Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Sepotong Hati untuk Rei

Rei…

Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Pasti sakit, ketika harus mengakhiri sesuatu yang belum pernah dimulai sama sekali. Kira-kira begitu juga yang kurasakan saat ini,walau mungkin tak sedalam dirimu.

Ini tentang sepotong hati yang pernah (akan) kutitipkan padamu dan baru saja kau kembalikan sejam yang lalu. Ya, akhirnya kau memutuskan untuk mengembalikannya segera, sebelum sepotong hati itu tergores atau retak lalu patah.

Awalnya, aku agak bingung dengan sikapmu itu. Ada apa sebenarnya? Apa salahnya menitipkan sesuatu pada orang yang kita percaya? Lalu, kau pun menjawabnya dengan sangat bijaksana. Karena kau menyayangiku, katamu.

Untuk itu kuucapkan terima kasih padamu, Rei.  Seandainya saja sepotong hati itu jadi kutitipkan padamu, mungkin aku akan sangat kecewa ketika suatu hari kau mengembalikannya tak utuh lagi atau bahkan mungkin menghempaskannya hingga hancur berkeping-keping. Lalu orang-orang yang melihatnya hanya menatap iba dan tak akan menyangka kalau pecahan-pecahan it…

Malam

mari kita bicara tentang malam, juga sertakan kedamaian dalam cerita kita
tentang kelam, pekat dan senyap, yang menyeruak masuk, memenuhi ruang hati kita yang penuh sesak, sesak oleh lara dan asa yang mungkin tak sesuai cita, dan mulai sirna... masuk menghimpit rongga dada, lalu mengisi tiap porinya dengan CINTA
ya! ini tentang malam yang kita cintai bersama
saat kita kembali ke pangkuan bintang, meluapkan semua rasa kita disini, tempat kita bertemu untuk pertama kalinya
-teruntuk sahabat malamku-

Mahameru

Yang mencintai udara jernih Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesanalah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis

24 Desember 1969
Saneto Yuliman

Latimojong, Another Hike Story

11 September 2011
Petualangan baru dimulai. Target kali ini adalah puncak tertinggi di dataran Sulawesi. Puncak Rantemario di pegunungan Latimojong yang memiliki ketinggian 3478 mdpl. Bukan hal gampang, terutama buat saya yang sudah lama alpa dari latihan fisik. Tapi pada kenyataannya, pagi itu saya nekat tetap berangkat. Berjumlah 7 orang, kami bersesakan dengan tas carrier selama 8 jam dalam mobil yang mengantar kami menuju Enrekang. Dua orang lainnya berangkat sehari sebelumnya. Sore hari, kami tiba dengan selamat di rumah salah satu tim (Mori) di Desa Kalimbua setelah disuguhi pemandangan indah kabupaten Enrekang. Sejuk dan damai, suasana yang jarang didapati di kota besar seperti Makassar. Sudah diputuskan, malam ini kami akan menginap dan baru akan memulai perjalanan esok pagi.
12 September 2011
Anggota tim pendakian yang fix berangkat berjumlah 12 orang. Mereka adalah Pak Nas, Habib, Parman, Kak Ishak, Mori, Kautsar, Sidik, Calu, Hera, Ria, Nunung dan saya sendiri.

Sebelum subuh, ka…

Setengah Sabar, Setengah Syukur

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorang pun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7425)
Well, harusnya beginilah sikap seorang mukmin dalam menjalani kehidupannya. Bersyukur ketika lapang, bersabar ketika sempit. Bersyukur kala suka, bersabar kala duka. Bersyukur saat diberi nikmat, bersabar saat ditimpa mudharat.
Melakukan keduanya, sama-sama gak ada ruginya. Coz masing-masing punya ganjaran yang berbeda. Kalau bersyukur, kenikmatan kita bakalan ditambah. Sementara kalau kita bersabar, itu bisa menjadi penghapus kesalahan-kesalahan kita.
Subhanallah yah…. ^_^