30 Oktober 2014

Tentang Dhuha

Morning (photo by clk7)
Hari ini memang tanggal merah. Tapi perburuan menuju surga, tak mengenal libur. Bahkan kau disuruh tetap berlari ketika yang lainnya enak menikmati dunia. Kau diperintah bekerja saat selainnya sedang santai berongkangkaki sembari menyeruput minuman nikmat di teras rumahnya. Kau juga akan tetap dianjurkan untuk terbangun, ketika orang lain lelap dalam tidur lalainya. Itu teramat susah. Tapi surga, memang tak diberikan secara gratisan.

Tanggal merah koq tetap bekerja? Apakah dunia begitu melenakanmu? Belum cukupkah karunia yang Dia berikan? Apakah kau bekerja sebagai wujud syukur atas potensi yang diberikanNya? Atau sebagai perlombaan lantaran gengsi? Karena teman sekelasmu dulu sudah punya mobil? Karena teman kuliahmu dulu sudah bolak-balik tour ke luar negeri? Atau karena tetanggamu yang baru saja membeli mobil keluaran terbaru berharga milyaran itu?

Siang semakin menjelang. Mentari sudah mulai naik. Panasnya kian terasa. Hangat yang menghidupkan. Tapi kau masih sibuk dengan kerja duniamu?

Apakah kau lupa bahwa waktu ini dinamai Dhuha? Ada berkah di dalamnya. Ada pahala melimpah bagi siapa yang mau. Ada rejeki bagi siapa yang dikehendakiNya. Tidakkah kau berlomba untuk merayuNya?

Tak ingatkah kau? Dalam Dhuha, terletak sunnah shalat. Dua, empat, enam, delapan, sepuluh atau dua belas. Dua saja, kau akan dilepaskan dari predikat orang yang lalai. Jika empat, kau akan dimasukkan ke dalam kelompok ahli ibadah. Andai bisa enam, maka akan dicukupi semua kebutuhanmu hari ini. Jika kuasa, dan kau bisa menjalankannya dua belas, maka janjiNya bahwa dirimu akan diberi rumah kelak di surgaNya. Apakah rumah di sini lebih kau sukai dibanding rumah abadi di sana kelak?

Diluar itu semua, para ahli Dhuha tak akan pernah merasa miskin. Kebanyakan mereka adalah yang banyak hartanya. Berkah pula, insyaa Allah. Jikapun ternyata kau tak dikarunia banyak harta, bukankah ibadah itu merupakan kekayaan tersendiri? Bukankah dua matamu, jika dijual, akan laku milyaran rupiah? Maukah? Atau misalnya, kau potong lima jarimu, kemudian melelangnya, yakinlah kalau akan banyak uang yang kau terima jika lakukan itu. Atau kau gadaikan nikmat kedipmu dalam sehari ini saja, berapa harta yang akan kau peroleh? Jika tidak, kumpulkan oksigen jatah nafasmu hari ini, lalu iklankanlah. Mungkin ada puluhan juta yang bisa kau kantongi.

Dhuha itu syukur. Terima kasih atas semua nikmat yang Dia limpahkan. Bukankah seluruh tulangmu terdiri dari ruas-ruas yang jumlahnya sekitar tiga ratus enam puluh? Nah, masing-masing mereka ada hak syukurnya, karena semuanya ciptaan Allah.Mampukah kau bersyukur untuk semua ruas tulang itu?

Jika tak mampu, maka lakukan Dhuha dengan sepenuh cinta. Karena Dhuha-mu, sudah cukup sebagai perlambang syukurmu untuk semua nikmat itu.

Andai begitu saja tak mampu, masihkan kita mengaku-ngaku sebagai hambaNya, sementara perintahNya kita ingkari dengan kemalasan?
***
repost dari grup WA. semoga bisa jadi pengingat bagi semua.

6 komentar:

  1. Assalamu'alaykum temannya kak Adi... hehe... aduh blog ta' kak romantis sekaliii :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam istrinya Adi, hehe :D

      Masa sih? Pengaruh backsound aja kali :))

      Hapus
  2. Hidup di zaman yang serba terburu-buru... Dan sebaik-baik penegur ketergesaan, salah satunya adalah Dhuha..

    BalasHapus