Langsung ke konten utama

Inspiring Autumn

beberapa malam ini, ketika saya blogwalking ke beberapa tetangga, kembali saya ditakjubkan oleh keindahan musim gugur. ah, saya suka sekali musim gugur. negara saya memang mempunyai 4 musim, tapi musim gugur bukan salah satu diantaranya. empat musim itu adalah hujan, kemarau, banjir dan kekeringan. tak ada autumn, spring, summer apalagi winter. walaupun begitu, saya tetap suka musim gugur dan selalu berkhayal kalau saja di Indonesia ada musim gugur. musim gugur, selalu khas dengan warna coklat jingga, warna kering, warna tua. jelek sebenarnya, tapi bagi saya tetap bagus.


angan-angan saya terbang melintasi negara ini. membayangkan diri saya sedang berjalan di antara deretan pohon maple yang sedang menggugurkan daunnya. lalu saya duduk di bangku kayu panjang ditemani angin semilir yang membuat daun-daun gugur itu bergemerisik ribut di bawah kaki saya. walau tak nyata, tapi saya bisa merasakannya.

nyatanya, dari daun-daun coklat itu saya belajar sesuatu. bahwa diri kita, sama halnya dengan pohon yang menggugurkan daun itu. dia telah tumbuh dalam hitungan masa, lalu dia berguguran kemudian menumbuhkan daun-daun baru lagi. begitu pun kita, sudah seharusnya bermuhasabah alias mengintrospeksi diri dalam setiap kesempatan, 'menggugurkan' kesalahan masa lalu dan menggantinya dengan 'daun-daun harapan' di masa yang akan datang.

*malam terakhir maret, saat diri merasa perlu untuk gugur dan kemudian bersemi kembali*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Salah satu contoh Ornamen Matahari di Lapangan Merdeka, Ambon (photo by clk7) Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut. Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram.  Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru. Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama...

Pulau Kodingareng Keke

Bermula dari rasa rindu menatap laut lepas dan galau pengen menginjak pasir pantai, saya nekat merencanakan perjalanan lintas pulau bareng teman-teman. Kali ini cewek semua: kak Pipi, Abel, Awa, Lara, Athifah, Mitha, kak Nunu, Ayi, Nur, Uthy dan saya sendiri. Pokoknya bukan pulau yang jauh, jadi gak perlu menginap. Juga bukan pulau yang rame, biar bebas berekspresi. Dan dari hasil wawancara dan browsing sana-sini, akhirnya pulau Kodingareng Keke-lah yang ditetapkan menjadi destinasi perjalanan 'nekat' ini. Jam tujuh pagi, kami bersebelas janjian ngumpul di dermaga penyeberangan Kayu Bangkoa, sekitar pantai Losari. Untuk bisa sampai kempulau Kodinagreng Keke, kami harus menyewa kapal dari sini. Harga sewa kapal tergantung kesepakatan dengan pemiliknya. Kemampuan harus total kita keluarkan biar bisa dikasih harga murah. Untuk urusan ini, saya serahkan ke kak Pipi dan Mitha. Saya hanya membantu seperlunya. Oke, setelah proses tawar-menawar yang panjang karena pake adegan ...

Jangan Gugur

Pagi terakhir di bulan kesepuluh. Bagaimana hari-harimu, Mathar? Ah, bulan yang melelahkan ya. Mari duduk sini, akan kukisahkan padamu sebuah cerita. ** Adalah Syaikh Abdullah Azzam -seorang ulama dan mujahid- pernah mengajarkan simulasi yang menghentak kesadaran murid-muridnya tentang arti mastatho'tum ,  yaitu berusaha sekuat tenaga sampai titik maksimalnya. Demi hal tersebut, beliau kemudian mengajak murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan. Mulailah Syaikh berlari diikuti murid-muridnya. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, semuanya masih bertahan. Putaran-putaran berikutnya beberapa mulai menyerah, meminta izin untuk istirahat. Namun Syaikh terus berlari, meski beliau pun merasakan lelah mendera tubuhnya. Setelah cukup lama, semua murid menyerah. Tidak ada lagi yang berlari, kecuali Syaikh. Ya, beliau terus berlari dalam kepayahan, hingga tiba-tiba beliau jatuh tersungkur dan pingsan. Murid-muridnya menggotong dan berusaha menyadarkan beliau. Setel...