Waktu serupa misteri--rahasia yang selalu memesona. Kami tahu, kami tak dibekali pengetahuan tentang apapun yang misteri, kecuali sedikit--yang bahkan kepala kami terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu. Kami sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi besok? Kami tak tahu. Kami tak pernah benar-benar tahu. Sungguh. Kaulah yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Kaulah yang maha mengetahui segala peristiwa, semua lipatan waktu. Kalau boleh kami meminta; izinkanlah esok memercikkan cahaya--yang sanggup menumbuhkan cinta di hati kami berdua, meski sedikit dari cahaya-Mu--bahkan bukankah seluruh semesta terlalu kecil untuk menampung yang sedikit itu?
Tuhan yang maha mengatur segala sesuatu;
Kami tak sanggup membaca peta waktumu, menduga miliaran kemungkinan dalam irama takdirmu. Bahkan menghapal peristiwa dari ratusan tanggal dalam…

Buzzer Beat!

Malam. Purnama. Lapangan.
Lari. Lompat. Liar. Lempar. Seterusnya.
Hingga detik ini, belum lagi kudengar kabarmu. Tetap menunggu? Atau bagaimana?
Bola masuk.
Cukup! Aku lelah.