19 April 2010

Debu Batas Palestina


Di mataku kulihat fakta, menyilat sejarah dari cinta dan amarah
Pelupur dari setiap air mata tanah Anbiya
Membedah kepedihan para pujangga Allah!! *Allah!!!*
Penjaga batas tanah Syuhada, genggam ketapelmu hei Jundullah
Kekuatan kita akan gentarkan nyali arogansi heksagram
Hingga darah terakhir takkan terbungkam
Mereka yang menikam, provokasi batas akidah dari manipulasi Jahanam
Jenin, Grozky, Gaza hingga kecekung Kaspia
Merekam teritorial dihadapan batu para pejuang
Ketika mereka membangkang (Yahudi), dari hati Musa yang terbayar duka
Tebusi batas kebohongan warisan Samir
Hingga sadarku menembus batas stagnasi dunia
Fitnah yang tertuduh, dari seribu penipu peluru
Merangkai tanpa malu untuk rudal yang sentuh tubuh Syeikh Ahmad Yasinku
Dan air mata keluarga Rantisi, bagi kepedihan seluruh umat Islam di dunia ini
Di mataku kulihat kau (Zionis)? tersenyum sambil membunuh
Saudara kecilku yang sisakan jasad beku
40 jam berlalu untuk 3297 juta nyawa syahid di Sabra Shatila
Neraka yang cukup kau (Zionis) tawarkan,
Pintu surga yang begitu indah untuk tetap di garis depan
Perlawanan ini adalah panggilan nurani,
Bagi mereka yang mau membuka hati ceria atas tawa yang tercuri
Sesuatu yang harus kita rebut kembali,
Sesuatu yang harus kita jaga hingga akhir jaman ini.
Senapan seragam besi dan tank baja para penjajah agama
Propaganda Jahiliyah di atas media massa
Temukan hidayah dari para pewaris Intifadah
Di garis depan kutunggu kau sahabat !!!! *Kutunggu kau sahabat!!*
Yang Tak akan pernah ada perdamaian
Bagi mereka yang tak pernah mengharagai Agama kita
Menepis setiap debu di garis batas perlawanan kita !
Allahuuuu Akbar !


Teruntuk kalian yang merindukan mereka
Yang berdiri dari kebesaran para panji-panji kemegahan Islam !
Yang menghunuskan pedang di atas kebathilan
Yang bertutur bijak membangun keadilan dan kesejahteraan
Mereka yang maniskan intisari sejarah
Cerita panjang Syuhada tanah Anbiya
Abu Bakar Ash Siddiq, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib
Hingga kebesaran Umar Bin Abdul Aziz
Lihatlah, bingkai kenangan itu kawan
Warisan dari legenda para Mujahid
Pemimpin garis depan terbaik seperti Khalid Bin Walid
Pujangga Kalimatullah yang getarkan nyali para kafir dunia
Berdiri dari pewaris Abu Barzah Bin Al Zahra, Al Mutsad bin Abi Wariq Sah, Saad Bin Abi Waqash.
Bagi Kita para penerus Intifadah ini
Generasi para penjaga batas serangan Zionis
Mimpi buruk paranoia Liberalis
Seperti ketika Salahudin Al-Ayyubi meratakan arogansi salibis
Maka, tetaplah optimis, terserah fitnah yang menyebut kita fasis atau rasis *bahkan Teroris!!*
Bagi jalan Allah yang termanipulasi kaum Hipokritis
Terjagalah hey petinggi Syuhada!
Hanya kematianlah akhir dari perjuangan kita
Bagi dunia yang tak pernah menghargai Akhlak kita
Di mataku kulihat fakta karena itulah aku enggan menyerah
Islam harus merdeka atau aku harus Syahid di Jalan Allah !
Allahuuuuuu Akbar !!!!!!!

-thufail al-ghifari-

11 April 2010

Sebelas April

06:01 waktu HP-ku

HP-ku bunyi, sms masuk. Kubuka, dari kupukupubiru.
'Udah siap kak?'
Aku lupa kalau ada janji dengannya. Pagi ini aku harus menemaninya survey ke perkampungan nelayan di daerah Barombong. Segera ku bersiap diri, dengan kostum kesayangan. Kuhidupkan mesin motor. 'Yah, sehari menjadi Rossi lagi', kataku dalam hati.

07:12 waktu HP-ku

Menikmati pagi di atas motor, mencari lokasi survey. Maklum, sebenarnya kami tak terlalu tahu lokasi. Modal nekat, kami berangkat. Hehe..

08: 30 waktu HP-ku

Memotret lingkungan perkampungan nelayan, wawancara sedikit dengan beberapa warga, melihat anak-anak kampung yang sedang belajar mengaji. Lalu bersyukur dalam hati, karena hidupku masih lebih baik dari mereka.

09:05 waktu HP-ku

HP-ku berdering, panggilan dari seorang teman. Terpaksa kami sedikit mengubah rute. Menuju Somba Opu, melewati jalan setapak sepanjang Sungai Jeneberang. Menyemangati kawan-kawan seperjuangan yang tengah sibuk mengurusi sebuah daurah. Maaf, tak banyak membantu :'(

10:00 waktu HP-ku

Kembali ke Tamalanrea, bersiap untuk mengikuti talkshow. Bukan sebagai peserta, melainkan sebagai penjual buku dan jilbab. Bersama 2 orang teman lainnya, kami menjaga stand itu. Keuntungan yang didapatkan, tentunya tidak akan masuk kantong kami. Karena kami disini sebagai pencari dana diksar kepanduan.

11:15 waktu HP-ku

Aku baru sadar, sejak pagi tak ada makanan masuk ke lambungku. Bola cahaya raksasa di atas langit itupun bersinar terik sekali. Dan akhirnya kambuhlah migrain-ku. Aarrghh... aku tak suka ini!!

12:22 waktu HP-ku

Masih menjaga diluar ruangan, menahan lapar, menahan sakit kepala. Aku ingin cepat pulang!!

14:13 waktu HP-ku

Mengembalikan buku-buku, menerima keuntungan penjualan kami. Tak terlalu banyak, tapi lumayan lah. Kau harus tahu, cari uang itu susah kawan. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa mengisi perut.

16:17 waktu HP-ku

Cek email dan cek notifikasi ^_^

17:21 waktu HP-ku

SMS masuk, saatnya pulang.

19:09 waktu HP-ku

HP dalam genggaman, sedang menunggu. Masih sempat untuk 'update status'.


***

***

***

***

***


20:21 waktu HP orang lain

Periksa kantong..Periksa jaket..Periksa tas

Kemana HP-ku?? Dia hilang !!


---

.:menulis, ditemani migrain dan rasa kehilangan:.

5 April 2010

Taujih

bertanya mungkin pada maryam..
yang tegar hadapi fitnah..
“lahirkan seorang anak yang tak berbapak??”
Keyakinan macam apa yang baluti hatinya????

bertanya mungkin pada asiyah..
yang harus hadapi penguasa terkejam yang punya kuasa atas raganya..
ketika ibadah mungkin terasa perih tanpa ada imam yang mampu menjadi pengayom??
ketabahan macam apa yang menjadi penguatnya????

bertanya mungkin pada Hajar..
yang padang pasir tandus menemaninya bersama pula putra yang baru saja dilahirkan..
Ketika pertanyaan “apakah ini kehendak Allah” berbalas “Ya” dari suami tercinta, nyatanya tak ada pertanyaan lanjutkan yang dihaturkan..
pun ketika sang putra hendak disembelih dan pertanyaan berbalas jawaban yang sama, tak jua penolakan disampaikan..
Kelapangan hati macam apa yang dimilikinya???

bertanya mungkin pada Sumayyah..
Saat suami dan putranya dibantai didepan mata..
adakah langkah mundur kebelakang, tepiskan syahid untuk mencari keselamatan?
Ternyata Allah dan Rasulnya lebih dicintai hingga syahid menjadi pilihannya..
Kekuatan macam apa yang buat ia tetap pertahankan tekadnya???

Sekali lagi aku bertanya..

Hati macam apakah yang mereka miliki?

Apakah karang?

Apakah batu?

atau bahkan

Apakah tak punya hati?

Hingga seolah tak mampu lagi rasai perih
Hingga seolah tak mampu lagi rasai sakit
Hingga seolah tak mampu lagi rasai gundah

Kurasa bukan..
Perih itu pasti ada
Sakit itu tentu terasa
Gundah itu juga menyapa

Tapi..
Kehendak Allah lah yang kurasa menjadi utama dan pertama bagi mereka..
Hingga ‘perasaan’ mungkin hanya akan menempati barisan kedua atau seterusnya..


(Tidak.. tidak hanya karena dorongan perasaan kita ‘bergerak’.. Tidak pula hanya karena dorongan logika ‘.. Kita ‘bergerak’, ketika itulah yang Allah inginkan dari kita.. Ketika ‘bergerak’ itu menjadi jalan Ridha dari-Nya.. Haruskah menunggu hingga perasaan nyaman atau logika menerima untuk bergerak padahal ketetapan itu telah jelas dari-Nya?)


----
dari Taujih Engineer 10 di FB-ku

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun sedangkan aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar — ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari: “I cried for my brother six times.”
5 maret 2010, 23:19

diluar sana sedang hujan,saat diijabahnya do'a.

semoga Allah mematikanku dalam keadaan syahid,amiin.

jadi,anggap saja ini kata-kata terakhirku untuk kalian.karena mungkin saat kalian baca,aku sudah tak ada.jadi,anggap saja begitu!
---
rasa syukur mendalam hanya untuk Allah,karena telah mberikan hidayahNya hingga aku 'tersesat' ke jalan yg lurus.semoga kelak saat pertemuan,tak ada tabir antara aku denganNya.

kepada Rasulullah,aku begitu ingin berjumpa denganmu.nanti,di telaga kautsar saat kau mengakuiku sebagai umatmu.

mama-papa,aku sangat ingin menjadi anak yg shaleh bagi kalian.

lingkaran cahayaku,aku cinta kalian karena Dia.

---
suatu saat kalian akan mengerti,mengapa saya menulis ini.

3 April 2010

Berdoa dalam Sepi

aku berdoa dalam sepi
sedalam makna bulir-bulir doa
lalu terucap lewat kata

aku berdoa dalam senyap
dalam indah bait-bait doa
untuk mereka, saudara seiman

dan di balik mihrab hati
aku belajar menikmati doa
untuk saudara-saudaraku

agar terbuka hatinya menerima dakwah
agar diberikan kekuatan iman
agar dianugerahi keistiqamahan
agar Allah menguatkan ikatan hati



-terkhusus untuk anisya, luv u coz Allah-



2 April 2010

Sang Murabbi


Merangkum hati yang terserak
Menggenggam yang terlepas
Meretas gagasan menjadi kenyataan
Menapak jejak tak tergoyahkan
Menatap dengan kesejukan
Menegur dalam cinta
Bersemangat namun syahdu
Diiring doa sunyi
Kami rindu
Haus dahaga tak terperi
Pada sosoknya
Sang murabbi yang dicintai
Masihkah ada?...

Kertas 100 Target


'tuliskanlah mimpi-mimpi Anda secara nyata. Jangan Anda tulis dalam ingatan saja,karena pasti Anda akan LUPA. Tuliskanlah secara nyata!!'


---
kalimat diatas begitu menginspirasiku,untuk membuat catatan ini.

ya,seperti judulnya..kita akan mulai mengukir jejak-jejak kita dalam kertas 100 target. Silahkan tambahkan,jika kamu merasa 100 terlalu sedikit. Berapapun itu,tuliskan saja!!


Jangan pernah takut dicemooh atau ditertawakan. Karena jejak-jejak ini yg akan membuat diri kita berbeda dgn yg lain. Karena kita memang beda!!

Mari bersama membuat jejak-jejak yg LUAR BIASA dalam hidup kita,dalam KERTAS 100 TARGET.


>>15 maret 2010, 10:43pm<<