31 Oktober 2014

Jangan Gugur


Pagi terakhir di bulan kesepuluh.

Bagaimana hari-harimu, Mathar? Ah, bulan yang melelahkan ya. Mari duduk sini, akan kukisahkan padamu sebuah cerita.
**
Adalah Syaikh Abdullah Azzam -seorang ulama dan mujahid- pernah mengajarkan simulasi yang menghentak kesadaran murid-muridnya tentang arti mastatho'tum,  yaitu berusaha sekuat tenaga sampai titik maksimalnya.

Demi hal tersebut, beliau kemudian mengajak murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan. Mulailah Syaikh berlari diikuti murid-muridnya. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, semuanya masih bertahan. Putaran-putaran berikutnya beberapa mulai menyerah, meminta izin untuk istirahat. Namun Syaikh terus berlari, meski beliau pun merasakan lelah mendera tubuhnya. Setelah cukup lama, semua murid menyerah. Tidak ada lagi yang berlari, kecuali Syaikh. Ya, beliau terus berlari dalam kepayahan, hingga tiba-tiba beliau jatuh tersungkur dan pingsan.

Murid-muridnya menggotong dan berusaha menyadarkan beliau. Setelah tersadar, murid-muridnya bertanya, "wahai Syaikh, mengapa engkau melakukan hal tadi?" Sambil tersenyum bijak, beliau berkata, "yang aku lakukan tadi, itulah maksud dari mastataho’tum."
**
Begitulah, Mathar. Seringkali kita memutuskan menyerah dan berhenti berusaha hanya karena sekadar merasa lelah, bukan benar-benar lelah. Padahal ada beda pada keduanya.

Apalagi saat menyadari bahwa kita tertinggal langkah, ah rasa putus asa itu gampang sekali menyergap. Ingin menyusul, tapi seperti tak terkejar. Diam juga hanya akan meninggalkan sesal.

Untuk itu, aku hanya ingin bilang: aku pernah, dan mampu, melewatinya.

Kamu pun.

30 Oktober 2014

Tentang Dhuha

Morning (photo by clk7)
Hari ini memang tanggal merah. Tapi perburuan menuju surga, tak mengenal libur. Bahkan kau disuruh tetap berlari ketika yang lainnya enak menikmati dunia. Kau diperintah bekerja saat selainnya sedang santai berongkangkaki sembari menyeruput minuman nikmat di teras rumahnya. Kau juga akan tetap dianjurkan untuk terbangun, ketika orang lain lelap dalam tidur lalainya. Itu teramat susah. Tapi surga, memang tak diberikan secara gratisan.

Tanggal merah koq tetap bekerja? Apakah dunia begitu melenakanmu? Belum cukupkah karunia yang Dia berikan? Apakah kau bekerja sebagai wujud syukur atas potensi yang diberikanNya? Atau sebagai perlombaan lantaran gengsi? Karena teman sekelasmu dulu sudah punya mobil? Karena teman kuliahmu dulu sudah bolak-balik tour ke luar negeri? Atau karena tetanggamu yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru berharga milyaran itu?

Siang semakin menjelang. Mentari sudah mulai naik. Panasnya kian terasa. Hangat yang menghidupkan. Tapi kau masih sibuk dengan kerja duniamu?

Apakah kau lupa bahwa waktu ini dinamai Dhuha? Ada berkah di dalamnya. Ada pahala melimpah bagi siapa yang mau. Ada rejeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Tidakkah kau berlomba untuk merayuNya?

Tak ingatkah kau? Dalam Dhuha, terletak sunnah shalat. Dua, empat, enam, delapan, sepuluh atau dua belas. Dua saja, kau akan dilepaskan dari predikat orang yang lalai. Jika empat, kau akan dimasukkan ke dalam kelompok ahli ibadah. Andai bisa enam, maka akan dicukupi semua kebutuhanmu hari ini. Jika kuasa, dan kau bisa menjalankannya dua belas, maka janjiNya bahwa dirimu akan diberi rumah kelak di surgaNya. Apakah rumah di sini lebih kau sukai dibanding rumah abadi di sana kelak?

Diluar itu semua, para ahli Dhuha tak akan pernah merasa miskin. Kebanyakan mereka adalah yang banyak hartanya. Berkah pula, insyaa Allah. Jikapun ternyata kau tak dikarunia banyak harta, bukankah ibadah itu merupakan kekayaan tersendiri? Bukankah dua matamu, jika dijual, akan laku milyaran rupiah? Maukah? Atau misalnya, kau potong lima jarimu, kemudian melelangnya, yakinlah kalau akan banyak uang yang kau terima jika lakukan itu. Atau kau gadaikan nikmat kedipmu dalam sehari ini saja, berapa harta yang akan kau peroleh? Jika tidak, kumpulkan oksigen jatah nafasmu hari ini, lalu iklankanlah. Mungkin ada puluhan juta yang bisa kau kantongi.

Dhuha itu syukur. Terima kasih atas semua nikmat yang Dia limpahkan. Bukankah seluruh tulangmu terdiri dari ruas-ruas yang jumlahnya sekitar tiga ratus enam puluh? Nah, masing-masing mereka ada hak syukurnya, karena semuanya ciptaan Allah.Mampukah kau bersyukur untuk semua ruas tulang itu?

Jika tak mampu, maka lakukan Dhuha dengan sepenuh cinta. Karena Dhuha-mu, sudah cukup sebagai perlambang syukurmu untuk semua nikmat itu.

Andai begitu saja tak mampu, masihkan kita mengaku-ngaku sebagai hambaNya, sementara perintahNya kita ingkari dengan kemalasan?
***
repost dari grup WA. semoga bisa jadi pengingat bagi semua.

4 Oktober 2014

together


~I don't even need the world, as long as you're with me~

***
Ini tentang Fath dan Qin, keduanya hanya nama samaran. Qin adalah teman saya. Sedangkan Fath, saya mengenalnya dari Qin. Setahu saya, mereka berteman sudah cukup lama. 

Suatu pagi selepas dhuha, Qin menumpahkan keresahan hatinya pada saya. Matanya agak berair. Saya yakin dia baru selesai menangis. Tapi tentang apa, saya tidak tahu sampai Qin menceritakannya sendiri kepada saya.

"Yu, tiap selesai shalat saya selalu berdoa. Semoga Allah menguatkan hati saya diatas agama dan ketaatan padaNya. Tapi kadang saya takut Allah tidak mendengar doa saya. Bisa saja Dia, atau sebenarnya saya,  yang justru mencondongkan hati kepada selainNya, kepada makhlukNya. Saya tidak pernah mau dipalingkan." Qin terus bercerita, sambil sesekali menyeka air mata.

Sampai disini, saya sebatas tahu bahwa Qin sedang takut. Itu saja. Tapi jujur saya masih belum mengerti mau dibawa kemana arah pembicaraan kami ini.

"Apa ini tentang perasaanmu pada seseorang?" Saya akhirnya bertanya demi menghilangkan kebingungan.

Qin diam. Mungkin dia pun bingung harus menjawab apa. Tapi kemudian dia menyodorkan handphone-nya kepada saya. Dibukalah menu pesan, lalu muncul obrolan panjangnya bersama Fath. Ah, rupanya dia! Saya menahan senyum, sambil membaca. Sampai pada kalimat:
Saya mungkin tidak pandai berkata-kata, dan juga barangkali gagal dalam mengurai perasaan padamu. Tapi yakinlah saya akan mendatangimu, hidup bersamamu, sesuai tuntunan halal. Saya merindukanmu, pun tersiksa dengan perasaan saya sendiri. Semoga ada jalan untuk bertemu. Mari kita berdua berdoa.
Saya tidak lagi bisa menahan tawa. "Ooh, jadi gara-gara ini? Semoga berlabuh ya." Saya terus terbahak sambil menepuk bahu Qin.

Dia merengek tidak jelas, sikap manjanya mulai kambuh. "Yu...saya takut!"

"Takut apa? Takut dia benar-benar mendatangimu?" Saya kembali tertawa.

"Bukan. Saya hanya takut disukai terlalu dalam."
***
Saya paham perasaan Qin.
Apa jadinya jika rasa cinta sudah membutakan hati manusia,
lalu memalingkan kita dari Sang Maha Cinta?
Itu yang dia takutkan.
Saya juga.