24 Oktober 2011

Sepotong Hati untuk Rei


 Rei…


Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Pasti sakit, ketika harus mengakhiri sesuatu yang belum pernah dimulai sama sekali. Kira-kira begitu juga yang kurasakan saat ini,walau mungkin tak sedalam dirimu.


Ini tentang sepotong hati yang pernah (akan) kutitipkan padamu dan baru saja kau kembalikan sejam yang lalu. Ya, akhirnya kau memutuskan untuk mengembalikannya segera, sebelum sepotong hati itu tergores atau retak lalu patah.


Awalnya, aku agak bingung dengan sikapmu itu. Ada apa sebenarnya? Apa salahnya menitipkan sesuatu pada orang yang kita percaya? Lalu, kau pun menjawabnya dengan sangat bijaksana. Karena kau menyayangiku, katamu.


Untuk itu kuucapkan terima kasih padamu, Rei.
 Seandainya saja sepotong hati itu jadi kutitipkan padamu, mungkin aku akan sangat kecewa ketika suatu hari kau mengembalikannya tak utuh lagi atau bahkan mungkin menghempaskannya hingga hancur berkeping-keping. Lalu orang-orang yang melihatnya hanya menatap iba dan tak akan menyangka kalau pecahan-pecahan itu dulunya adalah potongan indah dalam episode hidupku.


Sekali lagi, terima kasih Rei…


Oh ya, hujan sedang turun disini. Kau tentu tahu, aku teramat menyukai momen seperti ini. Tapi entah, aku benci hujan sesiangan ini. Kenapa? Mungkin karena rintiknya terlalu mewakili perasaanku padamu.


Ya, hatiku sedang gerimis saat ini.


 ***


02:23 pm, ruang CE 101
berharap gerimis segera reda

22 Oktober 2011

Malam

 mari kita bicara tentang malam,
juga sertakan kedamaian dalam cerita kita

tentang kelam, pekat dan senyap,
yang menyeruak masuk,
memenuhi ruang hati kita yang penuh sesak,
sesak oleh lara dan asa yang mungkin tak sesuai cita,
dan mulai sirna...
masuk menghimpit rongga dada,
lalu mengisi tiap porinya dengan CINTA

ya!
ini tentang malam yang kita cintai bersama

saat kita kembali ke pangkuan bintang,
meluapkan semua rasa kita disini,
tempat kita bertemu untuk pertama kalinya

-teruntuk sahabat malamku-

6 Oktober 2011

Mahameru


Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesanalah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis

24 Desember 1969
Saneto Yuliman

5 Oktober 2011

Latimojong, Another Hike Story

11 September 2011
Petualangan baru dimulai. Target kali ini adalah puncak tertinggi di dataran Sulawesi. Puncak Rantemario di pegunungan Latimojong yang memiliki ketinggian 3478 mdpl. Bukan hal gampang, terutama buat saya yang sudah lama alpa dari latihan fisik. Tapi pada kenyataannya, pagi itu saya nekat tetap berangkat. Berjumlah 7 orang, kami bersesakan dengan tas carrier selama 8 jam dalam mobil yang mengantar kami menuju Enrekang. Dua orang lainnya berangkat sehari sebelumnya.
kiri-kanan: nunung, hera, ria, saya, pak nas, kak ishak, parman
Sore hari, kami tiba dengan selamat di rumah salah satu tim (Mori) di Desa Kalimbua setelah disuguhi pemandangan indah kabupaten Enrekang. Sejuk dan damai, suasana yang jarang didapati di kota besar seperti Makassar. Sudah diputuskan, malam ini kami akan menginap dan baru akan memulai perjalanan esok pagi.

12 September 2011

dari Gura menuju Karangan
Anggota tim pendakian yang fix berangkat berjumlah 12 orang. Mereka adalah Pak Nas, Habib, Parman, Kak Ishak, Mori, Kautsar, Sidik, Calu, Hera, Ria, Nunung dan saya sendiri.

Sebelum subuh, kami sudah bangun untuk bersiap. Kata Mori, sebelum jam 6 pagi akan ada angkutan yang bisa mengantar kami sampai ke desa Gura. Dan benar saja, 10 menit sebelum jam 6 angkutan tersebut sudah ada di depan rumah kami. Setelah menaikkan seluruh carrier ke atas mobil, kami pun berangkat. Waktu tempuh yang dibutuhkan angkutan menuju desa Gura sekitar 15 menit. Sesampainya di sana, kami briefing sebentar sebelum akhirnya meneruskan perjalanan menuju desa Karangan, yaitu desa terakhir sebelum memulai pendakian.

Well, sebelum berangkat saya memang sudah mempelajari rute perjalanan lewat beberapa cerita maupun artikel di internet. Tapi kali ini benar-benar di luar dugaan saya. Menurut cerita seorang teman yang pernah kesana sebelumnya, pada hari-hari tertentu (biasanya disebut hari pasar) akan ada mobil hartop yang mengantar sampai desa Karangan. Tapi entah, hari itu kami tidak menemui 1 mobil pun yang melintas sepanjang jalan.

Dan akhirnya kemungkinan terburuk itu pun menjadi nyata. Kami harus berjalan kaki sekitar 10 jam (menurut kecepatan saya) melewati kontur jalan yang sebagian besar rusak dan ‘rata’ (rata-rata tanjakan) menuju desa Karangan! Jalur yang sangaaaaat  panjaaaaang dan melelahkaaaaan. Yang jika kami bandingkan dengan pendakian ke Bawakaraeng, maka kami sudah hampir menemui puncak dengan waktu dan jalur tempuh yang sama dengan ini. Tapi tak bisa dipungkiri, hal ini yang menjadikan perjalanan ini sangat ‘SESUATU’, hahaha…

Oke, setelah melewati entah berapa tanjakan, entah berapa turunan dan entah berapa dusun, akhirnya kami sampai juga di desa Karangan. Horeeee……betapa bahagianya diriku dan nunung! Maklum, kloter terakhir. Untung ada Mori, Sidik dan Calu yang menemani sejak kami berdua terdampar lama di pinggir kebun karena keenakan istirahat, bahkan sempat tidur sebentar.Huhuu…thanks guys ToT

Waktu menunjukkan pukul entah, yang jelas sore lah. Awalnya, kami berniat mandi setelah melakukan perjalanan seharian. Tapi rumah yang kami tempati tidak memiliki MCK alias kamar mandi. Oh tunggu dulu, ternyata semua rumah di desa ini bernasib sama. Haha…Jadi, jika ingin mandi atau buang ‘hajat’, kami harus ke sungai yang letaknya di jalan akses masuk desa. “Hmm..tidak, terima kasih! Kalau begini kondisinya, lebih baik saya istirahat saja langsung.” Petualangan yang sebenarnya baru akan dimulai besok.

13 September 2011
Pagi dingin di Karangan. Setelah packing ulang dan sarapan secukupnya, pendakian sesungguhnya pun dimulai. Tim menargetkan sampai di pos 5 sebelum sore, nge-camp disana, dan baru akan ‘muncak’ dini hari.

Perjalanan menuju pos 1 cukup panjang, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jalur masih terbuka, melewati perkebunan kopi dan tebing yang telah digunduli oleh warga untuk membuka ladang kopi yang baru. Sekitar jam 10, kami tiba di pos 1.

check point #1
Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Menuju pos 2, kami mulai memasuki kawasan hutan. Jalur agak sempit dan terjal, hanya bisa dilewati 1 orang. Kadang saya harus berpegangan pada akar pohon, agar tidak terperosok ke jurang yang ada di samping. Waktu tempuh menuju pos 2 juga sekitar 1,5 jam. Di pos 2 terdapat sungai yang cukup deras juga batu karang besar dengan tanah lapang kecil dibawahnya, sehingga lokasi ini biasa dijadikan tempat nge-camp bagi para pendaki.
buka bekal di pos 2
Dari pos 2 menuju pos 3 merupakan jalur paling terjal menurut saya. Mulai pos 2 ini, medan akan terus menanjak sampai ke puncak. Kondisi tanah yang mudah longsor dan terjal menjadi salah satu alasan jalur ini sulit ditempuh. Padahal menurut papan petunjuk di pos 2, jarak antara kedua pos ini hanya sekitar 600 m. Namun untuk sampai di pos 3, waktu yang saya butuhkan sekitar 1 jam.

Menuju pos 4, kondisi medan hampir sama dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Beberapa kali saya harus berhenti istirahat atau sekedar mengatur nafas. Wajar saja, suhu semakin rendah, kabut mulai menebal dan kadar oksigen menipis. Tidak boleh istirahat terlalu lama, perjalanan harus dilanjutkan. 

Pos 5 masih jauh. Badan mulai kedinginan, perut semakin lapar, kaki sepertinya hampir patah, tak kuat lagi melangkah. Setelah berjalan hampir 1 jam akhirnya, “Nung, pos 5 di depan. Cepatmi!”  Alhamdulillah, papan hijau bertuliskan “POS 5” sudah di depan mata.

kiri-kanan: kondisi pos 3 sampai pos 7
Pos 5 merupakan tanah lapang yang juga biasa dijadikan tempat nge-camp. Di sekitar sini juga terdapat sumber air, namun lokasinya lumayan jauh dan terjal. Ketinggian di pos 5 ini sekitar 2800 mdpl, hampir sama dengan ketinggian puncak gunung Bawakaraeng.
1 = penanda jalur; 2-8 = berbagai jenis jalur yang dilalui
Sesuai rencana awal, kami akan nge-camp disini. Tenda sudah terpasang, saatnya mengisi perut. Kali ini, giliran saya yang bertugas masak. Well, sebenarnya ini pengalaman pertama saya masak nasi pake nesting. Terlalu banyak air, alhasil nasi ‘hampir’ jadi bubur. Untungnya, yang lain tidak protes. Hahaha :D

Kampung tengah alias perut sudah aman, sekarang waktunya istirahat. Harus tidur cepat, karena kami akan jalan tengah malam nanti agar bisa melihat sunrise di puncak keesokan paginya. Saatnya masuk tenda dan tiduuuuurrrr……

14 September 2011
Pukul 1 dini hari, mulai terdengar suara Pak Nas yang membangunkan kami semua. Ya, ini saatnya muncak! Dari dalam tenda, saya mendengar rintik air yang jatuh mengenai tenda kami. “Jalan malam, hujan pula!” pikirku dalam diam, sambil terus berkemas mengisi barang-barang yang dirasa penting ke dalam backpack. Keluar tenda sambil memasang headlamp di kepala, saya disambut angin dingin pegunungan, kabut dan rintik air yang ternyata bukan hujan. Itu embun yang jatuh dari pepohonan, namun jumlahnya yang banyak sehingga menyerupai rintik hujan.

Anggota tim sudah standby di luar tenda. Masing-masing membawa senter dan headlamp. Briefing lagi. “Perhatikan jalur. Jaga jarak, jangan terlalu jauh” Kira-kira begitu arahan Pak Nas sebelum kami memulai perjalanan malam itu.

Ternyata, jalan malam memang beda dengan jalan siang. Kondisi hutan yang gelap dan lembab, meminta kita untuk berkonsentrasi lebih. Sepanjang jalan, hanya jalur setapak yang licin dan terjal yang ditemui. Suhu yang sangat dingin membuat jaket dan sarung tanganku basah. Namun, ada enaknya juga kita jalan dalam kegelapan seperti ini. Jarak yang jauh menjadi tidak terasa, karena tiba-tiba saja kami sudah sampai di pos 7, setelah sempat diguyur gerimis di perjalanan.

Hari menjelang subuh. Suhu tidak bisa lagi saya prediksikan, mungkin hampir 0 derajat. Pos 7 berupa tanah lapang yang terbuka. Tidak ada tempat untuk berlindung dari tiupan angin gunung yang dingin dan kencang. Jika biasanya kita melihat kabut bergerak pelan, disini kabut bergerak cepat. Seperti asap putih yang ditiup angin.
berbagai view dari pos 7
Di sini, kami bertemu dengan 2 orang pendaki yang sedang nge-camp. Mereka memberikan tumpangan istirahat pada kami (yang perempuan) dalam tenda mereka, sementara para lelaki mulai memanaskan air untuk minum. Setelah shalat subuh, kami bersiap meneruskan perjalanan. Harapan untuk melihat sunrise di puncak mulai sirna. Alam sedang tidak bersahabat. Sejauh mata memandang, hanya gumpalan kabut putih yang membatasi penglihatan kami. Namun, kami tetap bersemangat untuk mencapai puncak.

Jalur menuju pos 8 alias puncak agak sedikit berbeda. Sebenarnya jarak tempuh menuju puncak agak panjang, namun tidak dirasa jauh karena sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang indah dan menakjubkan. Bebatuan karang, padang lumut, udara berselimut kabut, semak belukar yang khas dan hamparan batu kaca membuat rasa lelah kami selama perjalanan hilang seketika.

menuju puncak

vegetasi tumbuhan
Di ujung jalan, kami di hadapkan pada persimpangan. Ada dua jalur, keduanya sama-sama jalur menuju puncak. Masih dalam satu deretan pegunungan Latimojong, namun puncaknya berbeda. Jalur ke kiri menuju puncak Rantemario, sedangkan jalur ke kanan menuju puncak Nenemori. Kami mengambil jalur kiri dan terus melangkah.

awas, salah jalur :)
Setelah berjalan hampir sekitar 2 jam, triangulasi puncak Rantemario mulai terlihat. Langkah kaki mulai dipercepat, dan akhirnya sampai juga kami pada titik tertinggi di seantero daratan Sulawesi. Ekspresi kebahagiaan mulai diluapkan dengan mengajak ‘tiang batu 1 meter’ itu berfoto bersama. Yeaah…we are the champion! \(^o^)/
puncak rantemario
Tidak disangka, akhirnya saya berhasil menjejak disini dan menjadi manusia tertinggi di Sulawesi. Namun tentu saja hal ini bukan untuk disombongkan. Karena jika dibandingkan dengan kebesaran Dia Sang Maha, diri ini tentu bukan apa-apa. Maka perjalanan ini, hanya suatu wujud refleksi atas kesyukuran kita. Atas hidup, atas alam dan atas bumi yang hanya kita singgahi sementara.
***
Terima kasih, teman seperjalanan.
Untuk canda, tawa dan cerita yang tercipta di antara kita.
Ku dapati sajak ini, ku persembahkan pada kalian.
 
Bila kita berpisah,
kemana kau aku tak tahu sahabat,
atau turuti kelok-kelok jalan,
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan,
hanya bila kau lupa,
ingat…


pernah aku dan kau
sama-sama daki gunung-gunung tinggi,
hampir kaki kita patah-patah,
dan nafas kita putus-putus,
tujuan esa, tujuan satu
pengabdian, pengabdian kepada Yang Maha Kuasa
[ Idhan Lubis, rekan Soe Hok Gie]


kamar juang, 5 Oktober 2011
hampir sebulan setelah kisah kita bermula

***

4 Oktober 2011

Setengah Sabar, Setengah Syukur



“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorang pun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7425)

Well, harusnya beginilah sikap seorang mukmin dalam menjalani kehidupannya. Bersyukur ketika lapang, bersabar ketika sempit. Bersyukur kala suka, bersabar kala duka. Bersyukur saat diberi nikmat, bersabar saat ditimpa mudharat.

Melakukan keduanya, sama-sama gak ada ruginya. Coz masing-masing punya ganjaran yang berbeda. Kalau bersyukur, kenikmatan kita bakalan ditambah. Sementara kalau kita bersabar, itu bisa menjadi penghapus kesalahan-kesalahan kita.

Subhanallah yah…. ^_^