1 November 2013

Perahu Kertas

Alivya,

Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih. Seperti kita maklumi, Adam akan kesepian tanpa Hawa, dan kisah hidup manusia tak mungkin dimulai, Alivya. Barangkali waktu jadi beku dan semesta hanyalah ruang hampa yang tak memiliki apa-apa; Hidup tak mencipta gerak, gerak tak menyusun peristiwa, dan peristiwa tak pernah membentangkan kisah macam apapun.

Maka, Alivya, lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

Kemudian, lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. Maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggungan titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang-dua atau lebih.

Seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainnya, Alivya. Takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersinggungan dengan yang lain. Di sanalah Adam menemukan makna "pertemuan", sebagaimana pertama kali ia menjumpai Hawa pada tatapan pertamanya di surga-yang membuat detik hidupnya berdetak! Di sanalah hidup dimulai sebagai fusi sinergis yang harmonis antara takdir seseorang dengan seseorang lainnya-sebagai jejaring takdir yang membentang, "hidup".

Kini, lepaskanlah lipatan yang kedua, maka kau akan menemukan sebuah pola berupa garis lurus vertikal. Garis itulah yang akan menjadi "gurat" yang menentukan peristiwa-peristiwa berikutnya, Alivya. Semacam jejak yang ditinggalkan sebab memang "harus" ditinggalkan. Gurat itulah yang akan menuntun hidup pada sebuah kerja perbaikan, upaya untuk menentukan "sikap yang lain".

Adam dan Hawa terusir dari surga setelah menggigit "buah pengetahuan", lalu surga menjelma semacam "jejak" atau "gurat" bagi seluruh "kerja perbaikan", taubat, mereka berdua dalam rangka menempuh hidup mereka selanjutnya. Kelak, jejak itu pulalah yang senantiasa mereka lacak sepanjang hidupnya, "pulang".

Tariklah sisi kiri dan kanan atas kertas tadi menjadi sebuah lipatan berbentuk segitiga- pertemukanlah ujung lipatannya tepat di tengah-tengah garis vertikal tadi, Alivya. Inilah perjalanan kembali melacak jejak: Setelah perpisahan, kadang hidup memang harus dijalani dengan keteguhan dan pilihan hati masing-masing kita-sampai suatu hari kita bertemu kembali atau dipertemukan kembali. Itulah yang dirapalkan Adam dan Hawa dalam pengembaraan mereka masing-masing untuk "saling menemukan". Hingga kelak mereka kembali bertemu-atau dipertemukan- di gunung cahaya, Jabal Nur.

Pada bagian bawah yang tersisa, Alivya, buatlah lipatan segitiga kecil hingga ujungnya bersinggungan dengan segitiga di atasnya. Lakukan di kedua sisinya-juga di bagian sebaliknya. Hingga kau mendapati sebuah segitiga sama kaki berbentuk mirip caping petani.

Alivya, pada satu titik tertentu, seperti sekarang, kau akan melihat hidup sebagai konfigurasi peristiwa yang pada gilirannya membentuk sebuah kontinen makna. Seperti bentuk yang kau dapatkan sejauh ini-dari sejumlah kerja lipat-melipat yang kau lakukan. Kau cukup bahagia sejauh ini, bukan? Ya, begitulah, ada beberapa peristiwa yang membuatmu sedih, bebas, bahagia, atau hampa. Di sini, barangkali memaknai hidup sama seperti menikmati sebuah lukisan abstrak: Kadang hidup bukan untuk dihitung, tapi diperhitungkan. Bukan untuk dipikir, tapi dirasa. Seperti menebak judul sebuah lukisan abstrak: Kadang-kadang hidup tak perlu diberi "judul", cukup jalani saja.

Ada sebuah ruang yang tercipta di tengah-tengah bentuk segitiga sama kaki yang kau pegang saat ini, Alivya. Bukalah dari bagian bawahnya, lalu pertemukan sudut kiri-bawah dan kanan-bawah segitiga itu, kau akan mendapati sebuah bentuk yang lain: Wajik. Inilah bagian terpenting dari keseluruhan perjalanan, saat setiap ruas saling menggenapkan. Saat satu peristiwa menghubungkan diri dengan peristiwa lainnya hingga terbaca sebuah cerita. Peristiwa yang membuatmu tertawa terbahak-bahak pada suatu hari, membuatmu tersenyum getir di hari yang lain; peristiwa yang pernah membuatmu sesenggukan barangkali juga menjadi peristiwa yang membuatmu merasa bebas di waktu yang lain. Hidup adalah soal mengalami dan merasakan peristiwa dan cerita-cerita yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya...

Tak ada yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri, Alivya. Kebahagiaan hanyalah satu sisi dari wajah lain kesedihan; seperti "tertekan" kadang-kadang juga merupakan nama lain dari rasa "bebas". Di bagian seperti ini, seseorang yang rela membaca kembali jejak dan peristiwa yang tertinggal akan bisa membaca hampir keseluruhan peristiwa-keseluruhan cerita. Ketika seluruh cerita terbaca, seluruh peristiwa terlacak...

Pada bagian akhir, lipatlah bagian bawah wajik itu ke atas-lakukan juga di bagian sebaliknya. kau akan mendapati segitiga yang lain. Lalu, lakukan hal yang sama seperti ketika kau melipat bagian bawah segitiga menjadi berbentuk wajik. Kini kau punya sebuah wajik yang indah-yang terbentuk dari sejumlah konfigurasi apik lipatan demi lipatan. Tepat di bagian atas, kau memiliki dua bagian rekah seperti kuncup, tariklah kuncup itu menjauh. Dan kau akan mendapati...Perahu Kertas.

Di sana, Alivya, sadarilah... Setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa disebut sebagai manusia? Berapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya? Hanya kamu yang tahu, setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri...

Selanjutnya, setiap orang selalu butuh teman untuk berlayar, Alivya. Itulah sebabnya aku butuh kamu, seseorang yang akan menemaniku berlayar, melacak jejak "pulang"... Menuju surga...


siap berlayar...
~ ditulis ulang dari buku Yang Galau Yang Meracau, karya Fahd Djibran

5 komentar:

  1. Itu foto ilustrasinya bagus. Foto koleksi pribadi kah?

    BalasHapus
  2. Ayoo segera berlayar, aku dan anak2ku ikut yah. Hahaha...

    BalasHapus
  3. hidup penuh proses,kemana kita melangkah kesitulah kita kan sampai

    BalasHapus
  4. barusan saya ubek2 blogta' kak.. wah anak teknik dengan jiwa melankolis itu perpaduan yg wow...

    BalasHapus
  5. Saya suka mbak, tulisan ini dan pemaknaan hal sederhananya menjadi sesuatu yang luar biasa.
    Terimakasih untuk tulisannya.. :)

    BalasHapus