30 Agustus 2014

Menikmati Banda Neira dari Ketinggian (Part 2)


Target!
Salah satu cara untuk bisa melihat panorama Banda Neira secara keseluruhan adalah dengan berdiri di puncak Gunung Api dan hal ini sudah seperti ‘kewajiban’ bagi setiap turis. Jika kemarin saya hanya menatap gunung yang elok hijau menjulang ini dari belakang penginapan, kini saatnya merasakan sensasi mendaki dan bermalam di gunung api yang puncaknya berada pada ketinggian sekitar 666 meter di atas permukaan laut tersebut. Dan angka tersebut bisa jadi dianggap remeh bagi sebagian orang, jika dibandingkan dengan ketinggian gunung-gunung lainnya di Indonesia yang rata-rata berada diatas angka 1000, 2000, bahkan 3000 meter.

Sekitar pukul tiga sore, saya dan Miz , adik saya, sudah siap dengan segala barang bawaan dan bekal kami. Makanan, minuman, kantong tidur, matras, tapi tanpa tenda. Cukup nekat memang. Namun kami berharap cuaca akan bersahabat hingga kami turun gunung esok hari. Setelah menyeberang dengan perahu ketinting sekitar 5 menit, kami sampai di titik awal jalur pendakian gunung api yang terakhir meletus pada Mei 1988 silam.
Menuju Pulau Gunung Api
Ini menjadi pengalaman pertama saya mendaki gunung api yang masih termasuk kategori aktif. Juga menjadi pengalaman pertama memulai pendakian dari titik nol meter dari permukaan laut. Treknya yang terus menanjak membuat nafas saya memburu tidak teratur. Belum lagi kondisi jalurnya yang dipenuhi batuan lepas dan kerikil akibat letusan, menyebabkan langkah saya sering terperosok turun. Beberapa kali bahkan saya sedikit merayap agar bisa tetap stabil pada medan yang cukup curam itu. Untungnya ada banyak ranting dan akar tanaman yang bisa menjadi pegangan. Ah, sepertinya akan butuh waktu lama hingga kami sampai di puncak.

Benar saja, waktu dua jam lebih kami tempuh sampai akhirnya bisa berada di ketinggian 666 meter di atas permukaan laut ini. Di puncak, tidak ada satu pun pepohonan. Hanya tanah berbatu dan dua cekungan kecil yang sesekali mengeluarkan uap belerang menyambut kami. Di sebelah barat, jurang yang dalam akibat aliran lahar menganga lebar. Angin dingin dan kabut tipis mulai menyergap, namun semburat senja dari ufuk barat dan tanah yang saya pegang seakan memberi kehangatan tersendiri.
Selfie bareng Miz
Kondisi di Puncak
DATIES was here! :)
Hari mulai gelap. Tidak ada pendaki di puncak kecuali kami. Segera kami menentukan lokasi yang cukup aman untuk bermalam, menyusun bebatuan untuk sekadar menghalau angin, menjamak shalat maghrib dan isya, kemudian beralih membuka bekal makanan sambil mengobrol. Miz bilang, “jangan-jangan baru kita berdua yang pernah shalat maghrib disini.” Saya tertawa. Entahlah, tapi mungkin saja. Tak ada yang bisa kami lakukan lagi setelah itu. Kemudian saya membuka lebar satu kantong tidur yang kami pakai sebagai selimut nantinya, memilih beristirahat dan berharap malam itu tidak hujan serta masih bisa bertemu pagi esok hari.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba ada yang merintik basah pada kantong tidur kami. Ah,  gerimis! Saya mulai cemas. Bahan kantong tidur kami memang anti-air, tapi kalau hujan menderas tentulah kami akan kuyup. Sambil terus memperbaiki posisi tidur agar tertutupi sempurna, saya dan Miz membuat kesepakatan: jika cuaca memburuk, kami turun gunung malam itu juga. Deal! Sisa malam itu saya habiskan dengan merapal doa penuh harap cemas, menunggu fajar tiba.
Puas itu kalo udah ngerasain yang beneran!
Allah Memang Maha Baik! Kami masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya subuh di puncak. Dingin, sudah pasti. Namun menjadi kesyukuran tersendiri, khususnya bagi saya, setelah semalaman tidur dalam kegelisahan. Kemudian saya memilih duduk mengarah ufuk timur, menunggu cahaya pertama yang akan muncul dari balik awan. Menikmati kabut yang bergerak-gerak, menyesapi udara dalam-dalam. Saya menemukan bahagia dari atas sini.

Barangkali benar kata seorang anonim: bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat, lalu meneruskan perjalanan.

1 komentar: