4 Oktober 2014

together


~I don't even need the world, as long as you're with me~

***
Ini tentang Fath dan Qin, keduanya hanya nama samaran. Qin adalah teman saya. Sedangkan Fath, saya mengenalnya dari Qin. Setahu saya, mereka berteman sudah cukup lama. 

Suatu pagi selepas dhuha, Qin menumpahkan keresahan hatinya pada saya. Matanya agak berair. Saya yakin dia baru selesai menangis. Tapi tentang apa, saya tidak tahu sampai Qin menceritakannya sendiri kepada saya.

"Yu, tiap selesai shalat saya selalu berdoa. Semoga Allah menguatkan hati saya diatas agama dan ketaatan padaNya. Tapi kadang saya takut Allah tidak mendengar doa saya. Bisa saja Dia, atau sebenarnya saya,  yang justru mencondongkan hati kepada selainNya, kepada makhlukNya. Saya tidak pernah mau dipalingkan." Qin terus bercerita, sambil sesekali menyeka air mata.

Sampai disini, saya sebatas tahu bahwa Qin sedang takut. Itu saja. Tapi jujur saya masih belum mengerti mau dibawa kemana arah pembicaraan kami ini.

"Apa ini tentang perasaanmu pada seseorang?" Saya akhirnya bertanya demi menghilangkan kebingungan.

Qin diam. Mungkin dia pun bingung harus menjawab apa. Tapi kemudian dia menyodorkan handphone-nya kepada saya. Dibukalah menu pesan, lalu muncul obrolan panjangnya bersama Fath. Ah, rupanya dia! Saya menahan senyum, sambil membaca. Sampai pada kalimat:
Saya mungkin tidak pandai berkata-kata, dan juga barangkali gagal dalam mengurai perasaan padamu. Tapi yakinlah saya akan mendatangimu, hidup bersamamu, sesuai tuntunan halal. Saya merindukanmu, pun tersiksa dengan perasaan saya sendiri. Semoga ada jalan untuk bertemu. Mari kita berdua berdoa.
Saya tidak lagi bisa menahan tawa. "Ooh, jadi gara-gara ini? Semoga berlabuh ya." Saya terus terbahak sambil menepuk bahu Qin.

Dia merengek tidak jelas, sikap manjanya mulai kambuh. "Yu...saya takut!"

"Takut apa? Takut dia benar-benar mendatangimu?" Saya kembali tertawa.

"Bukan. Saya hanya takut disukai terlalu dalam."
***
Saya paham perasaan Qin.
Apa jadinya jika rasa cinta sudah membutakan hati manusia,
lalu memalingkan kita dari Sang Maha Cinta?
Itu yang dia takutkan.
Saya juga. 

4 komentar:

  1. it's like reminder for me eonni, gomawo :')
    tapi agk bingung dengn isi dari paragraf ketiga kak.. seprtinya ada yang terlewatkan atau kurang, di klimat ini : "Tapi kadang saya takut Allah tidak mendengar doa saya. Bisa saja Dia, atau sebenarnya saya, yang justru mencondongkan hati kepada selainNya, kepada makhlukNya." Dia, yang dimksdkan di paragraf ini siapa?.. hehe

    BalasHapus
  2. kalimat terakhir --> mengingatkan semua :D

    BalasHapus
  3. hmmmmm..baca ini jd ingat sesuatu :3

    BalasHapus
  4. Hmm...semua jadi ingat-ingat apa yaa :p

    BalasHapus