Langsung ke konten utama

Memória


Hari ini, kudapati diriku terjebak dalam rasa melankolik. Tidak, bukan hanya hari ini sebenarnya, tapi sejak hari-hari yang lalu. Ada yang hilang, jelas. Dan kita sama sadar bahwa kesalahan masa lalu lah yang membuat keadaan menjadi seperti ini.

Maafkan aku, tapi entah mengapa aku hanya ingin mengenang tentangmu saja hari ini. Seseorang yang pernah kubuat bahagia juga kecewa dalam interval waktu yang tak cukup lama. Setahuku dulu kau terlampau sering mengakrabi hidupku dalam lembar-lembar mayaku. Namun, kali ini aku tak begitu yakin kau akan membaca tulisan panjang ini. Tentu saja, ini bukanlah hal penting lagi bagimu.

Walau begitu, aku tetap akan mencoba memanggil sebagian kenanganku bersamamu. Tak lagi pantas menyebutnya sebagai kenangan kita, karena bagimu kata 'kita' sudah tak bermakna apa-apa lagi. Maka biarkan aku saja yang menggali ingatanku tentangmu. Itu saja cukup, bagiku.

Masih ingat pada suatu malam kau memintaku datang lalu kita duduk di atas tanggul dan mulai bercerita banyak tentang banyak hal. Mulai dari kau, aku, keluarga, kampus dan kehidupan kita. Malam itu, kita duduk berkawan bulan yang tampakannya tak lagi utuh. Langit semakin kelam namun lucu rasanya, karena kita memutuskan baru akan selesai bercerita ketika bulan tenggelam di kaki langit.

Setelah itu, kita kembali ke rumah masing-masing. Semua kembali semula, layaknya tak ada yang pernah terjadi. Lama, kita berdua tak pernah mengungkitnya lagi. 


Lalu kali kedua, kita bertemu lagi. Masih di tempat yang sama, namun lebih lama. Wajar, pertemuan pertama sewaktu dulu sudah terlampau jauh. Dan tentu saja, banyak pula cerita yang terlewatkan. Ingat salah satu bahasan kita kala itu? Ya, tentang aktivitas baru yang belakang kerap kulakukan. Untuk hal ini, aku yakin sampai kapanpun kita akan selalu antusias membahasnya.

Untuk berbagi, kita memang tak harus bertemu dulu. Kebanyakan curahan hatimu, kau sampaikan lewat pesan singkat. Jika tak sibuk, kau bahkan meneleponku, dan itu tidak jarang. Bagaimanapun, aku selalu senang. Memiliki seseorang yang bisa menjadi pendengar yang baik, tentulah menyenangkan. Begitu juga dirimu yang tak pernah bosan mendengar aku ingin ini, ingin itu. Hendak ke sini, hendak ke situ.

Suatu kali kau juga pernah bercerita tentang dia yang begitu berharga di hidupmu, sesaat setelah kalian berpisah. Saat kau menurunkan nada bicaramu di telepon, aku tahu di seberang sana kau sedang meneteskan air mata untuknya. Kau bercerita panjang tentang dirinya, hidupnya, juga pesannya. Asal kau tahu, aku pun masih mengingat pesan-pesan itu. Walau tak pernah bertemu, aku percaya kau memiliki perasaan yang teramat dalam untuknya dan takkan mungkin tergantikan oleh siapapun. Hatiku membatin, berbahagialah dia.

Seingatku kedekatan kita memang tak berbilang lama, tapi bagiku itu cukup meninggalkan bekas di hati. Dengan waktu yang sebentar itu, setidaknya membuatku sedikit paham akan karaktermu. Anak manja yang tidak mau mengalah. Mungkin kalimat itu cukup mewakili. Hahaha... Tak mengapa, aku tetap suka. Rengekan manja yang pernah secara spontan kau tunjukkan padaku di dermaga pada suatu malam, aku merindukannya.

Masih ada lagi sebenarnya yang kurindukan darimu. Aku selalu suka menatap lengkung indah di sudut bibirmu. Aku suka melihat wajahmu dari samping. Aku suka tatapan mata sayumu, juga pada deretan rambut tipis diatasnya. Aku rindu merasakan saat jari-jarimu terasa pas terselip di antara jemariku dan menggelitik telapak tanganku dengan telunjukmu. Rindu tawa lepasmu, candaanmu, juga ekspresimu ketika mengernyitkan kening. Aku suka melihatmu diam, membuatmu terlihat semakin manis. 

Tapi seperti yang sudah kukatakan tadi, aku hanya ingin mengenang tentangmu saja hari ini. Selepas ini, aku akan kembali mengubur kotak kenangan itu dalam-dalam di ruang memoriku dan hanya akan membukanya sesekali saja atau mungkin tidak sama sekali. Untuk pilihan terakhir itu, aku sendiri pun masih menyangsikannya.

Kemanapun kau pergi saat ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku berterima kasih. Kau mungkin tak sadar, tapi kehadiranmu yang sebentar itu telah mengajariku tentang arti sebuah ketulusan. 

Untukmu yang pernah menciptakan mimpi, membawa debar, menghadirkan senyum, meneteskan titik rindu, memeluk sepi, menggenggam erat tangan, mengecup pipi kiri, mendekap diri dalam dingin dan kemudian ditakdirkan pergi. Surat panjang ini kutulis untukmu.
***
Never mind I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
[ Adele - Someone Like You ]

.:: dari S, untuk R ::.

Komentar

  1. Saya tau, surat panjang ini bukan buat saya :(

    BalasHapus
  2. mau nangisss... knapa postingan Kak Yuni di blog, note Kak Atun di pesbuk, belum lagi di twitter, semua seperti mewakili isi hatiku...
    Tsahhh

    *sok
    *lebay... :p

    tapi, Kak. seriuska ini mo nangis... hiks

    BalasHapus
  3. waaaaaaaaaaaaaa...so sweet bgt mb cahyaa.... :'(
    bikin galau di kantor..huhuu..
    itu dari salsabiila buat rangga yak...hahahah...#AADC
    mb cahyaa...sukaa..dalem banget,,mana ada lagu favo aku lagi di situu...ckckck

    BalasHapus
  4. kkqq:
    iya lah kak, ini kan titipan surat buat R bukan K (kiki) :p

    mirna:
    jiaah, jgn nangis dsini..nanti kbanjiran rumahku :p
    sing sabar ya nduk, begitu memang lelaki #eh?

    nick:
    maksa banget nii, Rangga gak kenal kamuuu :p
    hahaha :D

    BalasHapus
  5. Oh. Nooo.. Aku Ikut - ikutan jadi Melowww.... :'(
    Dadaku bergemuruh... berdetak... begitu kencangnya... karena aku juga mengenalmu dari dunia maya...
    Heiii... Kamu... #nunjuk
    Tanggung jawab....

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh..Lara histeris
      #kabuuuuurrr >,<

      Hapus
  6. Hikss, sendu-sendu gmanaa gtuu :p
    'cantik' kata-katanya, paling suka yg "Untuk berbagi, kita memang tak harus bertemu dulu."

    BalasHapus
  7. hmmm, baca ini sore-sore :))

    BalasHapus
  8. hmmmb..
    gara2 tulisan ini, jd ingat ke masa lalu jg.. :p
    flash back..flash back..
    hha.
    >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah cara kerja masa lalu..
      mengundang kembali emosi yg sempat terpendam :)

      #mana janji Aprilmu kak? >,<

      Hapus
  9. Tergelitik untuk kesekian kali. sypakah dia??? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak perlu menerka-nerka, siapa R juga S
      saya hanya coba membantu S menyampaikan isi hatinya :)

      Hapus
  10. salam kenal mbaa.. dan salam #bloofers
    ini kunjungan pertama saya ^_^
    suka banget sama tulisannya, mengharu biru dan jd inget kenangan masa lalu :'(

    BalasHapus
  11. salam kenal juga rinda, terima kasih atas kunjungannya. semoga besok2 masih sering mampir kesini :)

    soal memoria, jangan terlalu terpaku pada kenangan ya ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ornamen Matahari

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Maluku, pasti akrab dengan gambar dan corak seperti gambar di atas. Ya, ornamen tersebut mulai banyak digunakan pada beberapa bangunan maupun produk lokal Maluku, dengan beragam corak dan bentuk. Namun masih banyak orang, bahkan orang Maluku sendiri, yang belum mengetahui makna dan nilai filosofis yang terkandung di balik ornamen tersebut.Ornamen Matahari, dilambangkan sebagai simbol matahari yang di dalamnya memiliki makna simbolis keyakinan, pola pikir, norma, adat istiadat, dan tata nilai masyarakat Maluku, khususnya suku Alifuru di Pulau Seram. Di masa lalu, ornamen matahari digunakan untuk tanda dekorasi pada tubuh pada saat upacara kakehan (ritual pemanggilan arwah), sesuai dengan latar belakang, kebudayaan, adat-istiadat dan tata kehidupan alam lingkungan, masyarakat Patasiwa Alifuru.Salah satu bukti bahwa ornamen ini sudah dikenal cukup lama, dapat dilihat pada senjata tradisional Maluku yaitu parang dan salawaku. Salawaku merupakan …

Galaksi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah Itu Mati ?

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta : Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila. Berhati-hatilah .. Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat. Menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua orang berpikir hidupmu telah sempurna. Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah .. Engkau akan mulai merengek kepada Tuha…

Teman Seperjalanan

"Jika kusebut tentang 'teman seperjalanan' apa yang ada dalam benakmu?" 
Kubaca ulang chat darimu. Ah, seperti apa harus kujawab pertanyaan ini. Kuketik beberapa kalimat, kemudian kuhapus lagi. Walaupun jarakmu beratus kilometer dari kota ini, tapi rasanya  terlalu memalukan jika harus jujur. Kususun lagi kalimat yang cukup aman bagiku. 
"Ngg..tentang orang-orang yang berada dalam perjalanan yang sama...." 
Aku berhenti mengetik. Kutatap benang hujan yang perlahan merintik di luar jendela. 
---
Kamu mungkin tak tahu, betapa inginnya diriku seperjalanan denganmu, selalu. Namun aku tetaplah ganjil, hingga kamu genapkan. Dan kamu, masihlah teka-teki yang belum bisa aku pecahkan.
Mereka bilang, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan. Tapi kemudian aku bertanya: apa tujuan kita sama? Aku, kamu, mulai berangkat dari titik masing-masing dan di persimpangan jalan yang mana akan bertemu, kita tak pernah tahu. Yang kita tahu, kita hanya perl…